Advertisement
Cegah Penyebaran Virus Corona, PBNU Usulkan Lebaran Online
Ilustrasi-Pemudik melintas di jalur Tol Trans Jawa, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Minggu (2/6/2019). - ANTARA/Harviyan Perdana Putra
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA - Indonesia sedang menghadapi pandemi Corona yang telah mewabah di seluruh dunia. Meski di luar kebiasaan, berlebaran secara daring atau online melalui telepon atau panggilan video sebagai cara terbaik di tengah wabah virus Corona.
Robikin Emhas, Ketua Pengurus Harian Tanfidziyah PBNU, dalam keterangan resmi, Minggu (29/3/2020) menyebutkan bahwa virus Corona berbahaya karena tiga hal.
Advertisement
"Pertama, kecepatan penyebarannya. Kedua, gejalanya yang tidak mudah terdeteksi oleh orang yang terinfeksi. Ketiga, ketidak-tahuan orang yang terinfeksi, sehingga orang yang terinfeksi adalah carrier dan tanpa sadar menyebarkan virus ke tempat dan kepada orang lain," ujar Robikin.
Ditegaskan Robikin, sebagai Muslim kita harus bersikap adil dan proporsional. "Adil dan proporsional baik dari aspek akidah, ibadah maupun mu’amalah."
Robikin menambahkan, takut hanya kepada Allah, bukan selainnya, namun tidak meninggalkan perintah agama untuk melakukan ikhtiar baik secara preventif maupun kuratif.
Robikin menggarisbawahi bahwa melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Pemerintah telah memperpanjang masa darurat bencana wabah virus Corona hingga 29 Mei 2020. "Itu artinya hingga 5 hari setelah hari raya Idul Fitri 1441 Hijriah tahun ini."
Menurut Robikin, penetapan masa darurat ini tentu dengan pertimbangan dan perhitungan matang. Oleh karena itu, ia mengajak semua pihak bersama-sama mendisiplinkan diri demi memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Caranya, ujar Robikin, dengan tidak mudik lebaran tahun ini.
"Silaturahim Idul Fitri tetap kita lakukan. Namun secara daring, online, melalui teknologi komunikasi. Video call dari tempat tinggal masing-masing. Lebaran di tengah virus Corona daring saja," ujarnya.
Robikin meyakini bahwa sikap disiplin untuk tetap di rumah dan menjaga jarak fisik dalam situasi saat ini sangat membantu penanggulangan penyebaran Covid-19.
"Memaksakan diri mudik dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain, termasuk keluarga. Kita tidak pernah tahu, di tengah perjalanan menuju kampung halaman, bisa saja tanpa sadar terjadi kontak fisik dengan orang yang terpapar Covid-19," ujarnya.
Dia mengingatkan, jika kondisi buruk itu yang terjadi, mudik tidak membawa kebahagiaan bagi keluarga dan lingkungan. Tapi derita dan musibah.
"Fiqh mu’amalah mengajarkan kepada kita: jalbul-mashalih wa daf’ul-mafasid. Seluruh hal untuk meraih kemaslahatan dan menolak kemafsadatan (kerusakan) sesungguhnya adalah bagian dari perintah syari'at," ujar Robikin Emhas dalam pernyataannya sebagai Ketua Pengurus Harian Tanfidziyah PBNU bertanggal 28 Maret 2020.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- BMKG Turunkan Tim ke Maluku Utara dan Sulut Usai Gempa M 7,6
- Ngaku Tuhan Kedua, Dukun Cabul di Magetan Setubuhi Istri Pasien
- Vonis Mati Tahanan Palestina oleh Israel Disorot Indonesia
- Kasus Video Profil Desa Karo, Majelis Hakim Bebaskan Amsal Sitepu
- Iran Tolak Gencatan Senjata, Minta Perang Dihentikan Total
Advertisement
Kisah di Balik 3.000 Pamong Gunungkidul di Kirab HUT Sultan HB X
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Malioboro Ditutup saat Kirab HUT Sultan HB X, Ini Rute Pengalihan Arus
- Film Zona Merah Naik Level, Cerita Zombie Kini Menyasar Kota
- Ramp Tol Jogja-Solo di Trihanggo Dikebut, Gerbang Tol Segera Dibangun
- Kulonprogo Siapkan Skema Nunut ASN untuk Tekan BBM
- Aniaya Pengguna Jalan di Muja Muju, Bang Jago Ngopo Diringkus Polisi
- KRL Jogja-Solo Padat Seharian, Ini Jadwal Kamis 2 April 2026
- Jadwal Terbaru KA Prameks Jogja-Kutoarjo, 2 April 2026
Advertisement
Advertisement








