Pemerintah Siapkan Modifikasi Cuaca untuk Tanggulangi Kekeringan di Sejumlah Daerah

Ilustrasi kekeringan - REUTERS/Jose Cabezas
02 Juli 2019 19:47 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA-- Guna menanggulangi kekeringan, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT ) melalui Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca menyiapkan strategi pelaksanaan teknologi modifikasi cuaca (TMC) di berbagai daerah.

“Kami baru dikontak Kementerian Desa Pembangunan Daerah Teringgal dan Transmigrasi mengenai kemungkinan dilaksanakan TMC di berbagai daerah di wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Detil daerahnya belum diinfokan, namun dilaporkan sejumlah daerah di tiga wilayah tersebut mulai alami kekeringan,” ungkap Kepala BPPT Hammam Riza melalui siaran pers di Jakarta, Selasa (2/7/2019).

Selain wilayah tersebut, Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Batam kata juga meminta dilaksanakan TMC.

Sedikitnya terdapat lima sampai enam waduk di Pulau Batam yang mengalami mengalami defisit pasokan air akibat kemarau panjang dan anomali iklim.

“Padahal waduk-waduk tersebut menjadi sumber utama pasokan air baku untuk sekitar 1,4 juta penduduk Batam,” kata dia.

Bupati Indramayu juga telah melayangkan surat pada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengenai permintaan dilaksanakan TMC karena kondisi di wilayahnya yang memprihatinkan.

“Hingga pertengahan Juni lalu, tanaman padi yang terancam kekeringan di Kabupaten Indramayu sudah mencapai ribuan hektare,” ungkap Hammam.

Data Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Provonsi Jawa Barat mencatat hingga 15 Juni, tanaman padi yang terancam kekeringan di Kabupaten Indramayu mencapai 12.358 hektare dari total tanaman padi 83.653 hektare.

Dalam hal ini, Hammam menyampaikan, pihaknya akan berkoordinasi dengan BNPB dan Pemda setempat untuk menindaklanjuti permohonan tersebut

Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC( Tri Handoko Seto mengatakan, pihaknya sejak awal tahun saat curah hujan masih tinggi sudah menghimbau institusi, baik pemerintah maupun swasta untuk bersama-sama mengantisipasi musim kemarau dengan melakukan TMC pada masa transisi dari musim hujan ke musim kemarau.

“Sebenarnya kami sejak awal tahun ketika curah hujan masih tinggi, sudah bergerilya ke beberapa institusi baik pemerintah maupun swasta untuk bersama-sama mengantisipasi musim kemarau dengan melakukan TMC pada masa transisi dari musim hujan ke musim kemarau,” ujarnya.

Jika TMC antisipasi kekeringan dilakukan tepat waktu sebelum masuk musim kemarau, kata Tri Handoko Seto, maka hasilnya akan sangat efektif dan efisien.

“Kami ingin meniru cara Thailand dengan memastikan semua waduk dan danau terisi penuh ketika menjelang musim kemarau sehingga persediaan air bisa dimanfaatkan selama musim kemarau .Namun kenyataannya, presepsi TMC di masyarakat luas dan pemangku kepentingan, belum terbentuk dengan baik,” ungkap Seto.

Jon Arifian, Kepala Bagian Umum BBTMC mengungkapkan sebenarnya sudah ada kontrak kerja antara BBTMC dan pengelola DAS Citarum. Mekanisme pembiayaan TMC di tiap-tiap provinsi sudah diatur dalam PP No.51/2018 tentang Jenis dan Tarif atas jenis PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) yang berlaku pada BPPT.

Namun apabila kondisi ini telah menjadi perhatian nasional, kata Jon Arifian, maka mekanisme darurat bencana (kekeringan) dapat ditetapkan, sehingga instansi terkait seperti BNPB bisa menggunakan instrumen darurat untuk pelaksanaan TMC.

“Walaupun potensi kecil, dengan mekanisme tersebut kami bisa bergerak memanfaatkan peluang dengan status darurat tersebut,” ujarnya.

Sutrisno, Kabid Pelayanan Teknologi Modifikasi Cuaca BBTMC mengatakan saat ini tengah dibuat kajian untuk dilaksanakan TMC di wilayah-wilayah yang dilaporkan mengalami kekeringan.

“TMC akan efektif kalau di daerah target masih banyak peluang akan munculnya awan-awan potensial. Untuk musim transisi munculnya awan potensial masih memungkinkan, tapi untuk puncak kemarau memang akan relatif sulit untuk ditemukan awan-awan potensial. Kemungkinan hanya ada awan-awan orografis yang berada di lereng-lereng gunung,” ujarnya.

Oleh karena itu, BBTMC, lanjut Sutrisno, selalu menghimbau kepada pengelola waduk, danau atau embung agar melaksanakan TMC di akhir musim penghujan agar tinggi muka air maksimal .

“Sehingga dapat memiliki cadangan air cukup pada periode kemarau untuk keperluan irigasi, pasokan air baku dan lain sebagainya,” pungkasnya.

Sumber : Antara