Benarkah Ada Migrasi Gempa di Indonesia? Ini Kata BMKG ...

Grafik hasil pencatatan seismometer/seismograf, alat pencatat besaran gempa bumi. - Reuters
05 Agustus 2019 14:37 WIB Mia Chitra Dinisari News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--Peristiwa gempa bumi yang terus melanda beberapa daerah di Indonesia secara bergantian, memunculkan anggapan bahwa gempa bisa menjalar kemana-mana.

Seperti gempa bumi yang terjadi di Lombok kemudian menyeberang ke Palu, kemudian dari Papua menerjang Maluku utara, Halmahera Selatan, Sumbawa, Bali, dan Banten, dam entah mana lagi nanti daerah yang dituju.

Pasca gempa Banten M 6,9 pada 2 Agustus 2019, kini berkembang berita yang viral di media sosial bahwa akan terjadi gempa besar megathrust berkekuatan M 9,0 dan mereaktivasi sesar aktif Baribis.

Gejala “menjalarnya” atau “migrasi” gempa dari tempat ke tempat lain, secara ilmiah masih sulit diterangkan. Hingga saat ini, kita lebih mudah mengkaji aktivitas gempa dalam aspek spasial dan temporal daripada mengkaji perubahan dan perpindahan tegangan (stress) di kulit Bumi.

Inilah mengapa sangat sulit menerangkan secara empirik dugaan sebagian orang bahwa gempa saling berhubungan dan dapat menjalar kesana kemari.

Ada sebagian pakar berpendapat, perubahan pola tegangan regional (regional stress pattern) mungkin dapat menerangkan gejala ini. Tetapi nyatanya, hingga saat ini bagaimana memodelkan hal itu masih sulit dilakukan. Namun demikian dalam perkembangan ilmu kegempaan, setidaknya sudah ada dua teori pemicuan antar gempa, yaitu pemicuan yang bersifat statis (permanen) dan pemicuan yang bersifat dinamik (yang berpindah).

Dr. Daryono Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG mengatakan pemicuan yang bersifat statis dapat terjadi pada gempa-gempa yang sangat dekat lokasinya, sebagai contoh adalah munculnya gempa-gempa baru di Lombok di bagian barat dan timur yang diduga kuat akibat pemicuan gempa yang bersifat statis (static stress transfer) dari gempa Lombok M 7,0 yang terjadi sebelumnya. Transfer tegangan statis ini berkurang secara cepat terhadap jarak dan disebabkan oleh perpindahan patahan yang permanen.

Sementara itu, untuk pemicuan dinamis bisa berkaitan dengan gempa-gempa dekat dan jauh. Transfer tegangan dinamis ini sifatnya lebih kecil, berkurang dengan melambat terhadap jarak dan merupakan tegangan yang dibawa oleh gelombang seismik oleh batuan. Konsep pemicuan dinamik ini lebih sering dikaitkan dengan gempa jarak jauh.

Karena nilai transfer tegangannya kecil maka syarat utama yang dibutuhkan adalah patahan yang terpicu harus benar-benar ada di titik kritisnya. Sehingga "dicolek" sedikit saja oleh tegangan, maka akan menimbulkan gempa.

Konsep pemicuan dinamik ini sangat rumit dan banyak syarat yang harus terpenuhi. Karena itu, bagi mereka yang paham betul ilmu seismolog akan sangat berhati-hati mengatakan satu gempa bisa menimbulkan gempa lainnya. Atau mencocok-cocokkan satu gempa dengan gempa lainnya seolah saling berkaitan.

Karena masih sulit menjelaskan secara empiris kaitan antara gempa satu dengan gempa lainnya, yang pasti gempa-gempa yang terjadi di tanah air belakangan ini, berpusat di zona rawan gempa. Ini tentu hal wajar saja. Dan jika terjadi secara bersamaan merupakan sebuah kebetulan saja.

Masing-masing gempa tentu memiliki medan ketegangan berbeda dan mencapai tingkat akumulasi yang maksimal yang bersamaan, sehingga mengalami pelepasan energi masing-masing yang dimanifestasikan dalam kejadian gempa yang mungkin saja terjadi secara bersamaan.

Sumber : Bisnis.com