Masuk Bursa Menteri Jokowi, Rektor UIN Jogja Ingin Menyertifikasi Khatib Salat Jumat

Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto (kanan) menerima penghargaan sebagai Dosen Kehormatan dari UIN Sunan Kalijaga yang diserahkan oleh rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Yudian Wahyudi, Sabtu (3/11/2018). - Harian Jogja/Bernadheta Dian Saraswati
16 Oktober 2019 20:17 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-- Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Jogja, Yudian Wahyudi, digadang-gadang sebagai calon menteri agama.

Yudian Wahyudi mengatakan apabila dipilih sebagai Menteri Agama (Menag) dalam Kabinet Kerja Jilid II pemerintahan Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin, dirinya siap mewujudkan program sertifikasi khatib atau penceramah salat Jumat guna memberantas radikalisme.

Pada Juli 2019, Forum Rektor Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) menyepakati dua nama untuk diajukan menjadi calon Menag. Calon pertama adalah Yudian Wahyudi selaku Rektor UIN Sunan Kalijaga, calon kedua Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Fauzul Iman.

"Misalnya, kalau benar ini ya, saya belum tahu kan, tunggu beberapa hari lagi. Tapi andai kata benar saya jadi menteri [Menag] itu akan saya sertifikasi para khatib," kata Yudian di sela acara Pembukaan Peringatan Hari Santri Nasional di Gedung Prof H M Amin Abdullah UIN Sunan Kalijaga, Jogja, Rabu (16/10/2019).

Menurut Yudian penceramah di masjid-masjid BUMN harus mendapatkan izin dari pemerintah. Demikian juga dengan penceramah di masjid-masjid sekolah negeri mulai dari SD hingga perguruan tinggi.

"Kami akan tertibkan, tidak bisa lagi hanya main sepihak. Andai kata benar [menjadi Menag] lo itu, akan bekerja sama dengan kepolisian dan sebagainya," kata dia.

Dikatakannya program tersebut hanya bisa ia wujudkan apabila dirinya dipilih sebagai Menag. Kendati siap menjalankan tugas sebaik-baiknya jika menjabat Menag, ia menegaskan tidak akan pernah melakukan lobi-lobi politik untuk masuk kabinet.

"Kalau tidak Menag nanti saya didalili [diceramahi dengan dalil]. Kalau tidak Menag tidak punya otoritas untuk itu," kata dia.

Yudian menilai bahaya radikalisme di Indonesia harus segera ditindaklanjuti hingga ke akarnya. Peristiwa penusukan terhadap Menkopolhukam Wiranto beberapa waktu lalu telah menunjukkan bahaya radikalisme masuk level satu atau darurat.

"Ini menunjukkan eskalasinya mereka [teroris] sangat berani dan mereka sangat mengejar sasaran-sasaran tingkat tinggi. Kalau tingkat tinggi saja kena, yang tingkat bawah kena tidak nanti? itu masalahnya," kata Yudian.

Sebelumnya, Menag Lukman Hakim Saifuddin juga pernah mengangkat wacana sertifikasi khatib atau penceramah salat Jumat. Hingga kini wacana yang bersumber dari aspirasi masyarakat itu belum diterapkan dan masih dalam kajian.

Sumber : Antara