Petrokimia Gresik Genjot Hilirisasi Produksi untuk Perkuat Struktur Industri

1. Direktur Pemasaran Petrokimia Gresik Digna Jatiningsih (kiri) beserta staf saat meninjau kapal yang memuat Pupuk Urea di Pelabuhan Petrokimia Gresik menuju Meksiko. - Istimewa / Petrokimia Gresik
15 Agustus 2020 05:57 WIB Ilman A. Sudarwan News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – PT Petrokimia Gresik, anak usaha Holding PT Pupuk Indonesia menggencarkan hilirisasi produksi untuk mendukung program pemerintah dalam menopang ketahanan pangan dan memperkuat struktur industri manufaktur.

Direktur Utama Petrokimia Gresik Rahmad Pribadi strategi utama yang dilakukan perseroan adalah dengan melakukan diferensiasi usaha. Upaya itu dilakukan lewat hilirisasi produk untuk mendukung industri manufaktur dalam negeri, terutama yang dilakukan oleh perusahaan BUMN.

Rahmad menuturkan bahwa strategi ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang saat ini tengah fokus menumbuh kembangkan sektor industri manufaktur sebagai salah satu motor penggerak ekonomi nasional.

BACA JUGA : Harga Gas Bumi Turun, Petrokimia Gresik Optimistis Hadapi

“Dalam hal ini, Petrokimia Gresik memasok Aluminium Flouride [AlF3] dan Purified Gypsum kepada sejumlah perusahaan BUMN. Produk ini merupakan hasil samping [by product] dari proses produksi Asam Fosfat [bahan baku pupuk],” ujarnya melalui siaran pers, Jumat (14/8/2020).

Rahmad menuturkan bahwa AlF3 digunakan oleh PT Asahan Aluminium Indonesia (Persero) atau Inalum sebagai bahan penolong untuk industri peleburan almunium. Sementara itu, Purified Gypsum digunakan sebagai bahan baku oleh industri semen, yaitu PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. dan PT Semen Baturaja (Persero) Tbk.

Saat ini, Petrokimia Gresik memiliki kapasitas produksi AlF3 sebesar 12.600 ton per tahun. Dari jumlah tersebut, pada tahun ini, sekitar 5.000 ton diantaranya dijual kepada Inalum. Selebihnya, akan dipasarkan ke sejumlah negara seperti India, Jepang, Amerika Serikat, dan sejumlah negara di Timur Tengah.

“Ke depan, Petrokimia Gresik akan meningkatkan kapasitasnya menjadi dua kali lipat karena potensi pasarnya masih sangat prospektif,” ujar Rahmad, optimis.

Untuk Purified Gypsum, perseroan saat ini memiliki kapasitas produksi sebesar 1,5 juta ton per tahun. Pada tahun 2020, sebesar 750 ribu ton diantaranya akan dimanfaatkan untuk mendukung industri Semen Indonesia Group (Semen Tonasa, Semen Gresik, dan Solusi Bangun Indonesia), serta sekitar 80 ribu ton untuk mendukung produksi PT Semen Baturaja.

BACA JUGA : Petrokimia Kehilangan Potensi Pendapatan Ratusan Miliar 

“Dengan demikian, diferensiasi usaha yang kami lakukan tidak hanya pada produk pupuk saja, melainkan juga pada produk non-pupuk, salah satunya adalah bahan kimia,” ujar Rahmad.

Tak hanya sampai disitu, dukungan Petrokimia Gresik terhadap industri manufaktur dalam negeri yang saat ini masih pada tahap perencanaan dan pengembangan dalam program transformasi binis adalah produk Methyl Ester Sulfonate (MES) dan Soda Ash.

Rahmad menjelaskan bahwa MES adalah produk baru yang dikembangkan bekerjasama dengan Surfactant Bioenergy Research Centre Institut Pertanian Bogor (SBRC IPB). MES adalah bio-degradable surfactant yang dapat digunakan di sektor migas untuk meningkatkan produksi lapangan minyak tua melalui teknologi EOR (Enhanced Oil Recovery).

“Ini merupakan terobosan penting yang sangat ditunggu dan diharapkan oleh pelaku industri minyak dan gas di Indonesia,” tuturnya.

Selanjutnya, Petrokimia Gresik juga akan membangun pabrik Soda Ash dengan kapasitas 300.000 ton. Pabrik ini nantinya akan menjadi yang pertama di Indonesia, dan akan menjadi penopang penting dalam mendukung tumbuh kembangnya industri kaca dan deterjen dalam negeri.

“Melalui program hilirisasi produk ini, harapannya Petrokimia Gresik semakin mampu melaksanakan tugas pokok sebagai penopang ketahanan pangan nasional sekaligus memperkuat struktur industri manufaktur nasional,” katanya. 

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia