Almarhum Gus Sholah Menderita Aritmia Jantung. Apa Itu?

Sejumlah kerabat mendoakan almarhum KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah di rumah duka di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta, Senin (3/2/2020). Pengasuh pondok pesantren Tebuireng, Gus Sholah meninggal dunia pada hari Minggu (2/2/2020) pukul 20.55 WIB setelah menjalani perawatan pascaoperasi jantung di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta dan akan dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga yang berada di dalam kawasan Pesantren Tebuireng, Jawa Timur. - Antara
03 Februari 2020 12:27 WIB Nancy Junita News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - KH Ir Salahuddin atau Gus Sholah wafat, Minggu (2/2/2020). Putranya, Wahid Irfan Wahid mengemukakan bahwa ayahandanya  mengalami komplikasi sakit jantung setelah sempat menjalani perawatan di RS Harapan Kita, Jakarta.

"Ada masalah di jantung, ada cairan di selaput jantung dan dioperasi pada Jumat (31/1/2020) itu," kata Ipang Wahid sapaan karib Irfan Wahid seperti dikutip dari Antara.

Menurut dia, tokoh Nahdlatul Ulama (NU) itu mengalami detak jantung yang tidak normal sekitar dua pekan sebelumnya. Tim dokter di RS Harapan Kita Jakarta, kata dia, kemudian melakukan ablasi atau tindakan operasi terhadap jantung.

Apa itu ablasi?

Dikutip dari Wikipedia,  ablasi merupakan suatu tindakan operasi untuk mengatasi gangguan irama jantung atau aritmia dengan menggunakan kateter yang dimasukkan ke dalam ruang dalam jantung, dan kateter dihubungkan dengan mesin khusus yang memberikan energi listrik untuk memutus (membakar) jalur konduksi tambahan ataupun fokus-fokus aritmia yang menyebabkan ketidaknormalan irama jantung.

Dikutip dari www.siloamhospitals.com, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dr. Hendyono Lim, Sp.JP, aritmia merupakan gangguan pada detak jantung atau irama jantung yang ditandai dengan detak jantung yang tidak teratur, bisa terlalu cepat atau terlalu lambat.

Menurut Hendyono, gangguan ini sangat berkaitan dengan kondisi kardiovaskular, seperti tekanan darah tinggi, gagal jantung, penyakit katup jantung, dan penyakit arteri koroner.

Oleh karena itu, aritmia tidak bisa dianggap sepele karena bisa meningkatkan risiko stroke.  Dalam beberapa kasus bahkan menjadi menyebab kematian mendadak.

Pemicu detak jantung tidak normal

Dikatakan, tidak selamanya kondisi jantung bermasalah akan mengalami aritmia. Hal ini dikarenakan seseorang yang memiliki jantung sehat juga berpotensi terkena aritmia jika berada dalam kondisi sebagai berikut:

Penyalahgunaaan alkohol.
Diabetes.
Konsumsi kafein berlebihan.
Penyakit jantung.
Hipertensi.  
Gangguan hormonal (contoh: hipertiroid).
Tegang atau stres emosional.
Jaringan parut di jantung menjadi pemicu serangan jantung.
Merokok.
Mengonsumsi obat-obatan.
Gejala aritmia yang patut diwaspadai

Hendyono memaparkan, kebanyakan kasus gangguan detak jantung sering timbul tanpa gejala apapun, sehingga membuat seseorang tak sadar jika dirinya terkena aritmia. Namun, sebagian kasus lainnya menimbulkan gejala. Waspadai jika gejala yang timbul seperti di bawah ini:

Hilangnya kesadaran secara tiba-tiba
Kesulitan bernapas
Sakit kepala
Sakit pada bagian dada yang terasa seperti tertusuk, perih, dan tertekan
Badan terasa tidak bertenaga atau mudah lelah
Jantung berdetak lebih lambat dari detak jantung normal (bradikardia)
Jantung berdetak sangat cepat melebihi detak jantung normal atau lebih dari 100 kali per menit (takikardia).

“Untuk memastikan normal atau tidaknya detak jantung, bisa melakukan pemeriksaan mandiri,” ujarnya.

Caranya, tempelkan tiga jari di pergelangan tangan, hitung denyut nadi Anda selama 15 detik. Kalikan hasilnya dengan empat untuk mendapat angka denyut nadi istirahat Anda per menit. Hati-hati, jika hasilnya lebih lambat atau lebih cepat, karena dalam kondisi normal, jantung akan berdetak sebanyak 60-100 kali per menit.

Agar mendapat hasil lebih pasti, Anda bisa melakukan pemeriksaan ke dokter. Terlebih lagi jika Anda memiliki riwayat penyakit hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung. Biasanya Anda akan diikutkan dalam pemeriksaan lanjutan, seperti echo jantung, elektrokardiogram (EKG), serta uji latih jantung.

Sumber : Bisnis.com