Pakar dari Maryland Prediksi Covid-19 Tewaskan 12.000 Orang di Indonesia

Mutiara Nabila
Mutiara Nabila Senin, 10 Agustus 2020 11:27 WIB
Pakar dari Maryland Prediksi Covid-19 Tewaskan 12.000 Orang di Indonesia

Poster tips bekerja aman dari penularan virus corona/Instagram @kemenkes_ri

Harianjogja.com, JAKARTA – Angka kematian karena  infeksi Virus Corona penyebab Covid-19 di Indonesia diprediksi menembus 12.000 orang per 1 November 2020, jika tidak ada perubahan penanganan oleh pemerintah.

Chief of Infectious Diseases di University of Maryland Upper Chesapeake Health, Faheem Younus mengatakan bahwa kondisi dan proyeksi penyebaran Virus Corona di Indonesia tidak baik.

Dia menyarankan untuk memperbanyak tes, tracing, dan isolasi sebelum kasus Covid-19 makin parah.

BACA JUGA : Ada 92 Warga DIY yang Diduga Meninggal Akibat Corona

“Per 8 Agustus 2020 kasus kematian di Indonesia sudah mencapai 5.593 kasus. Diprediksi pada 1 November 2020 angkanya bisa mencapai 12.056 kasus,” tulisnya melalui akun twitternya @FaheemYounus, Minggu (9/8/2020).

Menurut penelitiannya, apabila sampai September pemerintah tidak melakukan perubahan terhadap aturan-aturan untuk menangani Covid-19, total kasus bisa mencapai 640.000 orang, dan kematiannya bisa mencapai 23.000 orang.

“Angka kasus per sejuta penduduk bisa sekitar 2.339 orang dan kematiannya bisa 85 orang per sejuta penduduk. Jakarta sudah mencapai angka tersebut per sejuta penduduk,” kata dia.

Menurutnya, angka kasus dan jumlah kematian di Jakarta lebih tinggi karena jumlah tesnya yang juga jauh lebih besar dibandingkan dengan di wilayah lainnya. Angka kasus di DKI Jakarta juga sudah menyamai angka kematian global dengan jumlah 85 orang per sejuta penduduk.

Berdasarkan jumlah kasus Covid-19 di Indonesia, per 9 Agustus 2020, tambahan kasus 1.893 orang, dengan jumlah pasien sembuh bertambah 1.646 orang, meninggal 65 orang.

Kasus tertinggi tercatat di DKI Jakarta dengan tambahan 440 kasus baru, 558 kasus sembuh, dan 6 meninggal.

Adapun, jumlah tes Virus Corona di Jakarta memang memiliki pangsa paling besar di Indonesia, mencapai 22 persen dari 21.819 tes yang dilakukan atau sebanyak 4.827 spesimen.

Sementara itu, positivity rate di Indonesia saat ini masih jauh dari rekomendasi WHO sebesar 5 persen. Indonesia mencatat positivity ratenya setinggi 12,9 persen. Sementara itu di DKI Jakarta positivity ratenya 5,6 persen.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online