Jateng & DIY Targetkan 2 Juta Turis Asing & Devisa Rp30 Triliun

Menteri Pariwisata Arief Yahya menyampaikan sambutan pada pembukaan Rapat Kerja Nasional IV PHRI, di Jakarta, Senin (11/2/2019). - JIBI/Bisnis Indonesia/Dedi Gunawan
23 Agustus 2019 21:32 WIB Hafiyyan News Share :

Harianjogja.com, SEMARANG—Kementerian Pariwisata menargetkan jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Jawa Tengah dan DIY mencapai 2 juta orang pada tahun depan. Dengan demikian, potensi devisa yang bisa diraih sekitar US$2 miliar atau Rp30 triliun.

“Potensi pemasukan mencapai US$2 miliar atau sekitar Rp30 triliun, beredar di [Daerah Istimewa] Yogyakarta dan Jawa Tengah. Pendapatan ini tentunya akan lebih banyak ke masyarakat,” kata Menteri Pariwisata Arief Yahya dalam siaran pers, Jumat (23/8/2019).

Oleh karena itu, Arief menyampaikan, perlu mempercepat pembangunan dari sisi atraksi, amenitas, dan aksesibilitas. Di samping pengembangan tersebut, faktor penentu keberhasilan pariwisata adalah akses.

Bandara Adisutjipto di Skeman sebagai akses utama sudah melampaui kapasitas dari normalnya 1,5 juta penumpang menjadi 6 juta penumpang. Peningkatan load factor hingga 4 kali lipat ini tentunya dapat menjadi masalah.

Oleh karena itu, Kemenpar juga akan mengecek kesiapan Bandara Internasional Yogyakarta di Kulonprogo, untuk menunjang akses kedatangan wisman.

Pemerintah memberikan anggaran tambahan sebesar Rp6,4 triliun untuk lima destinasi super prioritas, termasuk kawasan Borobudur sebesar Rp1,5 triliun. Dana tersebut digunakan sebagai pengembangan infrastruktur dasar yang ditargetkan rampung pada 2020.

“Tahun lalu, Kementerian PUPR menganggarkan untuk sektor pariwsata di Borobudur Rp300 miliar. Lalu pada 2020 naik 5 kali lipat. Untuk itu Pemerintah daerah harus memanfaatkan dengan baik. Targetnya infrastruktur dan utilitas dasar harus selesai 2020,” ungkap Arief.

Direktur Utama Badan Otoritas Borobudur (BOB) Indah Juanita mengatakan, pihaknya juga mengembangkan konsep Glamorous Camping atau Glamping di Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo. Dalam glamping, segala kemewahan penginapan tetap ada tanpa kehilangan sensasi berkemah.

“Di sini nanti yang akan kita bangun pameran nomadic, ada rumah pohon sama homepod jadi itu tipe-tipe nomadic tourism, terus kami juga akan bikin green house yang bisa memproduksi anggrek khas Perbukitan Menoreh,” tuturnya.

Dia menjelaskan, BOB berusaha agar lingkungan masyarakat bisa dilibatkan dalam setiap pengembangan pariwisata setempat. Hal itu juga bertujuan menjaga kearifan lokal.

“Kami  pakai sumber yang ada di sini. Terus menjaga kearifan lokal termasuk makanan khas atau permainan anak-anak itu juga kearifan lokal,” imbuhnya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia