Advertisement
AJI: Media Lebih Semangat Jika Pelaku Korupsi Perempuan
Terdakwa kasus pemberian keterangan yang tidak benar saat bersaksi dalam sidang perkara korupsi pengadaan KTP-el, Miryam S Haryani, menjalani sidang putusan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (13/11). - ANTARA/Rosa Panggabean
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA -Kalangan media nasional dan lokal lebih banyak menciptakan stereotip perempuan dalam pemberitaan. Hal tersebut disampaikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta.
Majelis Etik Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta Sunudyantoro mengatakan, pemerintah kini gencar dalam memberantas korupsi. Pelaku korupsi bisa muncul dari kaum perempuan dan laki-laki.
Advertisement
"Media lebih semangat bila pelaku korupsi adalah perempuan. Korupsi itu enggak mengenal gender, karena itu tak adil bila media memperlakukan dengan cara berbeda, atau dibilang perempuan menyebabkan korupsi," ungkapnya di Jakarta, Jumat (23/8/2019).
Pria yang akrab disapa Sunu ini mengatakan, judul yang menarik dan cenderung mengeksploitasi tubuh perempuan cukup sering digunakan oleh media. Media juga menilai, menghakimi dan menciptakan konstruksi sosial bahwa perempuan adalah penyebab munculnya koruptor laki-laki.
BACA JUGA
Selain itu, stereotip yang dibangun media di publik adalah perempuan gemar berbelanja dan menghamburkan uang, sehingga memaksa pria menjadi mencari uang haram untuk memenuhi kebutuhan perempuan.
Sunu menilai, hal tersebut tidak benar. "Perlu diketahui juga, tidak semua perempuan suka berbelanja, sebab banyak juga pria yang hedonis dan lebih suka menggunakan produk-produk dengan brand internasional dan lupa mengontrol nafsu duniawi." ujarnya.
Tak hanya itu, kalangan media cukup banyak menulis persoalan pribadi koruptor perempuan dibandingkan dengan laki-laki. Penulisan yang subjektif ini dilakukan untuk mengundang klik dari pembaca. Sunu berpesan, akan lebih baik bila kalangan media follow the money dan tak mengeksploitasi gender tertentu.
Malangnya, pemberitaan yang dibangun oleh media lokal dan nasional telah menciptakan ruang yang lebih besar untuk mencemooh koruptor perempuan dibandingkan dengan koruptor laki-laki-laki. Dia menyayangkan sekali, bila wartawan-wartawan yang bekerja secara profesional masih bias gender dalam menulis berita.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Polisi Didesak Tangkap Dalang Teror Penyiram Air Keras Aktivis
- Tips Mudik Aman 2026, Gunakan Layanan 110 Jika Ada Gangguan
- Pulau Jawa Terancam Krisis Air, Bappenas Ingatkan Risiko Serius
- Serangan Air Keras ke Andrie Yunus Dinilai Ancam Demokrasi
- Terminal Jatijajar Prediksi Puncak Arus Mudik 18 Maret 2026
Advertisement
Jadwal Bus Sinar Jaya Rute Jogja-Parangtritis dan Baron, 15 Maret
Advertisement
Destinasi Wisata dengan Panorama Samudera dari Atas Karang Gunungkidul
Advertisement
Berita Populer
- Operasi Ketupat Progo 2026, Polres Bantul Siagakan 550 Personel
- Top Ten News Harianjogja.com, Sabtu 14 Maret 2026
- OTT Bupati Cilacap, 13 Orang Digelandang KPK ke Jakarta
- Harga Emas Antam Turun Rp24.000, UBS dan Galeri24 Ikut Melemah
- Destinasi Wisata dengan Panorama Samudera dari Atas Karang Gunungkidul
- Kasus Campak 2026 Tembus 8.716, Kemenkes Percepat Imunisasi
- Angkutan Lebaran 2026, Stasiun Jogja Dipercantik Ornamen Ramadan
Advertisement
Advertisement







