Sri Mulyani Serukan Solidaritas Global di Tengah Pandemi

Menteri Keuangan Sri Mulyani (kanan) bersama dengan Direktur Jenderal Pajak (DJP) Suryo Utomo (kiri) menjawab pertanyaan wartawan usai melakukan pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan di Kantor DJP, Jakarta, Selasa (10/3/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
03 Juli 2020 09:27 WIB Maria Elena News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyerukan solidaritas dan aksi global untuk penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi.

Aksi solidaritas global tersebut meliputi pembiayaan yang mendukung negara-negara berpendapatan rendah, reformasi kebijakan khususnya di bidang kesehatan, pendidikan, dan jaring pengaman sosial, serta peningkatan investasi di bidang teknologi informasi dan infrastruktur digital.

Sri Mulyani mengatakan pandemi Covid-19 telah mempengaruhi tiga unsur dari pilar 5P Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu people (manusia), prosperity (kemakmuran), dan partnership (kemitraan), yang menghambat tercapainya target SDGs.

BACA JUGA : Sri Mulyani Sebut Covid-19 Jadi Peluang Lakukan Reformasi

Pandemi juga telah mengakibatkan mundurnya progres yang sudah dicapai oleh banyak negara di dunia.

“Karena pandemi ini, kita akan kehilangan progres yang sudah dicapai dalam sekian tahun terakhir. Di Indonesia misalnya, kami harus mundur sekitar 5 tahun terkait poverty reduction karena pandemi 6 bulan ini," katanya dalam keterangan resmi, Kamis (2/7/2020).

Menurut Sri Mulyani, salah satu isu global terpenting dalam menangani krisis kesehatan dan ekonomi akibat Covid-19 adalah bagaimana negara-negara di dunia mendapatkan pembiayaan yang diperlukan.

Dia mengapresiasi lembaga pembangunan multilateral dan bilateral yang cukup sigap dalam memberikan bantuan bagi negara-negara miskin dan berkembang.

“Namun hal tersebut belum cukup, dan emerging markets harus mencari pembiayaan dari pasar melalui penerbitan bond. Namun, masalahnya dengan situasi pasar keuangan yang bergejolak, investor meminta imbal hasil yang lebih tinggi. Hal ini tentu menimbulkan tambahan beban, padahal mereka membutuhkan pembiayaan untuk penyelesaian Covid-19,” jelasnya.

BACA JUGA : Sri Mulyani Beberkan Dilema Anggaran Covid-19 dan Trauma

Selain itu, Sri Mulyani juga menekankan bahwa krisis ini menjadi peringatan bagi semua negara untuk dapat melakukan perbaikan sistem, khususnya di bidang kesehatan, pendidikan, maupun jaring pengaman sosial.

“Sehingga nanti, belanja yang dilakukan kualitasnya harus lebih baik. Desain kebijakannya pasti sulit dan menantang, tetapi kita harus mencoba yang terbaik,” tambah Menkeu.

Dalam penutupnya Sri Mulyani juga menekankan penting peran leadership dalam penanganan pandemi Covid-19, baik dalam masa penanganan krisis maupun dalam tahap pemulihannya nanti.

"Pertanyaan penting yang perlu dijawab oleh para ekonom dan para ahli adalah bagaimana komunitas global secara bersama-sama dapat secara efektif melakukan langkah-langkah penanganan pandemik dan pemulihan dampaknya," katanya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia