Kecamatan Gamping dan Depok Masih Zona Oranye Covid-19, Cangkringan Tetap Hijau, Lainnya Kuning

Ilustrasi. - Freepik
15 Juli 2020 11:27 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, SLEMAN - Berdasarkan peta epidemiologi yang dikeluarkan Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman pada 11 Juli 2020, saat ini tinggal dua kecamatan di wilayah setempat yang berstatus zona oranye Covid-19.

"Dinas Kesehatan [Dinkes] Kabupaten Sleman kembali menerbitkan peta epidemiologi Covid-19 per wilayah kecamatan se-Kabupaten Sleman pada 11 Juli 2020, dari peta tersebut saat ini tinggal dua kecamatan yang berstatus zona oranye," kata Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Sleman Shavitri Nurmaladewi di Sleman, Rabu (15/7/2020). 

Menurut dia, dari 17 Kecamatan di Kabupaten Sleman, hanya tersisa dua kecamatan saja yang masih dalam zona oranye, yaitu Kecamatan Gamping dan Kecamatan Depok.

"Kecamatan Godean dan Kecamatan Sleman yang sebelumnya masuk kriteria zona oranye berdasarkan data per 4 Juli 2020, sekarang telah menjadi zona kuning dalam data per 11 Juli 2020," katanya.

Ia mengatakan, kecamatan lainnya tetap zona kuning, kecuali Kecamatan Cangkringan yang berstatus zona hijau.

"Kecamatan Cangkringan menjadi satu-satunya Kecamatan di Kabupaten Sleman yang sejak awal merupakan zona hijau," katanya.

Shavitri mengatakan, dengan grafik perkembangan yang baik tersebut, diharapkan masyarakat tetap disiplin dalam mematuhi protokol kesehatan Covid-19 sehingga Sleman bisa cepat bebas dari Covid-19.

"Mari pertahankan dan bersama-sama mewujudkan Sleman bebas Covid-19 dengan selalu disiplin mematuhi protokol kesehatan," katanya.

Ia mengatakan, protokol kesehatan yang tetap wajib dilakukan masyarakat yakni cuci tangan dengan sabun dan air mengalir selama 20 detik, selalu pakai masker dan jaga jarak minimal 1,5 meter.

"Peta epidemiologi bersifat dinamis menyesuaikan perkembangan kasus Covid-19, berdasarkan hasil surveilans penyakit menular oleh Tim Gerak Cepat (TGC) Dinkes Sleman," katanya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman Joko Hastaryo mengatakan, zona merah ditetapkan bagi kecamatan di mana terjadi transmisi lokal dalam sebulan terakhir.

"Status zona merah di suatu wilayah bisa turun menjadi oranye jika dari kasus terakhir di generasi tersebut tidak menularkan ke generasi berikutnya," katanya.

Menurut dia, transmisi lokal terjadi jika ditemukan penularan dari generasi kedua ke generasi ketiga.

"Sesuai dengan Perpu (Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang) bahwa transmisi lokal jika (penularan) dari generasi 2 ke generasi 3 yang secara epidemiologi bisa dibuktikan," katanya.

Joko Hastaryo mengatakan jika tidak adanya zona merah di Sleman sudah ditetapkan berdasarkan kajian epidemiologi. Meskpun beberapa hari terakhir di Sleman ditemukan kasus positif baru dari pelaku perjalanan dari area terdampak (PPAT).

"Secara definisi, suatu wilayah disebut zona merah jika terjadi tingkat risiko penularan yang tinggi," katanya.

Ia mengatakan, dalam hal ini, kalau terdapat kasus penularan setempat atau transmisi lokal dalam sebulan terakhir maka wilayah tersebut masuk kawasan zona merah.

"Di Sleman dalam satu bulan terakhir ini tidak ada transmisi lokal, kasus baru merupakan pelaku perjalanan. Apabila dalam satu bulan terakhir terdapat penularan setempat di suatu wilayah maka status zonasinya juga bisa berubah," katanya.

Peta epidemiologi tersebut, kata dia, bersifat dinamis sesuai dengan perkembangan kasus Covid-19.

Sebelumnya, peta ini juga telah diterbitkan pada 4 Juni 2020, 20 Juni 2020, 28 Juni 2020, dan 4 Juli 2020.

Sumber : Antara