Pandemi Corona: Negara-Negara dengan Tingkat Kematian Tinggi Sudah Berlakukan Lockdown, Kecuali Indonesia

Aktivitas petugas medis saat menangani pasien virus Corona di rumah sakit di Wuhan, Cina, 25 Januari 2020. - THE CENTRAL HOSPITAL OF WUHAN VIA WEIBO via REUTERS
18 Maret 2020 19:07 WIB Tim Jaringan Informasi Bisnis Indonesia News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Tingkat kematian akibat Covid-19 di Indonesia dua kali lipat daripada tingkat kematian global. Negara-negara dengan tingkat kematian tinggi sudah menerapkan karantina wilayah (lockdown) maupun pembatasan sosial secara ketat, kecuali Indonesia.

Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19, Achmad Yurianto mengatakan pasien yang dinyatakan positif terinfeksi virus Corona Indonesia bertambah 55 pasien hari ini, dari semula 172 pada Selasa (17/3/2020) kemarin menjadi 227. Sementara, pasien positif Covid-19 yang meninggal dunia bertambah 14, dari lima pada Selasa kemarin menjadi 19.

Berdasarkan catatan worldometers.info, Rabu sore, tingkat kematian akibat Corona di Indonesia kini 8,3% hanya beda tipis dari Filipina yang mencatat angka kematian 8,4% (17 dari 202 pasien positif Corona meninggal dunia). Tingkat kematian di Indonesia dan Filipina melampaui China (7,9%) dan Italia (6,1%), dua negara dengan jumlah kematian terbanyak akibat Corona secara global. Sebanyak 3.237 dari 80.894 pasien positif Covid-19 di China meninggal dunia. China mencatat jumlah kematian terbesar, disusul Italia yang hingga hari ini mencatat 2.503 dari 31.506 pasien positif Covid-19 meninggal dunia.

Indonesia dan Filipina juga menjadi negara dengan tingkat kematian dua kali lipat dibandingkat tingkat kematian secara global yang hanya 4%. Di seluruh dunia, 200.106 orang positif terinfeksi Corona dan 8.010 di antara mereka meninggal dunia. Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) sudah menyatakan Corona sebagai pandemi.

China sempat tidak tanggap merespons kemunculan Covid-19 pada tahap awal. Namun, Beijing kemudian melakukan langkah drastis dengan menerapkan lockdown beberapa kota di Provinsi Hubei ketika jumlah kasus infeksi meningkat pesat. Langkah serupa juga ditempuh Italia yang mewajibkan semua penduduknya tinggal di rumah kecuali untuk keperluan darurat seperti bekerja dan berbelanja kebutuhan pokok. Filipina juga memberlakukan karantina wilayah secara nasional selama sebulan penuh dan menjadi negara Asia Tenggara pertama yang menerapkan lockdown.

Sementara, Presiden Joko Widodo menegaskan sampai saat ini tidak berpikir mengimplementasikan kebijakan lockdown. Sejauh ini, pemerintah hanya mengambil langkah pembatasan sosial, yang kemudian diterjemahkan dalam beberapa kebijakan oleh pemerintah daerah (pemda) terkait.

Kendati positif, implementasi kebijakan itu dinilai belum maksimal, sehingga risiko outbreak masih besar. “Faktanya, hal itu justru mendekatkan virus dengan masyarakat pengguna angkutan publik, karena kerumunan menjadi lebih banyak dengan adanya antrean yang mengular,” ujar Pengamat Kebijakan Publik Universitas Indonesia Agus Pambagio, Senin.

Peneliri Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abra Talattov menilai solusi terbaik yang harus dilakukan sekarang adalah memberlakukan lockdown minimal di kawasan utama, kendati konsekuensi kebijakan ini sangat besar. “Mau tidak mau pemerintah harus realistis untuk melakukan lockdown,” ucapnya.

Di Indonesia, karantina telah diatur dalam Undang-Undang (UU) No.6/2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan. Pasal 4 UU6/2018. Pemerintah Pusat dan pemda bertanggung jawab melindungi kesehatan masyarakat dari penyakit dan atau faktor risiko kesehatan masyarakat yang berpotensi menimbulkan kedaruratan kesehatan masyarakat melalui penyelenggaraan kekarantinaan kesehatan.

Di luar China, Italia, Filipina, dan Indonesia, Korea Selatan (Korsel), mengarantina Kota Daegu. Dikombinasikan dengan fasilitas pengetesan keliling dan sukarela, Negeri Ginseng berhasil menekan tingkat kematian di bawah satu persen.

Dilansir dari Bloomberg, setelah melewati masa puncak pandemi ini, Korsel menawarkan asistensi penanganan virus Corona pada dunia. Bersama Italia dan Iran, negara ini merupakan negara dengan kasus terbanyak di luar China.

Mengacu ke data Johns Hopkins University, yang berasal dari data WHO, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) AS, dan komisi kesehatan China, per Selasa (17/3) pukul 15.22 WIB, jumlah kasus virus Corona yang terkonfirmasi di Korsel mencapai 8.320. Sementara itu, Italia dan Iran masing-masing sebanyak 27.980 serta 14.991.

Otoritas di negara itu mengumpulkan sampel dari 50 klinik drive-thru di seluruh negeri, yang memungkinkan para pengendara menjawab kuesioner, diperiksa suhu badannya, dan menjalani swab test. Prosedur itu hanya membutuhkan 10 menit, jauh lebih singkat ketimbang warga harus datang ke klinik, sehingga turut mengurangi paparan terhadap petugas kesehatan dan pasien lain di ruang tunggu.

Seoul juga mengerahkan mobile testing station dan kunjungan ke rumah (home visit), yang dapat menyimpulkan seseorang terinfeksi atau tidak dalam hitungan jam.

Kendati jumlah kasus terinfeksi melompat ke angka ribuan, pengujian yang agresif telah memungkinkan petugas kesehatan menandai wabah begitu muncul, memfokuskan sumber daya pada area itu dan mengisolasi mereka yang potensial menyebarkan virus.

Laporan petugas kesehatan juga menyertakan riwayat kunjungan pasien dari rumah duka, restoran, hingga toko roti. Dengan tidak menyertakan nama pasien, data itu bisa diakses oleh publik. Bahkan, ada aplikasi yang bisa memperingatkan jika orang terinfeksi berada dalam jarak 100 meter.

Malaysia, meski tingkat kematiannya hanya 0,2% (dua kematian dari 790 kasus) sudah memutuskan untuk melakukan lockdown selama dua pekan, mulai 18 Maret.

Mirip dengan Korsel, Vietnam menerapkan lockdown di daerah yang memang mencatatkan kasus tinggi. Son Loi, sebuah distrik di dekat Hanoi, dikunci selama 20 hari setelah bayi berusia tiga bulan terinfeksi Covid-19 dari neneknya. Selain itu, 90 orang lainnya berada dalam pengawasan di distrik tersebut.

Tak hanya itu, petugas kesehatan diinstruksikan untuk mengikuti protokol terkait dengan pandemi, antara lain mengobati gejalanya, melakukan diet ketat dan tinggi gizi bagi pasien, serta memonitor oksigen dalam darah pasien. “Negara ini telah mengaktivasi sistem peringatan dini pada tahap awal epidemi dengan mengintensifkan pengawasan dan penguatan tes laboratorium,” kata perwakilan WHO di Vietnam, Kidong Park, seperti dilansir Aljazeera, baru-baru ini.

Adapun untuk mencegah virus ini menyebar luas, sekolah diperintahkan mendisinfeksi ruang-ruang kelas selama siswa libur.