Advertisement
Stafsus Presiden Milenial Bikin Kontroversi, KSP Sebut Akan Ada Evaluasi
Presiden Joko Widodo bersama staf khusus (kiri ke kanan) CEO Amartha Andi Taufan Garuda Putra, Perumus Gerakan Sabang Merauke Ayu Kartika Dewi, Pendiri Ruang Guru Adamas Belva Syah Devara, Peraih beasiswa kuliah di Oxford Billy Gracia Yosaphat Mambrasar, CEO dan Founder Creativepreneur Putri Indahsari Tanjung, Pendiri Thisable Enterprise Angkie Yudistia dan Mantan Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Aminuddin Ma'ruf di Istana Merdeka Jakarta, Kamis (21/11/2019). - ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA - Dua staf khusus milenial Presiden Joko Widodo menjadi perbincangan publik beberapa hari terakhir. Kantor Staf Presiden (KSP) meminta perdebatan publik tidak perlu diperpanjang.
“Tidak perlu diperpanjang, toh sudah minta maaf, Andi Taufan, dan kalau emang ada konflik kepentingan kan pasti ada evaluasi,” kata Tenaga Ahli Utama KSP Donny Gahral saat dihubungi Jaringan Informasi Bisnis Indonesoa, Jumat (17/4/2020).
Advertisement
Dia menjelaskan evaluasi tersebut merupakan hak prerogatif Presiden Jokowi. KSP pun tidak memiliki kewenangan untuk mendahului hal tersebut.
“Kita tunggu saja keputusan presiden seperti apa. Jangan mendahului Presiden,” tambahnya.
Seperti diketahui, dua Stafsus Presiden Jokowi, Andi Taufan Garuda dan Adamas Belva Syah Devara menjadi sorotan publik. Masyarakat memperbincangkan Andi Taufan usai surat kepada camat di seluruh Indonesia itu beredar di dunia maya.
Dalam surat berkop Sekretarian Kabinet itu, dia meminta permohonan agar para camat mendukung edukasi dan pendataan alat pelindung diri (APD) yang dilakukan PT Amartha Mikro Fintek. Hal tersebut memicu kritik masyarakat karena status Andi Taufan sebagai CEO Amartha.
Tindakan ini jelas berlawanan dengan aturan. Tak ada dalil yang membolehkan seorang stafus mengirim edaran resmi atas nama pemerintah, apalagi menggunakan kop Setkab.
Andi Taufan pun kemudian meminta maaf lewat surat terbuka yang disampaikan pada Selasa (14/4/2020). Dia menarik surat itu dan beralasan surat tersebut murni atas dasar kemanusiaan dan dengan biaya Amartha dan donasi masyarakat, yang akan dipertanggungjawabkan secara transparan dan akuntabel.
Sementara itu Belva menjadi sorotan publik karena berstatus sebagai pendiri Ruangguru. Perusahaan rintisan bidang pendidikan ini menjadi salah satu mitra pelatihan dalam jaringan atau online kartu prakerja yang memiliki total nilai proyek Rp20 triliun.
Meski demikian, Belva mengatakan hal itu wajar karena hingga kini, Ruangguru sudah memiliki lebih dari 1 juta pengguna. Artinya, perusahaan yang dia dirikan, dia anggap memiliki kompetensi sesuai dengan kebutuhan pemerintah.
Hingga berita ini diturunkan, Jokowi belum memberikan komentar terkait berbagai kontroversi tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Listrik Kuba Kembali Padam Saat Tekanan Krisis Energi Meningkat
- Ledakan Petasan di Pamekasan Bongkar Produksi Berdaya Ledak Tinggi
- China Desak Penghentian Konflik Timur Tengah Saat Idulfitri
- Konflik Gas Iran-Qatar Picu Lonjakan Harga, Trump Berubah Arah
- Di Momen Lebaran Vladimir Putin Soroti Peran Muslim Rusia
Advertisement
Prediksi Lonjakan Parkir Wisata Lebaran Jogja 2026: Cek Tarif Resmi
Advertisement
Sukolilo Pati Sempat Viral, Ternyata Simpan Banyak Tempat Wisata
Advertisement
Berita Populer
- Banyak Lakukan Kesalahan, Leo/Bagas Gagal di Orleans Master
- KORKAP Sleman Disiapkan Jadi Sistem Pengembangan Atlet
- Ular Masuk Sanggar Didik Nini Thowok, Petugas Damkar Langsung Meluncur
- Begini Cara Mendapatkan Diskon Tarif Tol 30 Persen Saat Arus Balik
- Harga Emas Pegadaian Turun Tipis Seusai Lebaran, Ini Daftarnya
- Pemerintah Kejar Target Ekonomi 5,5% Lewat Berbagai Insentif
- Daftar Kota Besar yang Berpotensi Hujan Petir saat Lebaran Hari Ke-2
Advertisement
Advertisement







