Para Pemimpin Teknologi Kesehatan Tidak Yakin Vaksin Corona Bakal Tersedia Tahun Depan

Ilustrasi - Antara/Ahmad Subaidi
02 Juni 2020 22:47 WIB Syaiful Millah News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Para pemimpin industri teknologi kesehatan tidak yakin vaksin virus corona baru penyebab Covid-19 akan tersedia pada 2021 mendatang.

Sikap pesimistis tersebut merupakan salah satu poin dari Healthcare Prognosis Report terbaru, sebuah survei tahunan dengan 300 orang dari industri teknologi kesehatan yang diterbitkan oleh perusahaan modal ventura bernama Venrock.

Venrock memutuskan untuk melakukan tiga survei selama 8 minggu untuk mendapatkan informasi yang akurat tentang bagaimana para pemimpin industri melihat pandemi corona dan untuk memetakan perspektif mereka.

Survei pertama dilakukan pada akhir Februari, tepat ketika kasus corona pertama ditemukan di Amerika Serikat. Survei kedua dilakukan 4 minggu setelahnya, ketika AS telah memiliki sekitar 1.500 korban jiwa akibat penyakit pandemi.

Pada survei kedua, hampir setengah dari responden juga percaya bahwa vaksin akan tersedia secara luas pada 2021. Akan tetapi, saat survei ketiga pada April lalu dilakukan, optimisme tentang ketersediaan vaksin ini berkurang.

Kendati ketika survei dilakukan sebanyak 90 kandidat vaksin sedang dalam pengembangan dan 7 di antaranya telah memasuki uji coba fase pertama, hanya 31 persen responden yang optimis vaksin akan tersedia dalam tenggat waktu serupa. Sisanya, 69 persen pesimistis.

Bryan Roberts, mitra di Venrock yang memiliki portofolio sejumlah perusahaan teknologi kesehatan seperti 10X Genomics, Devoted Health, Doctor on Demand, dan Lyra Health, mengatakan orang yang mengikuti survei melihat inovasi cepat untuk vaksin cukup sulit dilakukan.

“Saya pikir antara survei dua dan tiga menjadi jelas bahwa tidak ada silver bullet yang bisa diambil dan menjadi terapi yang luar biasa. Saya berpendapat hal yang sama berlaku juga untuk vaksin,” katanya seperti dikutip Fastcompany, Selasa (2/6/2020).

Mengingat tantangan biomedisnya, tidak ada jaminan juga bahwa kandidat vaksin akan berhasil. Sebuah studi menemukan bahwa selama rentang 20 tahun, rata-rata vaksin hanya memiliki 6 persen peluang untuk dipasarkan.

Misalnya, untuk penyakit HIV yang masih belum memiliki vaksin setelah 30 tahun menjadi penyakit yang populer di Amerika Serikat. Vaksinnya belum ditemukan kendati penyakit ini telah memiliki banyak perawatan penunjang.

Pengembangan bukan satu-satunya aspek rumit dari pembuatan vaksin yang dapat dipakai oleh banyak orang. Membangun fasilitas produksi vaksin juga membutuhkan waktu bertahun-tahun. Perusahaan yang sedang mengembangkan vaksin harus dengan cepat mendiskusikan bagaimana skala infrastruktur manufaktur untuk kandidat yang masih dalam tahap awal pengembangan.

Bahkan dengan garis waktu yang demikian, masih perlu waktu yang lama sebelum vaksin benar-benar tersedia untuk umum. Akan tetapi, saat ini berbagai perusahaan, filantropis, dan pemerintah terus berupaya meningkatkan pengebangan vaksin dan kesiapan manufakturnya dengan cepat.

Moderna, perusahaan dengan vaksin mRNA yang dalam tahapan uji klinis, mengatakan bahwa mereka optimistis akan memiliki puluhan juta dosis pada 2021. Johnson & Johnson juga mengumumkan kemitraan dengan produsen untuk memasok 1 miliar dosis vaksin yang diusulkan.

Adapun, survei Venrock kurang menjadi indikator kapan vaksin atau pengobatan yang layak untuk Covid-19 benar-benar akan tersedia dan menjadi harapan masyarakat. Survei juga menunjukkan bidang-bidang mana yang mungkin berinvestasi, seperti platform big data dan perawatan di rumah.

Pandemi Covid-19 dan pembatasan jarak sosial telah mendorong pasien berkonsultasi secara daring, jauh dari dokter dan menggunakan sesi video serta obrolan teks dengan profesional kesehatan. Responded survei menyatakan konsep ini akan terus dilakukan hingga vaksin tersedia.

Sementara bidang big data, menjadi sangat potensial karena masih banyak hal yang harus dipelajari tentang virus baru ini. Virus ini menyoroti pentingnya lebih banyak data terbuka dalam perawatan kesehatan.

Salah satu alasan perusahaan biomedis telah mampu mengembangkan vaksin dan obat untuk penyakit ini adalah karena para peneliti China mengurutkan genom virus corona dan menerbitkan temuan mereka sejak awal wabah.

Proses berbagi temuan ilmiah dengan cepat semacam ini telah memungkinkan peneliti di seluruh dunia untuk bekerja mengembangkan obat-obatan untuk memerangi virus. Penelitian medis sering didistribusikan melalui web publikasi dan pusat tapi ada juga yang dipublikasi di pusat data perusahaan masing-masing.

Tidak ada satu platform yang dapat dengan mudah diakses para peneliti untuk mencari dan menganalisis semua penelitian masa lalu. hal ini menjadi tantangan juga dalam hal inovasi biomedis. Perusahaan yang menggunakan kecerdasan buatan untuk menemukan obat harus sudah berpikir tentang bagaimana mengumpulkan dan memanfaatkan big data.

Namun demikian terkait dengan survei ini, penting untuk diingat bahwa para investor dan pakar teknologi bukan peramal. Masih ada kemungkinan lain yang bisa terjadi dalam setiap perkembangannya, termasuk untuk vaksin Covid-19.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia