Advertisement
Masih Ada Warga yang Berada di Luar Negeri saat Sejumlah Negara Sudah Lockdown, Bagaimana Pemulangannya?
Warga negara asing berada di Terminal Internasional Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Senin (27/11). - ANTARA/Fikri Yusuf
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA - Sejumlah negara sudah menetapkan lockdown guna menekan penyebaran virus Corona. Indonesia menekankan perlu ada protokol bersama atau prosedur mengenai proses kepulangan penduduk ke negara asal dengan mematuhi berbagai prosedur kesehatan pada masa kondisi pandemi COVID-19 terkait lalu lintas manusia antarnegara.
Hal itu disampaikannya dalam Telekonferensi Covid-19 International Coordination Group (ICG) bersama menteri dari Turki, Afrika Setatan, Singapura, Moroko, Perancis, Kanada, Australia, Jerman, Brazil, Peru, dan lnggris.
Advertisement
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, mengungkapkan pentingnya kemitraan dan sinergi untuk menjamin amannya lalu lintas manusia antar-negara, serta terjaminnya rantai pasokan, khususnya obat dan alat kesehatan di tengah ketatnya kebiakan lalu lintas barang dan orang di tingkat global.
"Hal tersebut sangat penting guna memutus rantai penularan dan mencegah kasus impor (Covid- 19 imported cases)," katanya dalam siaran pers pada Rabu (8/4/2020).
Dalam telekonferensi tersebut, dia juga menyampaikan kebijakan Indonesia yang masih membuka bandara - bandara bagi negara sahabat yang ingin mengevakuasi warga negaranya.
Di saat yang sama, lanjutnya pemerintah Indonesia meminta negara lain memfasilitasi kepulangan WNI yang berada di luar negeri ke tanah air, bagi mereka yang memenuhi prosedur kesehatan yang ditetapkan oleh WHO.
Forum ICG diinisiasi oleh Menlu Kanada sebagai forum koordinasi rutin bagi menlu berbagai negara.
Tujuan utama dari forum ini adalah menjamin kelancaran penanganan Covid-19. Adapun isu yang mendesak saat ini adalah keamanan proses evakuasi atau lalu lintas orang antarnegara dan kelancaran rantai pasok barang kebutuhan medis.
Dalam forum itu, Indonesia juga menyampaikan pengalaman melakukan kerja sama memenuhi kekurangan pasokan medis di dalam negeri melalui skema joint production dengan Korea Selatan.
"Kerja sama produksi antara produsen dan pemilik bahan baku perlu terus ditingkatkan untuk menjamin ketersediaan alat pelindung diri," katanya.
Kerja sama produksi tersebut, dia berharap dapat menjadi contoh bagi negara lain dalam memproduksi alat pelindung diri (APD) atau pengembangan vaksin.
Kemudian, dirinya juga menyampaikan apresiasi kepada negara-negara lain yang mendukung resolusi PBB mengenai solidaritas global melawan COVID-19 yang diusulkan Indonesia dan negara lain, dan meraih dukungan 188 negara.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Trump Ingin Konflik Iran Cepat Usai, Tekanan Justru Meningkat
- Pelecehan Berlangsung 8 Tahun, DPR Kejar Keadilan Korban Syekh AM
- Sebelum ke Beijing, Trump Kejar Gencatan Senjata dengan Iran
- Deadline LHKPN 31 Maret: 96.000 Pejabat Belum Lapor Harta Kekayaan
- Panic Buying di Jepang, Tisu Toilet Ludes Dipicu Konflik Timur Tengah
Advertisement
Cara Baru Akses Bansos di Sleman, Warga Bisa Daftar Sendiri
Advertisement
Bioskop Nyaman Rp5 Ribu di Museum Sonobudoyo Masih Sepi Peminat
Advertisement
Berita Populer
- Jadwal KA Prameks Jogja Kutoarjo Terbaru Hari Ini Kamis 26 Maret 2026
- Donald Trump Tolak Usul Netanyahu Picu Pemberontakan Rakyat di Iran
- Prakiraan Cuaca 26 Maret: Mayoritas Wilayah Indonesia Diguyur Hujan
- Deadline LHKPN 31 Maret: 96.000 Pejabat Belum Lapor Harta Kekayaan
- Harga Emas Antam Hari Ini Stagnan, Nilai Buyback Justru Merosot
- Gudang Sampah di Bantul Terbakar Akibat Ditinggal Beli Makan
- Mercedes Diminta Tak Jemawa Usai Dominasi GP Australia dan China
Advertisement
Advertisement







