Ada 3 Metode Tes Covid-19 di Dunia, Indonesia Pakai 2 Cara

Ilustrasi - Freepik
05 Mei 2020 19:07 WIB Rayful Mudassir News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Pemeriksaan Covid-19 di dunia menggunakan tiga cara. Dua di antaranya digunakan di Indonesia. Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito selama ini dunia menggunakan tiga sistem tes untuk mengetahui Covid-19.

Tes pertama adalah Reverse Transcription Polymerase Chain Reaction (RT-PCR). Alat ini bersifat real time dan memiliki sensitifitas cukup tinggi sekitar 95 persen.

“RT PCR yang dipakai seluruh dunia apabila sampel swab diambil dari hidung tenggorokan bisa di tes untuk tunjukan positif tidaknya seseorang terhadap Corona,” katanya saat konferensi pers virtual di Graha BNPB, Jakarta, Selasa (5/5/2020).

Adapula Tes Cepat Molekuler (TCM). Sistem tes ini relatif cepat menunjukan hasil serta memiliki sensitifitas sekitar 95 persen. Wiku menyebut alat ini dulunya digunakan untuk memeriksa penyakit lain seperti Tuberkulosis (TBC) maupun HIV.

TCM sejatinya juga dapat digunakan untuk mendeteksi Covid-19. Indonesia bahkan telah memiliki alat ini jauh-jauh hari. Namun sulitnya menemukan kaset atau sistem pendeteksi Corona untuk TCM membuat alat ini tidak dapat digunakan.

Selain itu alat tes ketiga yaitu Rapid Test. Alat pendeteksi terakhir ini bekerja dengan melihat antibodi manusia. Umumnya pasien terinfeksi akan terdeteksi dari reaksi tubuh yang ditimbulkan akibat Corona.

“Itulah letaknya rapid tes ini bisa deteksi antibodinya. Sensitifitas tidak tinggi sekitar 60 - 80 persen sehingga tidak spesifik,” ujarnya.

Dari tiga alat atau sistem pendeteksi tersebut, paramedis alat laboran di Indonesia menggunakan RT PCR dan Rapid Test. Biasanya Rapid Test untuk mengetahui potensi terinfeksi menggunakan tes darah.

Hasil tersebut nantinya harus ditindaklanjuti dengan tes RT PCR. Langkah ini untuk memberikan kepastian terkait kondisi atau infeksi yang dialami oleh pasien.

“Apa pentingnya Rapid Test? karena keterbatasan PCR fasilitasnya yang terbatas dan harus ditangani oleh laboran dan ahli. Dengan banyaknya masyarakat, [Rapid Test] bisa menjadi screening untuk dilakukan tes selanjutnya,” terangnya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia