Penjualan Polis AIA Turun Gara-Gara Gejolak Hong Kong

Demonstran anti-pemerintah merusak sebuah toko selama protes di Hong Kong, Cina, 20 Oktober 2019. - REUTERS/Umit Bektas
28 Oktober 2019 10:37 WIB Renat Sofie Andriani News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Pergolakan politik selama lebih dari empat bulan terakhir di Hong Kong berikut dampaknya terhadap pariwisata China ke wilayah itu telah membebani kinerja AIA Group Ltd.

Penjualan polis perusahaan asuransi yang berpusat di Hong Kong tersebut dilaporkan turun.

Dalam sebuah pernyataan kepada bursa saham lokal pada Senin (28/10/2019), seperti dilansir melalui Bloomberg, nilai bisnis baru unit terbesar perusahaan, ukuran profitabilitas polis baru di masa mendatang, turun sebesar dua digit pada kuartal III/2019.

Meski AIA tidak menyampaikan angka pasti untuk penurunan tersebut di Hong Kong, nilai bisnis baru secara keseluruhan disebut sedikit berubah pada kuartal ketiga menjadi US$980 juta. Adapun di luar Hong Kong, nilai bisnis baru mampu naik 14 persen.

Peningkatan yang mampu dibukukan dari penduduk di Hong Kong terhapuskan oleh penurunan penjualan untuk pengunjung dari China daratan.

“Penurunan ini mengikuti penurunan kedatangan pengunjung secara keseluruhan ke Hong Kong pada bulan Juli dan Agustus,” terang AIA.

Pengunjung China daratan diketahui membeli polis asuransi di Hong Kong sebagai cara untuk memindahkan modal ke luar negeri di tengah ketidakpastian ekonomi dan pelemahan mata uang. Nilai tukar yuan China terdepresiasi hampir 4 persen pada kuartal III.

“Beberapa pasar kami mengalami tekanan dari kondisi suku bunga yang lebih rendah, kepercayaan konsumen yang menurun, serta meningkatnya ketegangan politik dan perdagangan,” lanjut AIA.

“Secara khusus, berkurangnya jumlah pengunjung China daratan ke Hong Kong terus memengaruhi penjualan,” tambahnya.

Meski demikian, pasar tak tampak bereaksi negatif atas pernyataan ini. Berdasarkan data Bloomberg, saham AIA justru naik 1,5 persen pada awal perdagangan Senin (28/10) di Hong Kong sekaligus membawanya mengalami kenaikan sekitar 17 persen sepanjang tahun berjalan.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia