Nila Larasati dari Klaten Jadi Primadona Petani Ikan Tanah Air

Kondisi kolam ikan di Satuan Kerja Perbenihan dan Budi Daya Ikan Air Tawar (PBIAT) Janti, Klaten, Senin (2/9 - 2019). (Solopos/Ponco Suseno)
04 September 2019 13:07 WIB Ponco Suseno News Share :

Harianjogja.com, KLATEN - Ikan nila Larasati semakin dikenal para petani ikan di Tanah Air sejak ditetapkan sebagai benih ikan bermutu pada Oktober 2009. Selain tahan berbagai penyakit, ikan ini memiliki nilai ekonomis tinggi karena dagingnya lebih tebal dibandingkan ikan nila pada umumya.

Ikan jenis ini dikembangkan Satuan Kerja (Satker) Perbenihan dan Budi Daya Ikan Air Tawar (PBIAT) Janti di Kecamatan Polanharjo, Klaten. Nila Larasati kepanjangan dari nila merah strain janti. Nila Larasati hasil persilangan induk jantan nila putih Pandu dan induk betina nila hitam Kunti.

Penetapan nila Larasati sebagai benih bemutu sesuai keputusan Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, yakni Kep 79/Men/2009 tertanggal 23 Oktober 2009.

Hingga sekarang, produksi benih ikan dipusat pembenihan di Janti itu dinilai masih stabil meski berlangsung musim kemarau. Di lokasi seluas 2,8 hektare itu terdapat sejumlah paket indukan yang tertampung dalam satu kolam.

Setiap kolam terdiri dari 100 indukan jantan dan 300 indukan betina. Sejauh ini, Satker yang menginduk di Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng itu memproduksi sedikitnya 200.000 benih ikan nilaLarasati per pekan.

“Di musim kemarau ini memang cuaca sangat panas. Tapi, pertumbuhan ikan dan usaha pembenihan di sini tak terlalu terpengaruh. Soalnya pasokan air melimpah. Lokasi di sini dekat dengans umber air [Umbul Nilo dan Wunut]. Setiap pekan, kami masih bisa memanen benih ikan tiap Rabu dan Jumat. Setiap panen, sekitar 100.000 benih ikan nila Larasati,” kata Kepala Tata Usaha Satker PBIAT Janti, Sih Martoyo, saat ditemui wartawan di kantornya, Senin (2/9/2019).

Sih Martoyo mengatakan nila Larasati memiliki berbagai keunggulan. Di antaranya, seperti tahan penyakit, pertumbuhan cepat, dapat hidup di air payau.

“Banyaknya keunggulan yang dimiliki nila Larasati itu mengakibatkan banyak pula penggemarnya. Tak heran, sejumlah petani ikan ramai-ramai memesan nila Larasati, seperti dari daerah Soloraya, Jatim, Batam, Kalimantan, dan lain sebagainya,” katanya.

Sih Martoyo mengatakan harga beli ikan nila Larasatisangat terjangkau masyarakat. Biasanya, benih ikan yang dijual berukuran panjang 35 mm dan 57 mm.

“Harga beli benih sepanjang 35 mm senilai Rp65 [per benih]. Sedangkan benih sepanjang 57 mm senilai Rp75 [per benih],” katanya.

Keberadaan balai benih ikan di Janti itu sering dikunjungi para petani, mahasiswa, dan masyarakat lainnya di Tanah Air setiap bulannya. Hal itu seperti yang dilakukan puluhan petani asal Gondang, Limbangan, Kendal.

“Kami tertarik ingin budidaya ikan nila Larasati. Makanya kami berkunjung ke sini. Kami ingin mempelajari terlebih dahulu tentang ikan nila di sini. Selanjutnya akan kami aplikasikan saat sampai di Kendal,” kata salah satu petani asal Limbangan, Kabupaten Kendal, yakni Waris. 

Sumber : Solopos.com