China Incar Jembatan Lintas Laut di Sekitar Ibu Kota Baru

Xu Fei, Indonesia Branch Managing Director China Railway Construction Corporation (International) Limited. - JIBI/Bisnis Indonesia/Jaffry Prabu Prakoso
24 Februari 2020 20:07 WIB Jaffry Prabu Prakoso News Share :

Harianjogja.comBALIKPAPAN - Pemerintah Kota Balikpapan mengadakan pertemuan dengan perusahaan China di bidang industri jasa konstruksi, China Railway Construction Corporation (International) Limited. Perusahaan mencari peluang untuk investasi yang bisa dijajaki.

Indonesia Branch Managing Director China Railway Construction Corporation (International) Limited, Xu Fei mengatakan bahwa ada beberapa proyek yang dibahas, salah satunya jembatan lintas laut Balikpapan-Penajam Paser Utara (PPU). “Kalau untuk ketertarikan memang kita lebih ke jembatan lintas laut, atau jalan tol yang akan menjembatani langsung ke PPU. Untuk yang lainnya, karena model kerja samanya belum begitu jelas, kami masih akan mempertimbangkan,” katanya usai pertemuan di Kantor Wali Kota Balikpapan, Senin (24/2/2020).

Xu Fei menjelaskan bahwa alasan perusahaanny tertarik menanamkan modal di Kota Minyak karena pertumbuhan ekonomi sudah mulai terlihat. Sumber daya alam juga melimpah.

Pertimbangan lainnya adalah ibu kota negara bakal dipindah ke Kalimantan Timur, yaitu sebagian PPU juga Kutai Kartanegara. Ini akan membutuhkan tambahan fasilitas karena sebagian penduduk akan pindah ke sana.

“Jadi pembangunan ataupun investasi yang dilakulan akan bergantung dari kependudukan yang juga melihat jalan pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.

Sementara itu China Railway belum bisa menaksir berapa besaran modal yang akan dikucurkan karena ingin melihat memungkinkan atau tidak untuk melakukan kerja sama. Xu Fei menunggu anggaran yang akan dikeluarkan perusahaan.

“Karena kan [Pemerintah Balikpapan meminta] full. Dan misalnya kalau memang ada perusahaan [lain] yang terbuka, kita bisa join untuk kita bisa masuk,” jelasnya.

Badan Pusat Statistik Kalimantan Timur mencatat pertumbuhan ekonomi di Bumi Etam cukup menjanjikan sepanjang tahun 2019, yaitu melaju 4,77 persen. Realisasi ini naik hampir dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya di angka 2,67 persen.

Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha pengadaan listrik dan gas yang naik sebesar 8,65 persen. Selanjutnya adalah jasa lainnya 8,16 persen dan jasa kesehatan dan kegiatan sosial 6,69 persen.

Sedangkan dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh komponen pengeluaran konsumsi pemerintah dengan pertumbuhan sebesar 9,97 persen.

Ekspor menjadi pengeluaran terbesar kedua, yaitu 9,02 persen. Selanjutnya adalah konsumsi lembaga non profit yang melayani rumah tangga sebesar 5,95 persen.

Berdasarkan struktur produk domestik regional bruto (PDRB), sektor pertambangan dan penggalian masih tetap menjadi penyumbang penerimaan terbesar di angka 45,49 persen. Disusul industri pengolahan 17,77 persen dan konstruksi 9,08 persen.