Disebut Drama karena Sembah Kaki Dokter dan Menangis, Ini Jawaban Wali Kota Tri Rismaharini

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. - Suara.com/Arry
03 Juli 2020 20:57 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, SURABAYA--Aksi Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini menangis bersujud di hadapan dokter beberapa waktu lalu banyak dinilai sebagai drama.

Risma pun memberi tanggapan soal dirinya yang sujud di hadapan dokter dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Ia menolak tudingan yang menyebut bahwa aksi sujud yang dilakukannya bertujuan untuk menarik simpati dan sensasional.

Pernyataan itu disampaikan oleh Risma saat mencari pembicara dalam acara Rosi bertajuk 'Ada Apa dengan Risma' yang tayang di KompasTV, Kamis (2/7/2020). Dalam acara tersebut, Wali Kota Risma mengaku nekat melakukan sujud karena ia tak terima stafnya yang disalahkan.

"Kalau ada yang mengatakan 'bu Risma lebay', terserahlah. Saya hanya tidak mau staf saya disalahkan," kata Risma dikutip dari channel YouTube KompasTV, Jumat (3/7/2020).

Risma menganggap dirinya adalah jenderal perang melawan Covid-19 di Surabaya, sehingga ia merasa bertanggungjawab atas apa yang terjadi. Ia tak terima bila stafnya disalahkan oleh salah seorang dokter lantaran dinilai tidak mampu berkomunikasi dengan baik.

"Bagi saya, saya adalah jenderal perangnya di Surabaya. Saya lah yang bertanggung jawab, bukan staf saya,” tuturnya.

Risma menegaskan, selama ini ia hanya memikirkan kesehatan warganya. Namun, jika sampai ada tudingan ia nekat sujud di hadapan dokter sebagai bagian dari drama, Risma pasrah.

"Tuhan Maha Tahu dan Mengerti apakah saya bohong atau tidak. Apa yang ada di dalam pikiran saya adalah warga saya yang sakit," ungkapnya.

Sebelumnya diberitakan, Risma menyembah kaki seorang dokter paru senior RSUD Dr Soetomo bernama dr. Sudarsono. Sambil sujud, Risma menangis menyampaikan permohonan maaf karena banyaknya pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit itu hingga menyebabkan rumah sakit kelebihan kapasitas.

Dalam audiensi dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Perhimpunan Ruah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) Jawa Timur di Balai Kota Surabaya itu, Risma mengaku Pemkot Surabaya tidak memiliki akses untuk berkomunikasi dengan RSUD dr Soetomo yang berada di bawah kewenangan Pemprov Jatim.

Suasana audiensi berubah menjadi tegang saat dr. Sudarsono mengeluhkan banyak rumah sakit penuh dan banyak warga Surabaya tidak menaati protokol kesehatan.

Risma juga mengaku telah mengerahkan semua camat dan lurah, dirinya juga menyebut bahwa kampung tangguh di Kota Surabaya berhasil. Namun justru warga rumah elit yang kini banyak positif Covid-19.

Diskusi tiba-tiba terhenti begitu Risma beranjak dari tempat duduknya menghampiri Sudarsono dan bersujud di kakinya.

Sumber : Suara.com