WHO Serukan Produksi Dexamethasone untuk Tangani Pasien Kritis Covid-19

Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menjelaskan tentang obat dexamethasone pada awal media breafing. Video: Youtube Wrold Health Organozation (WHO)
23 Juni 2020 10:27 WIB John Andhi Oktaveri News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyerukan untuk mempercepat produksi dexamethasone, steroid murah yang telah terbukti mengurangi kematian pada pasien virus corona yang sakit parah.

Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan permintaan atas obat jenis steroid itu meningkat setelah uji coba obat itu di Inggris dipublikasikan. Dia yakin produksinya dapat ditingkatkan.

Sekitar 2.000 pasien diberi obat oleh para peneliti yang dipimpin oleh tim dari Oxford Unversity dan dari hasil penelitian, angka kematian bisa ditekan hingga 35 persen di antara pasien yang paling parah, menurut temuan yang diterbitkan pekan lalu.

BACA JUGA : Ini Pesan WHO Terkait Penggunaan Dexamethasone

"Meskipun data masih awal, temuan baru-baru ini bahwa steroid dexsamethasone memiliki potensi penyelamatan jiwa bagi pasien Covid-19 yang sakit kritis memberi kami alasan yang sangat dibutuhkan untuk mendukungnya," ujar Tedros pada konferensi pers virtual di Jenewa seperti dikutip ChannelNewsAsia.com, Selasa (23/6/2020).

"Tantangan selanjutnya adalah meningkatkan produksi dan mendistribusikan dexamethasone secara cepat dan merata ke seluruh dunia, dengan fokus pada tempat yang paling dibutuhkan," ujarnya.

Dexamethasone telah ada di pasaran selama lebih dari 60 tahun dan biasanya berfungsi untuk mengurangi peradangan.

BACA JUGA : Pasien Positif Covid-19 di Sleman Kini Tembus 36 Orang 

"Tidak ada bukti bahwa obat itu bekerja untuk pasien dengan penyakit ringan atau sebagai tindakan pencegahan, dan itu dapat menyebabkan bahaya," kata Tedros memperingatkan.

Bos badan kesehatan PBB itu menegaskan bahwa negara-negara dengan jumlah pasien virus corona yang lebih banyak dan kritis perlu diprioritaskan.

Akan tetapi Tedros memperingatkan bahwa pemasok harus menjamin kualitas, "karena ada risiko tinggi produk di bawah standar atau dipalsukan."

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia