Studi Terbaru: Cara Virus Corona Menyerang Tubuh Mirip Penyakit SARS dan Mers

Aktivitas petugas medis saat menangani pasien virus Corona di rumah sakit di Wuhan, Cina, 25 Januari 2020. - THE CENTRAL HOSPITAL OF WUHAN VIA WEIBO via REUTERS
20 Februari 2020 20:17 WIB Bhekti Suryani News Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Virus Corona baru (Covid-19) menyerang tubuh dengan cara yang mirip dengan kasus SARS dan Mers. Hal itu disampaikan sejumlah peneliti yang terlibat dalam studi baru-baru ini, berdasarkan hasil otopsi salah satu pasien Virus Corona yang mengalami kerusakan paru-paru dan liver.

Laporan yang diterbitkan pekan inidi jurnal medis Inggris The Lancet oleh para ahli dari Pusat Medis di lima Rumah Sakit Umum Tentara Pembebasan Rakyat di Beijing.

Para peneliti memperoleh sampel biopsi dari hasil otopsi seorang pria berusia 50 tahun yang meninggal pada akhir Januari karena Covid-19.
“Hasil pengamatan terhadap paru-paru pasien, jaringan hati dan jantung menunjukkan "fitur patologis Covid-19 sangat mirip dengan yang terlihat pada infeksi saluran pernapasan akut (SARS) dan infeksi coronavirus sindroma pernapasan Timur (Mers)", kata para penulis seperti dilansir dari South China Morning Post, Kamis (20/2/2020).

Wabah SARS pada 2002-2003, yang berasal dari Cina Selatan, menewaskan lebih dari 800 orang di lebih dari dua lusin negara. Sementara wabah Mers 2012, yang pertama kali diidentifikasi di Arab Saudi, menyebabkan 860 kematian secara global.

Pria yang diteliti dalam penelitian di Beijing, menunjukkan gejala awal pada 14 Januari dan meninggal dua minggu kemudian. Pada tubuh pasien ditemukan kerusakan pada alveoli di kedua paru-parunya dan cedera pada hatinya yang mungkin disebabkan oleh infeksi oleh coronavirus atau mungkin obat yang digunakan untuk mengobati pasien tersebut.

“Ada kerusakan yang kurang substansial pada jaringan jantung, menunjukkan bahwa infeksi mungkin tidak secara langsung merusak jantung", kata laporan itu. Para peneliti mengatakan pengobatan kortikosteroid-penggunaan obat antiinflamasi (anti radang) yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tidak boleh secara rutin digunakan di luar uji klinis. Penggunaannya harus mempertimbangkan dukungan ventilator untuk pasien coronavirus dalam kondisi yang parah.

Wang Fu-sheng dan Zhao Jingmin, penulis dalam riset, tidak menanggapi permintaan komentar lebih lanjut. Mereka mencatat dalam penelitian ini bahwa tidak ada patologi yang dilaporkan sebelumnya untuk kasus Covid-19 karena otopsi atau biopsi yang sulit diakses. Sebuah studi terpisah yang diterbitkan dalam Jurnal The Lancet oleh para spesialis dari University of Edinburgh pada 7 Februari berpendapat bahwa, meskipun kortikosteroid - suatu kelas hormon steroid - banyak digunakan selama wabah SARSdan Mers dan telah dicoba pada pasien coronavirus yang baru, dan hasil studi menyarankan penggunaannya untuk mengurangi peradangan ternyata dapat menyebabkan komplikasi termasuk diabetes, kematian jaringan tulang dan penundaan pengangkatan virus.

“Dalam tinjauan pengobatan untuk sindrom gangguan pernapasan akut dari penyebab apa pun, berdasarkan enam studi dengan total 574 pasien, 19 menyimpulkan bahwa tidak ada bukti yang cukup untuk merekomendasikan pengobatan kortikosteroid,” kata studi tersebut. Lima ilmuwan Cina yang dipimpin oleh Lianhan Shang, dari Universitas Pengobatan Cina Beijing, menerbitkan tanggapan terhadap penelitian yang mendorong penggunaan kortikosteroid dalam kasus-kasus tertentu. Mereka mengakui risiko dalam menggunakan kortikosteroid dosis tinggi terhadap virus corona, termasuk potensi infeksi lain, tetapi mengatakan itu mungkin dibenarkan untuk pasien yang sakit kritis dengan peradangan yang signifikan di paru-paru mereka.

"Perawatan kortikosteroid adalah pedang bermata dua," tulis mereka. “Sejalan dengan konsensus para ahli, kami menentang penggunaan kortikosteroid secara liberal dan merekomendasikan kortikosteroid jangka pendek dengan dosis rendah hingga sedang, digunakan dengan hati-hati, untuk pasien [coronavirus] yang sakit parah,” tulis mereka.

Sumber : South China Morning Post