Fenomena Superspreading Ternyata Pemicu Utama Penyebaran Corona

Ilustrasi dokter akan menyuntikkan vaksin - istimewa
06 Juni 2020 00:37 WIB Syaiful Millah News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Fenomena penyebaran super (superspreading), di mana satu orang dapat menginfeksi sejumlah besar orang lainnya dilaporkan sebagai sarana utama penyebaran virus corona baru atau Covid-19 yang terjadi.

Sekelompok ahli epidemiologi di Hong Kong menemukan bahwa 20 persen dari kasus yang ada telah bertanggung jawab atas 80 persen penularan virus corona baru.

Para ilmuwan juga menemukan sekitar 70 persen orang yang terinfeksi virus corona tidak menularkannya kepada orang lain, dan bahwa semua semua peristiwa superspreading melibatkan pertemuan di dalam ruangan.

“Itulah gambaran yang kami miliki. Peristiwa penyebaran super cepat terjadi lebih dari yang diduga, lebih dari apa yang bisa dijelaskan secara kebetulan. Frekuensi superspreading melampaui apa yang bisa dibayangkan,” kata Ben Cowling, penulis penelitian seperti dikutip Business Insider, Jumat (5/6).

Cowling berharap informasi yang ditemukan ini dapat menjadi masukan bagi pembuat kebijakan untuk memberlakukan aturan yang tepat dalam menjaga masyarakat agar tetap aman.

“Sekarang kita tahu langkah-langkah mana yang mungkin memberi manfaat paling banyak. Jika kita bisa menghentikan superspreading terjadi, itu akan menguntungkan banyak orang,” imbuhnya.

Sejumlah kecil peristiwa superspreading bertanggung jawab atas sebagian besar transmisi.

Peristiwa penyebaran super di seluruh dunia telah menciptakan kelompok infeksi virus corona yang muncul hampir dalam satu malam. Buktinya, seorang pengunjung gereja di Korea Selatan telah menginfeksi 43 orang lainnya pada Februari lalu.

Contoh lain adalah seorang penyanyi yang telah menginfeksi 53 orang di sebuah tempat latihan paduan suara di Washington dan seorang pengacara yang menginfeksi lebih dari 100 orang lain di komunitasnya di New York.

Adapun berdasarkan penelitian yang dilakukan, Cowling dan rekan-rekannya memeriksa lebih dari 1.000 kasus vrus corona di Hong Kong antara 23 Januari hingga 28 April lalu. Mereka menemukan bahwa superspreading merupakan sebab utama penyebaran virus.

Sekitar 350 dari kasus yang dianalisis adalah hasil dari penyebaran lokal sementara sisanya diimpor dari negara lain. Dalam kasus penyebaran di tingkat komunitas, lebih dari setengahnya terhubung dengan enam peristiwa penyebaran super.

Istilah superspreader mengacu pada orang yang terinfeksi dan menularkan virus ke lebih banyak orang daripada biasanya. Nilai R0 virus mengacu pada jumlah rata-rata orang yang menginfeksi orang lain dalam kelompok. R0 dari virus corona sejauh ini dilaporkan berkisar antara 2 hingga 2,5.

Akan tetapi dalam kasus superspreading Hong Kong, peneliti menemukan bahwa satu orang menginfeksi setidaknya tiga kali lipat lebih banyak orang. Faktanya, 20 persen kasus telah menyebabkan 80 persen transmisi, sebagian besar terkait dengan kegiatan pernikahan, kegiatan di kuil, dan bar di kota Lan Kwai Fong.

Sisa 20 persen dari tranmisi lainnya adalah hasil dari 10 persen kasus yang lain, ketika pasien yang terinfeksi meneruskan virus ke satu atau paling banyak dua orang lainnya. Umumnya terjadi di lingkungan rumah tangga mereka.

“Paparan sosial menghasilkan jumlah kasus sekunder yang lebih besar dibandingkan dengan paparan keluarga atau pekerjaan,” kata peneliti.

The 80-20  Rule

Dalam sebuah artikel yang tayang di New York Times, Cowling mengatakan bahwa pengalaman yang terjadi di Hong Kong bukan tidak mungkin juga menggambarkan kondisi representatif yang lebih luas.

Sebuah penelitian yang dilakukan pada 2011 mendukung klaim tersebut. Penelitian itu menyatakan bahwa 20 persen dari populasi bertanggung jawab atas 80 persen penularan banyak penyakit, termasuk malaria. Ini dikenal dengan The 80-20  Rule.

Beberapa ilmuwan mengatakan bahwa rasionya bisa saja lebih kecil. Sebuah model dari para peneliti di London School of Hygiene and Tropical Medicine menyatakan bahwa 10 persen dari kasus virus corona telah menyumbang 80 persen transmisi global.

Penelitian pendahuluan yang meneliti lebih dari 200 kasus virus corona di Israe juga menemukan bahwa antara 1 persen hingga 10 persen kasus terkait dengan 80 persen kasus penularan. Studi lain dari Shenzhen, China juga menghasilkan kesimpulan serupa bahwa 8 persen hingga 9 persen kasus menyebabkan 80 persen transmisi virus.

Peristiwa superspreading terjadi di area tertutup yang ramai

Peristiwa penyebaran super virus corona telah menunjukkan  karakteristik utama, yakni melibatkan pertemuan dalam ruangan di mana banyak orang dari lokasi yang berbeda melakukan kontak fisik.

Misalnya acara di Arkansas, Amerika Serikat ketika seorang pendeta dan istrinya menghadiri acara gereja dan kelompok studi Alkibat beberapa hari sebelum mereka mengalami gejala. Dari 92 orang yang mereka hubungi, 35 orang di antaranya sakit, 7 orang dirawat, dan 3 orang meninggal.

Kantor dan restoran juga bisa menjadi tempat infeksi. Sebuah studi tentang wabah di pusat panggilan di Seoul, Korea Selatan menunjukkan bahwa hampir setengah dari karyawan di satu lantai terinfeksi, dan hampir semuanya duduk di bagian yang sama.

Dalam pengertian ini, bukan berarti individu tertentu lebih menular daripada orang pada umumnya. Sebagai gantinya, ada jenis kegiatan yang memberi akses ke lebih banyak orang di daerah yang kondusif untuk terjadinya penyebaran virus.

Sejumlah penelitian telah berulang kali menyatakan bahwa risiko penularan virus corona lebih tinggi terjadi di dalam ruangan yang memiliki ventilasi buruk dan di mana banyak orang bisa melakukan kontak fisik dengan bebas.

“Superspreading terjadi jika banyak orang di sekitar, jadi Anda harus sangat berhati-hati dengan pertemuan orang dengan jumlah banyak,” kata William Schaffner, ahli penyakit menular dari Vanderbilt University.

Membatasi pertemuan besar bisa menghindari penyebaran super virus corona

Cowling mengatakan bahwa temuan penelitiannya tersebut dapat menginformasikan tanggapan pihak berwenang terhadap gelombang infeksi di masa mendatang. Menurutnya, masyarakat akan berada dalam posisi yang jauh lebih baik untuk menghadapi gelombang kedua virus corona dengan pengetahuan ini.

Beberapa negara seperti Jepang dan Korea Selatan, telah menunjukkan bahwa negara bisa saja keluar dari pandemi tanpa secara dramatis membatasi pergerakan warga atau menutup, kantor, toko, restoran, dan sekolah.

Keberhasilan Jepang berasal dari kepatuhan warganya. Pemerintah mengatakan kepada orang-orang untuk menghindari ruang tertutup, tempat ramai, dan pengaturan kontak fisik – yang semuanya berkaitan dengan peristiwa penyebaran super.

Ke depan, Cowling berpendapat bahwa negara-negara lain dapat mengambil manfaat dari membuat aturan yang menargetkan sebagian besar sumber transmisi daripada menutup banyak tempat, yang berakibat pada perekonomian banyak warga.

Menurutnya, restoran dan bar juga mungkin saja mulai diperkenankan beroperasi tetapi dengan kapasitas 50 persen dari total sebelumnya, dengan meja dan kursi kosong di antara para pengunjung yang datang.

“Kita perlu mencari tahu berapa banyak orang per meter persegi yang aman untuk diterapkan. Pertemuan dan kegiatan keagamaan juga bisa berlangsung, tetapi dengan jumlah orang yang dikurangi,” imbuhnya.

Sumber : Bisnis.com