Anggaran Program Kartu Prakerja Rp5,6 Triliun untuk Pelatihan Daring Dikritik

Ilustrasi Kartu Prakerja - Antara
16 April 2020 20:27 WIB Maria Elena News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Ekonom mengkritik penyaluran anggaran Rp5,6 triliun untuk pelatihan daring dalam Program Kartu Prakerja selama pandemi Covid-19.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan program pelatihan menjadi tidak tepat sasaran dan tidak menjawab kebutuhan khususnya bagi pekerja yang di-PHK.

Menurutnya, pekerja tersebut lebih baik diberikan bantuan uang tunai tanpa ikut pelatihan terlebih dahulu dan kemudian bisa ditambahkan dengan bantuan pangan.

Selain itu, anggaran Rp5,6 triliun yang disalurkan untuk pelatihan daring hanya menguntungkan penyedia jasa. Anggaran tersebut dapat dialihkan sehingga peserta Program Kartu Prakerja bisa mendapat tambahan bantuan tunai Rp1 juta.

"Kalau kartu prakerja dipaksakan dengan pelatihan. Ini artinya sudah gagal ketika lahir. Sayang sekali uang Rp5,6 triliun itu buat pelatihan, kalau dijadikan BLT per orang bisa dapat Rp1 juta dengan asumsi penerima 5,6 juta orang," katanya kepada Bisnis, Kamis (16/4/2020).

Menurutnya, jika anggaran pelatihan daring diberikan dalam bentuk tunai, akan terasa multiplier effect ke ekonomi.

"Ritel naik, warung warung kecil kecipratan rezeki. Bukan masuk kantong penyedia jasa latihan online. Soal data juga kan gampang, tinggal minta ke platform ojol by name, by address, dan by account. Semua sudah ada tinggal transfer BLT-nya," jelasnya.

Di samping itu, Bhima menilai banyak yang tidak relevan dari implementasi Kartu Prakerja, serta materi pelatihan yang diberikan juga tidak sesuai dengan situasi saat ini.

"Misalnya, apa cocok ada pelatihan di skill academy Ruang Guru untuk kartu prakerja ojol yang isinya teknik mengelola stres dan manajemen waktu agar kerja lebih produktif? Ojol enggak perlu dikasih pelatihan begitu, soal manajemen waktu dia lebih paham kondisi lapangan daripada yang bikin pelatihan. Jadi ini proyek mubazir ya, manfaatnya kecil sekali," tutur Bhima.

Adapun, gelombang pertama Program Kartu Prakerja yang dirilis pada Sabtu (11/4/2020), telah mencapai 5 juta pendaftar hingga Rabu (15/4/2020). Jumlah pendaftar yang telah menyelesaikan pendaftaran tercatat ada sebanyak 1,63 juta orang.

Seperti diketahui, program kartu prakerja merupakan program bantuan biaya pelatihan untuk peningkatan kompetensi, baik pengetahuan keterampilan maupun budaya ataupun sikap kerja.

Untuk merespons Covid-19, program kartu prakerja juga ditujukan sebagai instrumen jaring pengaman sosial untuk meringankan beban hidup dan membantu daya beli masyarakat.

Total anggaran yang disediakan oleh pemerintah untuk tahun ini adalah Rp20 triliun dan jumlah peserta yang ikut bisa mencapai 5,60 juta orang. Masing-masing pendaftar akan mendapatkan bantuan pelatihan dan insentif dengan total nominal Rp3,55 juta.

Perinciannya, calon peserta Kartu Prakerja akan mendapat bantuan pelatihan sebesar Rp1 juta. Peserta dapat memilih jenis pelatihan sesuai dengan keinginan, ada sekitar 900 pelatihan yang ditawarkan melalui platform online.

Kemudian, peserta akan mendapat insentif pasca pelatihan sebesar Rp600.000 per bulan yang akan diberikan selama 4 bulan sehingga totalnya Rp2.400.000 per peserta.

Selain itu, insentif survei kebekerjaan juga diberikan sebesar Rp50.000 per survei. Ada tiga kali survei sehingga totalnya Rp150.000 per peserta.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia