Stigma terhadap Orang dengan HIV/AIDS Harus Disetop

Ilustrasi HIV/AIDS. - Harian Jogja/Dok
02 Desember 2019 21:52 WIB Tim Harian Jogja News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA) menjadi bagian penting dari program pencegahan dan penanggulangan. Penyetopan rantai stigma dan diskriminasi bisa dimulai dari lingkup kecil yaitu keluarga dan teman-teman terdekat . Kampanyenya banyak dilakukan oleh komunitas.

Di Jogja, satu komunitas yang tekun bergerak dalam program pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS adalah Yayasan Victory Plus Jogja. Samuel Rachmat Subekti, Direktur Yayasan Victory Plus Jogja memaparkan stigma dan diskriminasi muncul dari lingkup keluarga karena mereka belum bisa menerima kondisi salah satu anggota keluarganya yang terinfeksi HIV/AIDS. Rata-rata dari mereka belum mendapat edukasi yang benar tentang HIV maupun AIDS.

"Rata-rata masih salah memahami tentang penularan. Mereka takut ketularan anggota keluarganya yang positif. Kemudian ada stigma negatif di masyarakat, bahwa terinfeksi HIV berarti perilakunya negatif. Keluarga pun takut apa kata orang dan penilaian masyarakat," kata Samuel kepada Harian Jogja, Rabu (27/11/2019).

Edukasi tentang penularan HIV dan pemutusan rantai stigma menjadi hal yang penting untuk dilakukan oleh berbagai komunitas. "Kami bantu jembatani [keluarga dengan ODHA], kami edukasi keluarganya, meluruskan hal hal yang salah soal pemahaman penularan dan stigma yang menjadi penyebab mereka tidak menerima [kondisi anggota keluarga yang terinfeksi HIV]," kata Samuel.

Edukasi terhadap keluarga tak semudah ketika mengucapkannya. Butuh proses panjang untuk melakukan pendekatan, apalagi membuat keluarga mempercayai materi yang diberikan. Beberapa di antaranya adalah menyadarkan mereka bahwa penularan HIV hanya dapat terjadi melalui darah, kelamin dan air susu ibu.

"Kami sudah kerja sama dengan dokter dan konselor rumah sakit. Kalau belum puas juga dengan penjelasan kami, ada yang lebih profesional yang akan menjelaskan," kata Samuel. Di situ lah antara komunitas dan keluarga membangun dialog dan diskusi yang diawali pendekatan.

Samuel menjelaskan mengapa edukasi dan peretasan stigma keluarga penting untuk dilakukan (lihat grafis). Hal itu supaya keluarga dapat menjadi agen penguat fisik dan mental ODHA. Misalnya dengan mengingatkan jadwal minum obat, mengingatkan untuk disiplin menjaga pola makan.

Satu lagi komunitas yang juga getol bergerak mendekati masyarakat agar membantu ODHA lalu memotong rantai stigma dan diskriminasi adalah Rumah Singgah Kebaya (lihat bagian lain halaman ini). 

Peran yang dilakukan Yayasan Victory Plus dan Rumah Kebaya menjadi fokus PBB dalam peringatan Hari Aids Sedunia. Tahun ini Program bersama PBB untuk Penanganan AIDS (United Nations Programme on HIV and AIDS/UNAIDS)  bahkan mengambil tema global Communities Make the Difference. Tema ini dipilih karena dirasakan komunitas memberikan kontribusi yang sangat besar bagi respons HIV/AIDS.

“Dalam [peringatan], Hari Aids Sedunia, UNAIDS salut pada prestasi para aktivis dan komunitas yang gigih dalam penanggulangan HIV. Kami akan mengingat dan menghargai semua orang yang telah kami hilangkan [lupakan perannya] di jalan ini [penanggulangan HIV/AIDS]. Para aktivis menantang keheningan dan membawa layanan penyelamatan hidup pada komunitas-komunitas mereka. Tetapi kontribusi yang tak terhitung jumlahnya oleh para perempuan dan banyak lainnya tak bisa menggantikan tanggung jawab pemerintah [akan penanggulangan HIV/AIDS],” kata Winnie Byanyima, Executive Director of UNAIDS, dalam pidatonya memperingati Hari Aids Sedunia 2019 seperti yang tercantum pada situs resmi UNAIDS.  Ia juga mengingatkan, pemerintah di seluruh dunia berkomitmen sedikitnya 30% layanan HIV/AIDS dipimpin oleh komunitas masyarakat.

Di DIY Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DIY, Berty Murtiningsih, mengatakan stigma negatif yang beredar di masyarakat seputar HIV/AIDS kerap membuat ODHA mendapat berbagai jenis diskriminasi, terutama ODHA yang berdomisili di perdesaan.

Oleh karena itu Dinas Kesehatan DIY berkomitmen menyelenggarakan program rutin untuk meretas stigma negatif tersebut. "Untuk edukasi tentang HIV dan Aids itu kami berkolaborasi dengan Program Ketahanan Keluarga, dari Dinas DP3AP2 DIY melalui sosialisasi Peraturan Gubernur tentang Ketahanan Keluarga," kata Berty.

Dinas Kesehatan DIY juga melaksanakan kegiatan promosi kesehatan secara menyeluruh hingga menjangkau desa-desa di DIY melalui sosialisasi seputar HIV/AIDS yang dilakukan oleh Jambore Kader Kesehatan. 

"Kami juga rutin mengadakan kegiatan hari Aids. Konten acaranya berisi promosi kesehatan, yaitu diseminasi info tentang HIV , terutama masalah stigma. Kami luruskan stigma yang salah. Kemudian kami juga mendorong pelaksanaan bulan tes HIV  hingga ke kabupaten," kata Berty.

Target 2030

Hal itu selaras dengan semangat peringatan Hari Aids Sedunia yang mengedepankan peran daerah.   Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan dokter Anung Sugihantono, mengatakan pemerintah daerah memahami betul dan mengedepankan koordinasi di tingkat lokal untuk upaya pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS.

Tema nasional peringatan Hari Aids Sedunia tahun ini adalah  Bersama Masyarakat Meraih Sukses!. Anung menyebut Kementerian Kesehatan dan para mitra ingin mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk meraih sukses mencapai Three Zero pada 2030.

“Upaya pencegahan dan pengendalian HIV -AIDS bertujuan untuk mewujudkan target Three Zero pada 2030, antara lain tidak ada lagi penularan infeksi baru HIV, tidak ada lagi kematian akibat AIDS, dan tidak ada lagi stigma dan diskriminasi pada orang dengan HIV/AIDS,” katanya.

Upaya yang terus dilakukan Pemerintah pada 2017 telah dicanangkan strategi Fast Track 90-90-90 yang meliputi percepatan pencapaian 90% orang mengetahui status HIV melalui tes atau deteksi dini; 90% dari ODHA yang mengetahui status HIV memulai terapi ARV, dan 90% ODHA dalam terapi ARV berhasil menekan jumlah virusnya sehingga mengurangi kemungkinan penularan HIV, serta tidak ada lagi stigma dan diskriminasi ODHA.

Dalam rangka mencapai target tersebut, Kementerian Kesehatan menerapkan strategi akselerasi Suluh, Temukan, Obati dan Pertahankan (STOP). Suluh dilaksanakan melalui edukasi hendak dicapai 90% masyarakat paham HIV. Temukan dilakukan melalui percepatan tes dini akan dicapai 90% ODHA tahu statusnya. Obati dilakukan untuk mencapai 90% ODHA segera mendapat terapi ARV. Pertahankan yakni 90% ODHA yang ART tidak terdeteksi virusnya. Selain itu, Kemenkes melakukan akselerasi ARV, dengan target pada 2020 sebanyak 258.340 ODHA yang mendapat terapi ARV. Saat ini baru 50% (17 provinsi) yang telah mencapai target ODHA on ARV.