Jokowi Sebut Corona Bisa Mati di Cuaca Panas, Sumbernya Bukan dari Ilmuwan

Bill Bryan (kiri), pejabat senior di Departemen Keamanan Dalam Negeri berbicara konferensi pers, bersama Presiden AS Donald Trump (tengah) dan Wakil Presiden Mike Pence (kanan) mendengarkan selama konferensi pers di Gedung Putih di Washington, DC, AS, pada Kamis, 23 April 2020. - JIBI/Bisnis.com
24 April 2020 20:47 WIB Hadijah Alaydrus News Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Pejabat Departemen Keamanan Dalam Negeri AS yang menyebut cuaca panas punya efek terhadap virus Corona dalam sebuah pemaparan gugus tugas di Gedung Putih, Kamis (23/4/2020), ternyata bukan seorang ilmuwan. Informasi tentang cuaca panas yang bisa memperpendek masa hidup virus Corona penyebab Covid-19 sudah dikutip Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Semakin tinggi temperatur, semakin tinggi kelembaban, dan adanya paparan langsung sinar matahari akan semakin memperpendek masa hidup virus Covid-19 di udara dan di permukaan yang tidak berpori," kata Presiden dalam keterangan pers, Jumat, (24/4/2020).

Pejabat yang paparan penelitiannya dikutip Presiden Jokowi tersebut ternyata bernama Willian N. Bryan atau dikenal sebagai Bill Bryan. Dikutip dari BBC, pejabat senior tersebut diketahui hanya memiliki pengalaman militer yang luas.

Bryan saat ini menjalankan tugas di bawah Sekretaris Ilmu Pengetahuan dan Teknologi memang memegang otoritas di bidang penelitian, pengembangan dan pengujian di kementerian tersebut.

Sebelum bertugas di bidang penelitian, pada tahun 2017, Bryan pernah memegang sejumlah peran kepemimpinan di Departemen Energi dan Departemen Pertahanan, dan menjalani 17 tahun dinas militer aktif di Angkatan Darat dan tiga tahun di Garda Nasional Virginia.

Dari 2015 hingga 2017, Bryan menjabat sebagai presiden ValueBridge International's Energy Group, yaitu organisasi yang menyediakan solusi energi berkelanjutan untuk meningkatkan kehidupan manusia di seluruh dunia.

Data ini dikutip dari laman Linkedin-nya. Bertahun-tahun bertugas sebagai pegawai negeri, jejak Bryan ternyata tidak bersih dari kontroversi.

Pada 2018, The New York Times melaporkan kekhawatiran pejabat AS dan Ukraina terkait dengan dugaan apakah Bryan memiliki hubungan khusus dengan sebuah perusahaan Ukraina ketika dia memimpin sebuah tim yang dikirim oleh pemerintah AS untuk membantu pemerintahan di Kiev dalam menopang pasokan energi.

Kekhawatiran ini semakin memuncak ketika Bryan bergabung dengan ValueBridge dan berkarir di sana.

Bryan sempat menegaskan kepada The New York Times bahwa dirinya tidak mencari keuntungan dengan siapapun dari Ukraina karena dia mengaku tidak ingin melanggar aturan dan etika.

Dalam paparan di Gedung Putih, Bryan menuturkan bahwa virus Corona tidak bertahan lama di pegangan pintu dan permukaan tak berpori lain ketika terkena sinar matahari, suhu dan kelembapan yang lebih tinggi.

“Virus ini 'sekarat' dengan kecepatan yang jauh lebih cepat karena paparan kelembapan ataupun panas,” ungkap Bill Bryan dari Departemen Keamanan Dalam Negeri, dalam suatu konferensi pers di Gedung Putih pada Kamis (23/4/2020) waktu setempat.

Penelitian baru ini, katanya, menawarkan cara praktis bagi warga Amerika untuk membunuh virus tersebut di permukaan benda-benda, termasuk dengan 'meningkatkan suhu dan kelembapan untuk ruangan indoor yang berpotensi terkontaminasi.'

Pada suhu 70 hingga 75 derajat Fahrenheit dan kelembapan 80 persen di bawah sinar matahari saat musim panas, misalnya, studi itu menunjukkan virus corona akan bertahan hanya dua menit di permukaan yang berpori.

“Lingkungan yang kering mungkin memerlukan perhatian ekstra,” tambah Bryan, seperti dilansir melalui Bloomberg, Jumat (24/4/2020).

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia