Mahathir Dipecat dari Partai Bersatu karena Gabung Oposisi

Mahathir Mohamad/Dok. Malaysian Department of Information - Zarith Zulkifli
29 Mei 2020 09:37 WIB John Andhi Oktaveri News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad  dipecat dari Partai Pribumi Bersatu Malaysia (Bersatu) kemarin. Tak sendiri, ia juga dipecat bersama empat anggota parlemen lainnya. 

Surat pemecatan itu disampaikan oleh Sekretaris Eksekutif partai Bersatu, Muhammad Suhaimi Yahya berdasarkan pasal 10.2.2 dan 10.2.3 dari konstitusi partai.

Alasan pemecatan itu disebutkan karena Mahathir duduk dengan blok oposisi selama sidang parlemen pada tanggal 18 Mei.

Seharusnya politisi berusia 94 tahun itu duduk di jejeran kursi koalisi Perikatan Nasional yang dipimpin oleh presiden Bersatu sekaligus Perdana Menteri Malaysia saat ini, Muhyiddin Yassin.

Anggota Parlemen lainnya (MP), termasuk Mukhriz Mahathir, Syed Saddiq Abdul Rahman, Amiruddin Hamzah dan Maszlee Malik juga dipecat dari partai.

Para pendukung Mahathir, yang pernah jadi ketua partai Bersatu, terlibat perselisihan dengan mereka yang mendukung Muhyiddin.

Perpecahan dalam tubuh partai terjadi setelah keputusan Muhyiddin untuk bekerja sama dengan Barisan Nasional (BN), dan Parti Islam Se-Malaysia (PAS) untuk membentuk pemerintahan baru yang berkuasa awal tahun ini.

Setelah pembentukan koalisi baru, Muhyiddin dilantik sebagai perdana menteri Malaysia yang kedelapan.

Mahathir sebelumnya mengusulkan mosi tidak percaya terhadap Muhyiddin di parlemen, yang telah diterima oleh Ketua Parlemen, Mohamad Ariff Md Yusoff.

Padal bulan ini, Mahathir mengatakan dalam sebuah wawancara video bahwa dia telah mengundurkan diri sebagai ketua Bersatu pada bulan Februari.

Alasannya menentang keputusan partai untuk meninggalkan koalisi Pakatan Harapan (PH) dan bergabung dengan BN dan PAS untuk membentuk pemerintahan baru.

"Saya pikir keputusan Bersatu untuk meninggalkan PH tidak memiliki dasar yang baik. Saya mendapat dukungan yang baik dari Pakatan Harapan. Pada pertemuan Dewan Pimpinan, mereka memutuskan untuk memberi saya otonomi penuh untuk memutuskan kapan saya harus mengundurkan diri," kata Mahathir.

Sumber : Bisnis.com