Korban Jiwa akibat Corona di Amerika Serikat Melonjak Menjadi 30.800

New York, wilayah paling parah didera pandemi corona di AS dan juga di dunia. - Bloomberg
16 April 2020 19:07 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, NEW YORK – Korban meninggal dunia akibat pandemi Corona di Amerika Serikat melonjak melebihi 30.800 jiwa hingga Kamis (16/4/2020) siang WIB. Angka yang tinggi ini mendorong sejumlah gubernur mulai meminta warga AS untuk memakai masker sebagai sesuatu yang normal setelah mereka selesai melakukan isolasi.

Gubernur Connecticut, Maryland, New York, dan Pennsylvania masing-masing mengeluarkan perintah atau rekomendasi bahwa penduduk harus mengenakan masker untuk beberapa pekan mendatang saat mereka selesai melakukan isolasi.

Hal itu dilakukan untuk memperlambat penyebaran virus corona jenis baru atau Covid-19.

"Jika Anda akan berada di luar rumah dan Anda tidak dapat menjaga jarak sosial, maka gunakanlah masker," kata Gubernur New York Andrew Cuomo saat mengumumkan perintah penggunaan masker bagi mereka yang tidak dapat menjaga jarak enam kaki dari orang lain.

Perintah serupa diberlakukan di New Jersey dan Los Angeles pekan lalu, dan Gubernur California Gavin Newsom telah menyarankan warga di seluruh negara bagian yang paling padat penduduknya itu untuk mengenakan masker di luar rumah selama beberapa waktu mendatang.

"Kami akan kembali normal," kata Gubernur Connecticut Ned Lamont.

Lebih dari 30.800 orang telah meninggal karena Covid-19, penyakit pernapasan yang disebabkan oleh virus corona jenis baru, di Amerika Serikat pada Rabu sore, menurut penghitungan Reuters. Jumlah kematian naik 2.371 di hari sebelumnya, mencetak rekor untuk hari kedua berturut-turut.

Total itu termasuk lebih dari 4.000 kematian yang dikaitkan dengan penyakit virus corona di New York City, pusat pandemi Covid-19, setelah pejabat kesehatan merevisi metode penghitungan mereka untuk memasukkan kasus yang belum dites Covid-19.

Ketika wabah mulai melambat, para pemimpin politik bertengkar tentang bagaimana dan kapan harus memulai proses karantina wilayah yang belum pernah terjadi sebelumnya dan telah merusak ekonomi serta sebagian besar orang Amerika terkurung di rumah mereka.

Wali Kota Los Angeles Eric Garcetti mengatakan pertemuan besar seperti konser dan acara olahraga tidak mungkin diizinkan di kota sampai 2021.

Ekonomi jatuh

Berdasarkan data, Presiden Donald Trump mengatakan Amerika Serikat telah melewati puncak pandemi Covid-19. Dia berencana mengumumkan pedoman baru untuk membuka kembali perekonomian.

Penutupan bisnis secara luas telah menghantam ekonomi AS, membuat jutaan warga menganggur dan pemilik toko berjuang untuk membayar sewa.

Data pemerintah menunjukkan bahwa penjualan ritel turun 8,7 persen pada Maret. Pengeluaran konsumen menyumbang lebih dari dua pertiga dari kegiatan ekonomi AS. Selain itu, produksi di pabrik-pabrik AS menurun tajam karena rantai pasokan yang rusak akibat pandemi virus corona.

"Ekonomi hampir jatuh bebas," kata Sung Won Sohn, seorang profesor ekonomi bisnis di Universitas Loyola Marymount, Los Angeles.

AS, dengan populasi terbesar ketiga di dunia, kini memiliki jumlah kematian terbesar akibat Covid-19. Jumlah kematian akibat virus corona di AS di atas Italia, Spanyol, dan China.

Patogen itu muncul akhir tahun lalu di China dan telah menewaskan sedikitnya 133.000 orang di seluruh dunia.

Pemodelan dari Universitas Washington, yang sering dikutip oleh Gedung Putih, minggu ini meramalkan total kematian di AS karena pandemi bisa mencapai sekitar 68.800 pada awal Agustus. Itu menunjukkan bahwa Amerika Serikat bahkan belum mencapai setengah dari titik puncak kasus kematian.

Petugas kesehatan menghadapi ancaman kesehatan yang unik saat bekerja di garis depan. Reuters telah mengidentifikasi lebih dari 50 perawat, dokter dan teknisi medis yang telah meninggal setelah didiagnosis dengan Covid-19 atau menunjukkan gejala-gejala itu. Setidaknya 16 kasus kematian itu berada di negara bagian New York.

"Ruang gawat darurat seperti zona perang," kata Raj Aya, istri dari Madhvi Aya, asisten dokter di Brooklyn.

Sumber : Antara/Reuters