Tashih Mushaf Alquran Standar Indonesia Butuh Akademisi

Ilustrasi. - Bisnis Indonesia/Dwi Prasetya
19 September 2019 06:47 WIB Uli Febriarni News Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-Kepala Lajnah Pentashihan (pengesahan) Mushaf Alquran Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Muchlis Hanafi menyebutkan proses pentashihan Alquran sesungguhnya adalah kerja ilmiah.

Karena itu perlu dilakukan pembinaan pentashihan Alquran dengan menggandeng para dosen dan mahasiswa Prodi Ilmu Alquran dan Hadis agar bisa terwujud pentashihan mushaf Alquran standar Indonesia.

"Sebagai akademisi, para dosen dan mahasiswa Prodi Ilmu Alquran dan Tafsir di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga [UIN Suka] dinilai matang untuk diajak mengembangkan pentashihan mushaf Alquran standar Indonesia," jelas dia seusai memberikan sambutan dalam pembinaan dan pelatihan pentashihan Alquran, kepada 15 dosen dan 50 mahasiswa Prodi Ilmu Quran dan Tafsir UIN Suka, Rabu (18/9).

Seiring dengan menguatnya arabisasi Alquran dengan pemahaman semua tata cara penulisan mushaf Alquran yang benar adalah yang serba Arab, atau yang berlaku seperti di Arab, menurut Muchils hal itu tidak pas bila berkembang pesat di Indonesia.

"Jika yang berkembang adalah penerapan standar Arab dalam pentashihan mushaf Alquran di Indonesia, maka akan banyak persoalan kekinian tidak bisa terselesaikan  dengan baik," kata dia.

Kondisi itu menuntut Kementerian Agama bekerja keras mewujudkan mushaf Alquran standar Indonesia. Dengan demikian, Kementerian Agama perlu menggelorakan budaya tadarus Alquran, agar masyarakat Indonesia bisa mengenal lebih dekat mushaf Alquran standar Indonesia.

"Dan agar masyarakat Indonesia tidak tenggelam dalam propaganda arabisasi pentashihan Alquran yang sangat gencar dewasa ini," kata dia.

Melalui kerja sama dengan UIN Suka, selain melakukan pembinaan, pihaknya juga akan mendapatkan kontribusi akademik, khususnya terkait dengan pentashihan mushaf Alquran.

Panitia Penyelenggara Deni Hudaeny mengatakan kegiatan yang terselenggara atas kerja sama antara UIN Suka dengan Lajnah Pentashihan Mushaf Al Quran (LPMQ) Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama ini, merupakan perwujudan amanat Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia No.44/2016, tentang Penerbitan, Pentashihan dan Peredaran Musaf Alquran.

"Melalui paparan para narasumber, diharapkan semua peserta  akan lebih memahami profil QKIW sebagai satuan kerja di Kementerian Agama, yang memiliki otoritas dalam melakukan pentashihan, pembinaan dan pengawasan peredaran musaf Alquran di Indonesia," ujarnya.

Penyelenggara juga berharap, para peserta bisa lebih memahami  bagaimana musaf Alquran standar Indonesia. Terakhir, peserta diharapkan lebih banyak mengenal berbagai keilmuan Alquran terkait pentashihan musaf Alquran.

Rektor UIN Suka Prof. Yudian Wahyudi mengungkapkan hal yang harus dipahami dalam pentashihan mushaf Alquran adalah teori kenabian seperti yang disampaikan oleh Prof. Hasan Hanafi tentang hubungan vertikal antara Rasulullah dan Allah SWT dalam menerima wahyu.

Menurut teori ini, Nabi Muhammad SAW hanya berperan sebagai penerima yang pasif. Artinya ketika beliau menerima wahyu Alquran dari Allah melalui Malaikat Jibril, dia menerima apa adanya tanpa melakukan penafsiran sedikit pun.

"Jadi, Alquran itu otentik dari Allah. Setelah menerima wahyu dan Alquran ditulis oleh para sahabat, Nabi Muhammad lalu menafsirkannya sesuai dengan situasi dan kebutuhan umat Islam saat itu. Penafsirannya itu lalu dikenal dengan istilah Sunnah Rasulullah," ujarnya.

Berdasarkan hal itu, Yudian berharap kepada Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran agar melakukan kegiatan serupa secara reguler dan terus-menerus.