Sektor Ritel Harus Susun Strategi di Tengah Persiapan Pembukaan Mal

Pengunjung berada di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, Minggu (15/3/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
11 Juni 2020 12:47 WIB Ilham Budhiman News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Jelang dibukanya pusat perbelanjaan di DKI Jakarta pada 15 Juni 2020, subsektor ritel dinilai perlu menyiapkan strategi supaya masa pemulihan di pasar tersebut diharapkan tidak terlalu lama.

Senior Associate Director Retail Service Colliers International Indonesia Sander Halsema mengatakan bahwa pembukaan mal pada 15 Juni pada masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi bisa menjadi angin segar di subsektor ritel.

Tutupnya pusat perbelanjaan selama kurang lebih tiga bulan akibat virus corona jenis baru atau Covid-19 membuat pasar ritel tersendat. Meskipun begitu, Sander menyatakan bahwa pasar ritel diproyeksikan pulih relatif cepat.

"Ritel memiliki waktu yang sangat sulit, tetapi sekarang akan agak pulih. Terutama di sektor food and beverage. Saya mengharapkan pemulihan yang relatif cepat," katanya pada Bisnis.com, Rabu (10/6/2020) malam.

Hanya saja, dia menyatakan bahwa pemulihan tersebut tergantung dari jenis dan penerapan strategi, misalnya, terus menggenjot pemasaran secara daring. Adapun, pada beberapa jenis ritel dia memprediksi pemulihan kemungkinan bakal terjadi lebih cepat. 

"Penting bagi peritel untuk terus mengembangkan strategi omnichannel sehingga ketika bencana seperti ini terjadi lagi, pengecer dapat lebih baik menyerap kerugian toko fisik dengan saluran online," tuturnya.

Sementara itu, dari sisi pasokan, pada kuartal I/2020, Colliers International Indonesia mencatat seharusnya ada tambahan ruang ritel sebanyak sekitar 28.000 meter persegi. 

Riset Colliers juga mencatat bahwa pada kuartal pertama itu ada 11 mal baru yang harusnya dibuka dan mulai beroperasi pada awal 2020. Tujuh di antaranya berlokasi di luar Jakarta.

Pengelola mal sebelumnya menyatakan bahwa dengan dibukanya pusat belanja atau mal pada masa PSBB transisi tersebut dinilai tidak serta-merta menggairahkan subsektor ritel.

"Saya pikir konservatifnya, perlu waktu bertahap untuk pulih seiring dengan tahapan transisi yang diatur pemerintah seperti dining in [makan di tempat] yang baru boleh 50 persen dari kapasitas," ujar Sekretaris Perusahaan PT Pakuwon Jati Tbk. Minarto Basuki pada Bisnis.

Adanya aturan kapasitas pengunjung mal 50 persen juga turut berpengaruh. Meski demikian, Minarto mengatakan bahwa Pakuwon Jati selaku pengelola mal Gandaria City dan Kota Kasablanka berharap terjadi pemulihan yang lebih cepat dari yang diharapkan.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia