WHO: Penyebaran Corona dari OTG Jarang Terjadi

WHO
10 Juni 2020 11:47 WIB Syaiful Millah News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – World Health Organization (WHO) meragukan asumsi bahwa infeksi cepat virus corona baru atau Covid-19 didorong oleh penyebaran dari orang atau pasien tanpa gejala.

Bukti dari wabah virus sebelumnya menunjukkan bahwa orang yang tidak memiliki gejala atau belum memilikinya (pra-gejala) merupakan sumber infeksi yang penting dari penularan ke orang lain.

Akan tetapi WHO mengatakan bahwa Covid-19 tidak termasuk dalam jenis penyebaran yang demikian. Penyebaran melalui orang tanpa gejala bukan metode utama penularan infeksi dalam kasus ini.

“Dari data yang kami miliki, tampaknya masih belum ada bukti kuat bahwa orang tanpa gejala benar-benar mentransmisikan virus ke individu-individu lain. Hal itu sangat jarang,” kata Maria Van Kerkhove, Head of Diseases and Zoonosis Unit WHO seperti dikutip Metro, Rabu (10/6).

Dia menambahkan bahwa pemerintah harus melakukan upaya yang ketat dalam proses pengujian dan mengisolasi orang dengan gejala serta melacak siapa pun yang mungkin telah melakukan kontak dengan pasien.

Kerkhove mengakui temuan beberapa penelitian memang menunjukkan bahwa virus telah ditransfer dalam lingkup rumah tangga dan rumah perawatan oleh orang yang tanpa gejala atau belum terlihat gejalanya.

Namun, dia menyatakan bahwa perlu dilakukan lebih banyak penelitian untuk benar-benar menjawab pertanyaan apakah betul virus corona dapat menyebar secara luas melalui cara itu.

“Kami memiliki sejumlah laporan dari negara-negara yang melakukan penelusuran kontak yang sangat rinci. Mereka mengikuti laporan dan kasus dari orang tanpa gejala dan mereka tidak menemukan transmisi sekunder. Itu sangat jarang terjadi,” imbuhnya.

Liam Smeeth, profesor epidemiologi klinis di London Scholl of Hygiene and Tropical Medicine mengatakan bahwa dirinya sangat terkejut dengan pengumuman WHO terkait sarana penyebaran virus dari orang tanpa gejala.

“Sejauh ini [data yang ditunjukkan WHO] bertentangan dengan kesan saya dari ilmu pengetahuan yang menunjukkan orang yang tidak bergejala adalah sumber infeksi penting terkait penyebaran virus ke orang lain,” tandasnya.

Dia mengatakan hal tersebut adalah dasar utama untuk langkah-langkah strategis seperti isolasi diri dan lockdown yang telah secara besar-besaran mengurangi jumlah orang yang terinfeksi dan mencegah jutaan kematian secara global.

Dia menambahkan bahwa memang masih ada ketidakpastian ilmiah, tetapi infeksi tanpa gejala bisa sekitar 30 persen hingga 50 persen dari kasus yang ada. Studi ilmiah terbaik saat ini menunjukkan bahwa hingga setengah dari kasus menjadi terinfeksi dari orang tanpa gejala atau pra-gejala.

Adapun Keith Neal, profesor epidemiologi penyakit menular dari University of Nottingham mengatakan seberapa besar peran dari transmisi asimptomatik dalam jumlah total infeksi masih belum jelas, tetapi orang yang bergejala bertanggung jawab atas sebagian besar infeksi baru Covid-19.

“Ini memperkuat pernyataan tentang pentingnya setiap orang yang memiliki gejala untuk mengikuti tes dan melakukan isolasi sampai mendapatkan hasil tesnya. Semua orang memiliki peran untuk menghentikan penyebaran Covid-19,” tandasnya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia