Sandiaga Uno Ungkap Jenis Kemampuan yang Dibutuhkan di Masa Depan

Sandiaga Uno dalam acara Jakarta Halal Things yang digelar di Senayan City, Jakarta Selatan, Minggu (8/12/2019). Sandi menyebutkan bahwa produk kecerdasan emosional akan dibutuhkan di masa depan - Bisnis.com/Ria Theresia Situmorang
09 Desember 2019 05:37 WIB Ria Theresia Situmorang News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Ada yang menarik dari pernyataan pebisnis dan politikus Sandiaga Uno dalam acara Jakarta Halal Things yang digelar di Senayan City, Jakarta Selatan, Minggu (8/12/2019). Ia menyebutkan ke depan emotional intelligence atau kecerdasan emosional akan menjadi kemampuan yang akan sangat dibutuhkan.

Sandiaga menyebutkan beberapa waktu lalu internet of things, robotics dan artificial intelligence menjadi komoditas yang sangat dibanggakan. Ke depan, ujar Sandi, untuk meningkatkan daya saing justru kecakapan emosional yang akan sangat dibutuhkan.

“Ternyata bukan artificial intelligence (yang dibutuhkan) tapi emotional intelligence karena ujung-ujungnya pasar itu manusia juga, dan manusia adalah makhluk yang kompleks dan banyak sekali, justru aspek emosionalnya. Manusia ternyata enggak suka hal-hal yang artificial, mereka suka yang autentik,” ujar Sandi.

Sebagai contoh, Sandi menyebutkan perusahaan motor listrik, Tesla adalah hasil dari kecerdasan emosional yang mampu memberikan citra tersendiri pada produknya.

“Orang-orang yang beli produk Tesla itu tidak memberikan penjelasan secara spesifik. They just buy product because it’s Tesla. Karena ini menyentuh emosi, karena kita pengen rasa aman, nyaman,  ada rasa keren produk tersebut. Itu yang menyentuh sisi emosi dari customer kita,” terang Sandi.

Ke depan, pelaku usaha diharapkan dapat mengenali aspek emosional manusia. Product, place dan promotion, menurut Sandi memang tetap penting, namun di era saat ini orang tidak hanya membeli berdasarkan ketiga hal dasar tersebut. 

“Jadi saya ingin mengajak para entrepreneur pikir 10 sampai 15 tahun lagi, untuk create industry yang berbasis emotional. Itu enggak dibeli, direkayasa, harus betul-betul dimengerti melalui pendekatan emotional intelegensi,” ungkapnya.

“Beli bukan lagi karena harga, beli bukan lagi karena kualitas, bukan juga karena sampai ke kitanya cepat, tapi karena enak nih di hati. Itu yang sampai sekarang di-research oleh pebisnis besar untuk pasar kita ke depan,” ujar Sandi.

Sumber : Bisnis.com