Advertisement
Dibanggakan Donald Trump, Hidroksiklorokuin Ternyata Tingkatkan Risiko Kematian Pasien Covid-19
Ilustrasi - Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA - Sebuah studi yang dilakukan oleh Lancet menunjukkan obat yang selama ini dibanggakan oleh Presiden AS Donald Trump, hydroxychloroquine atau hidroksiklorokuin, ternyata berbahaya bagi pasien Covid-19.
Dilansir BBC, studi tersebut mengatakan obat anti malaria itu tidak memberikan efek apapun kepada pasien yang terinfeksi virus Corona.
Advertisement
Trump mengatakan bahwa dia tetap mengkonsumsi obat itu meskipun pejabat kesehatan masyarakat telah memperingatkan bahwa ada risiko atau efek samping terhadap masalah jantung.
Di hadapan media, Trump telah berulang kali mempromosikan obat itu, bertentangan dengan saran medis.
Hidroklorokuin aman untuk penanganan malaria, dan kondisi medis seperti lupus atau arthritis, tetapi tidak ada uji klinis yang merekomendasikan penggunaan Hidroksiklorokuin untuk virus corona.
Studi dari jurnal Lancet itu melibatkan 96.000 pasien virus corona, di mana hampir 15.000 di antaranya diberi Hidroksiklorokuin, atau bentuk lain klorokuin, baik dengan atau tanpa antibiotik.
"Studi ini menemukan bahwa pasien yang mengkonsumsi Hidroksiklorokuin lebih mungkin meninggal di rumah sakit dan mengalami komplikasi irama jantung dibandingkan pasien Covid-19 lain dalam kelompok pembanding," seperti dikutip melalui BBC, Sabtu (23/5/2020).
Tingkat kematian kelompok yang diobati adalah: hidroksi klorokuin 18 persen; klorokuin 16,4 persen; kelompok kontrol 9 persen.
Mereka yang diobati dengan Mereka yang diobati dengan Hidroksiklorokuin atau klorokuin dalam kombinasi dengan antibiotik memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi.
Para peneliti memperingatkan bahwa Hidroksiklorokuin tidak boleh digunakan di luar uji klinis.
Hingga saat ini, Trump mengklaim bahwa dirinya bersih dari virus setelah di tes untuk Covid-19 dan dia rutin mengonsumsi obat anti malaria itu karena menurutnya bermanfaat positif.
Saat ini, sebuah percobaan sedang dilakukan untuk melihat apakah obat anti malaria itu benar-benar dapat mencegah Covid-19.
Lebih dari 40.000 petugas kesehatan dari Eropa, Afrika, Asia dan Amerika Selatan yang berhubungan langsung dengan pasien terinfeksi virus akan diberikan obat sebagai bagian dari percobaan.
"Administrasi Makanan dan Obat-obatan AS sangat paham tentang kekhawatiran dalam penggunaan obat sebagai pencegahan virus corona atau sebagai perawatan," ujar koordinator gugus tugas virus corona Gedung Putih, Deborah Birx, ketika ditanya tentang temuan studi Lancet.
Sebelumnya, Marcos Espinal, direktur Organisasi Kesehatan Pan Amerika, bagian dari Organisasi Kesehatan Dunia, telah menekankan bahwa tidak ada uji klinis yang merekomendasikan penggunaan Hidroksiklorokuin untuk virus corona
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- PP Tunas Berlaku, Ombudsman Tekankan Literasi & Perlindungan Anak
- Patroli China di Laut China Selatan Ancam Energi RI
- Wisatawan Lumajang Tersambar Petir, Satu Tewas di Pantai Bambang
- Gempa M 6,5 Guncang Maluku Barat Daya, Warga Berhamburan
- Iran Batasi Selat Hormuz, Ini Negara yang Diizinkan Melintas
Advertisement
Cuaca DIY 30 Maret: Hujan di Jogja-Sleman, Gelombang 2,5 Meter
Advertisement
Musim Semi Tiba, Keindahan Bunga Sakura di Taman Yuyuantan Beijing
Advertisement
Berita Populer
- Akses Tol Jogja-Solo GT Purwomartani Ditutup Sementara, Ini Alasannya
- Rusia Stop Ekspor BBM, Harga Pertalite RI Terancam?
- 144 Penyakit Ditanggung BPJS, Ini Daftar Lengkapnya
- Rumah Warga Pandes Bantul Ludes Terbakar, Kerugian Capai Rp80 Juta
- Aktivitas Merapi Masih Tinggi, Guguran Lava Terjadi Ratusan Kali
- Puncak Arus Balik, Penumpang YIA Tembus 17 Ribu
- Polisi Israel Cegah Kardinal Masuk Gereja Makam Kudus
Advertisement
Advertisement







