Bumil Tak Minat dengan Rumah Tunggu Kelahiran, Padahal Gratis

ilustrasi ibu melahirkan. (huffingtonpost)
29 Agustus 2019 14:57 WIB Abdul Jalil News Share :

Harianjogja.com, PONOROGO – Ibu hamil di Ponorogo, Jawa Timur tak berminat dengan Rumah Tunggu Kelahiran (RTK) di dua lokasi yang sudah disediakan Dinas Kesehatan setempat. Padahal di rumah tunggu itu pemerintah menyediakan berbagai fasilitas bagi ibu hamil maupun keluarga yang menunggu.

Selain mendapatkan fasilitas hunian gratis, ibu hamil beserta keluarganya juga mendapatkan fasilitas makan tiga kali sehari. Penyediaan fasilitas RTK ini terkait dengan tingginya angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Ponorogo. Terlebih penyebab kematian ibu melahirkan ini karena kondisi badannya sakit. 

Keberadaan RTK ini diharapkan ibu hamil yang berisiko cepat mendapat penanganan. Terutama ibu hamil yang tinggal di lokasi yang susah dijangkau karena medannya yang sulit.

Secara geografis, sebagian desa di Ponorogo berada di daerah pegunungan dengan kondisi jalan yang jelek.

Kasi Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat Dinas Kesehatan Ponorogo, Lis Suwarni, mengatakan dua RTK yang disediakan berada di Kecamatan Badegan dan di Kelurahan Paju atau dekat RSUD dr. Harjono Ponorogo.

Rumah tunggu tersebut bisa dimanfaatkan sebulan sebelum ibu melahirkan. Terutama bagi ibu hamil yang lokasi rumahnya berada di daerah dengan akses yang sulit. Selain itu, juga bagi ibu hamil yang memiliki risiko tinggi.

"Rumah tunggu ini untuk memfasilitasi ibu hamil yang dari awal sudah berisiko. Ini supaya kalau terjadi apa-apa tidak terjadi keterlambatan rujukan," kata dia, Minggu (25/8/2019).

Lis menjelaskan ibu hamil yang tengah kontraksi sangat berbahaya jika harus melalui jalan yang terjal dan sulit diakses untuk sampai ke rumah sakit.

Tetapi, kata dia, ternyata RTK itu tidak dimanfaatkan masyarakat khususnya ibu hamil secara maksimal. Dia mencontohkan ada seorang ibu hamil dari Ngrayun yang diminta tinggal di RTK sebulan sebelum perkiraan persalinan.

Tetapi, ibu hamil tersebut tidak mau dan memilih untuk pulang ke rumahnya. Alasannya di rumah ada anaknya yang sekolah, sehingga tidak mungkin kalau harus bolak balik dari RTK ke rumahnya. Sehingga ibu hamil itu memutuskan untuk pulang.

"Padahal kondisi ibu hamil itu dalam kondisi berisiko," katanya.

"Ternyata membuat ibu hamil yang berisiko untuk tinggal di rumah tunggu ini tidak mudah. Padahal supaya tidak ada keterlambatan dalam rujukan," kata Lis. 

Sumber : Solopos.com