Kondisi Perdana Menteri Boris Johnson Memburuk karena Covid-19, Inggris Krisis Kepemimpinan

Boris Johnson - Reuters/Neil Hall
06 April 2020 18:47 WIB Nirmala Aninda News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Inggris menghadapi krisis kepemimpinan di tengah pandemi Corona (Covid-19) yang diperkirakan akan mencapai puncaknya pada tujuh hingga sepuluh hari ke depan.

Perdana Menteri Boris Johnson saat ini dirawat di rumah sakit. Menurut laporan Daily Mail, Johnson diperkirakan telah diberi perawatan oksigen. Pasalnya, sudah 10 hari sejak pertama kali dilaporkan bahwa ia positif terpapar virus Corona, belum menunjukkan kesembuhan. Hal ini, menurut sejumlah orang, disebabkan pertaruhannya dalam "ajang" Brexit, yang membuat ia kurang istirahat.

Seorang menteri senior pemerintah Inggris mengatakan, Johnson dapat terus menjalankan tugas negara meskipun dirawat di rumah sakit, karena gejala virus Corona yang tidak kunjung reda.

"Dia tetap bertanggung jawab atas pemerintahan dan dia akan mendapatkan pembaruan informasi secara teratur di rumah sakit, seperti saat dia mengisolasi diri di rumah," ujar Menteri Perumahan Inggris, Robert Jenrick, seperti dikutip melalui CNN.com, Senin (6/4/2020).

Sejak dinyatakan positif Covid-19 pada 26 Maret, Johnson kerap berkomunikasi dengan publik melalui video yang direkam dari ruang kerjanya di rumah, menunjukkan bahwa dia masih memimpin pemerintahan.

Dilansir melalui Bloomberg pada Senin (6/4), Johnson telah menyerahkan tugas-tugas utama kepada wakil sementara, Menteri Luar Negeri, Dominic Raab, yang akan memimpin pertemuan krisis harian. Namun, kondisi ini memiliki risiko sendiri.

Raab, bersama dengan para menteri senior lainnya termasuk Menteri Kesehatan Matt Hancock dan Menteri Kantor Kabinet Michael Gove, menentang Johnson untuk kepemimpinan Partai Konservatif tahun lalu.

Di balik layar, para pejabat berdebat tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya ketika strategi Inggris berada di bawah tekanan.

Para pengkritik mengatakan bahwa Johnson, seperti Presiden AS Donald Trump, tidak bergerak dengan cukup cepat dan meremehkan seberapa intens lockdown akan berdampak pada kehidupan masyarakat--pertaruhan yang berisiko memperburuk dampak virus.

Ratu Elizabeth II muncul pada sebuah video pidato yang jarang terjadi sebelumnya pada Minggu (5/4), malam, di mana dia memohon persatuan antarmasyarakat dan bersama-sama menghadapi tantangan ini seperti ketika negara itu dihadapi dengan Perang Dunia II.

Namun, yang dibutuhkan Inggris saat ini adalah pemimpin dengan cengkeraman yang cukup kuat pada pemerintahan untuk menghadapi keadaan darurat.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia