Catatan Penting Bill Gates Setelah Baca Buku Flu Spanyol 1918

Pendiri Microsoft, Bill Gates, menunjuk sebuah toples berisi kotoran manusia saat berpidatonya di Reinvented Toilet Expo yang menampilkan teknologi sanitasi di Beijing. - Reuters
21 Mei 2020 15:47 WIB Nindya Aldila News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Pendiri Micorosft, Bill Gates baru saja memberikan rekomendasi bacaannya. Kali ini rekomendasi bukunya berkaitan dengan pandemi, “The Great Influenza” karya John M. Barry. Buku yang dirilis pada 2004 ini bercerita tentang flu spanyol pada 1918 yang terjadi selama setahun dan menyebabkan kematian 50 juta orang di dunia.

Setelah kembali membaca buku tersebut, Gates menemukan empat poin yang bisa menjadi pembelajaran bagi masyarakat dunia yang saat ini dihadapkan dengan Covid-19.

“Saya senang membacanya. Ini adalah salah satu buku yang menjelaskan kepada saya bahwa dunia perlu melakukan hal yang lebih baik dalam mempersiapkan diri menghadapi patogen novel,” tulisnya, seperti dikutip dari Business Insider.

Berikut adalah empat poin yang diambil oleh Gates:

1. Pengaruh pemimpin dapat menjadikan virus hancur, tetapi juga bisa menjadikan virus lebih parah.

Dia mengatakan pemimpin yang memiliki otoritas mengontrol pandemi ini di suatu daerah dapat memengaruhi tingginya kematian akibat pandemi.

Seperti diketahui, walikota St. Louis menyerukan penutupan tempat-tempat umum dan melarang pertemuan publik besar-besaran. Sebaliknya, walikota Philadelphia mengadakan parade besar untuk upaya perang pada waktu itu. Pada hari-hari berikutnya, kematian di kota itu mulai meningkat.

“Mereka sendiri sakit menjadi kewalahan. Mereka tidak punya tempat untuk meletakkan mayat. Pekerjaan pengurus jenazah meluap. Mereka menumpuk peti mati di aula, di tempat tinggal mereka, ”tulis Barry.

2. Mempermanis informasi terkait pandemi hanya akan membuat keadaan lebih parah.

Gates menyarankan para pemimpin dan organisasi kesehatan memberikan informasi yang akurat kepada publik, meskipun berita itu mengerikan.

“Pada 1918, pemimpin politik Amerika– bahkan komisioner kesehatan– mempermanis berita buru untuk menghindari kepanikan publik. sugarcoated bad news to avoid panicking the public,” Gates wrote. “Itu sangat merusak otoritas mereka ketika warga melihat teman dan tetangga sekarat dalam jumlah besar,” katanya.

3. Filantropis dapat menyelamatkan ratusan dari ribuan nyawa.

Menurutnya donasi berperan penting selama masa pandemi. Tanpa donasi dari orang-orang seperti John D. Rockefeller dan Johns Hopkins, pandemi dapat menjadi lebih buruk pada 1918.

Para donatur ini membantu membangun sekolah kesehatan umum dan sistem pendidikan yang berperan dalam bidang kedokteran dan sains seperti yang kita kenal sekarang.

"Pemberian ini secara mendasar mengubah ilmu pengetahuan dan kedokteran Amerika pada akhir abad ke-19 dan awal ke-20, memberi negara itu ratusan ribu profesional terlatih untuk merawat mereka yang terserang influenza dan membimbing respons kesehatan masyarakat," tulis Gates.

4. Kita masih belum tahu cara untuk melawan pandemi, jadi kita harus dinamis dan bekerja sama.

Terakhir, Gates berkata pandemi influenza ini mengingatkannya bahwa pandemi adalah pengalaman yang menyakitkan karena mereka mengingatkan orang akan kerapuhan hidup.

Dia menyebutkan bagaimana vaksin flu tidak tersedia sampai tahun 1933, lama setelah pandemi berakhir, sehingga para profesional kesehatan tidak pernah dapat merawat pasien dengan antivirus dan vaksin pada saat flu 1918.

“Kali ini, kita memiliki lebih banyak alat yang dapat digunakan untuk membuat vaksin dan terapi yang efektif. Tetapi perkembangan sains masih lebih lambat dari yang kita harapkan, dan mengakhiri pandemi ini akan membutuhkan lebih dari sekadar sains yang hebat, ”kata Gates.

“Ini juga akan membutuhkan banyak kemauan politik, terutama mendorong jarak sosial dan memastikan bahwa keajaiban ilmiah menyebar sejauh dan seluas virus itu sendiri.”

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia