1 Korban Helikopter PK-CFX Jatuh Dimakamkan di Glodogan Klaten
Korban helikopter jatuh dimakamkan di Klaten, keluarga dan warga iringi pemakaman dengan suasana duka mendalam.
Warga memasak di dapur bersebelahan dengan kandang sapi di Dukuh Banjarjo, Desa Dompyongan, Jogonalan, Rabu (3/10/2018). (Solopos-Cahyadi Kurniawan)
Harianjogja.com, KLATEN--Menyusul temuan kasus antraks di Kabupaten Gunungkidul, DIY, Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Klaten memperketat pengawasan ternak karena letak dua daerah tersebut berdekatan.
Kepala DPKPP Klaten, Widiyanti, mengatakan belum ada laporan terkait penyebaran antraks di Klaten setelah temuan kasus sapi terjangkit antraks di Gunungkidul. Ia menjelaskan selama ini antisipasi sudah dilakukan dengan pemeriksaan hewan ternak seperti sapi dan kambing secara periodik serta pengecekan kesehatan hewan di pasar hewan.
“Setiap kali ada ternak keluar dan masuk wilayah Klaten tentu kan ada izinnya yang menyatakan sapi itu sehat,” kata Widiyanti saat dihubungi Solopos.com, Minggu (26/5/2019).
Terkait temuan kasus antraks di Gunungkidul yang berbatasan dengan Klaten, Widiyanti menuturkan segera merapatkan barisan dari unsur DPKPP untuk membahas upaya antisipasi lebih lanjut untuk memastikan tak ada kasus antraks di Klaten.
“Kami rapatkan barisan untuk membahas kasus di Gunungkidul. Tentunya kami waspadai masuknya ternak dari Gunungkidul,” katanya.
Kabid Peternakan DPKPP Klaten, Sri Muryani Dwiatmini, mengatakan upaya pencegahan munculnya kasus antraks sudah dilakukan salah satunya dengan vaksinasi ternak setiap tahun. Vaksinasi itu terutama ternak di wilayah perbatasan degan kabupaten endemis antraks seperti Boyolali dan DIY termasuk Gunungkidul.
Selain vaksinasi ternak, pencegahan penyebaran antraks dilakukan dengan memperketat lalu lintas ternak terutama di pasar hewan. Setiap hewan ternak hasil transaksi di pasar wajib mengantongi surat keterangan kesehatan hewan dari petugas DPKPP.
“Saat hari-hari pasaran di pasar hewan petugas kami sudah standby. Selain memantau transaksi, petugas kami mengecek dan mengeluarkan surat keterangan kesehatan hewan,” katanya.
Sri Muryani memastikan hingga kini tak ada temuan kasus ternak terjangkit antraks di Klaten. Ia menjelaskan di Klaten populasi sapi berkisar 100.000 sapi potong dan 6.000 sapi perah.
“Mudah-mudahan dengan langkah antisipasi yang sudah dilakukan tidak ada temuan antraks di Klaten,” ungkapnya.
Sebelumnya, seperti diberitakan Harian Jogja, lima ekor sapi di Dusun Grogol 4, Desa Bejiharjo, Karangmojo, Gunungkidul, DIY, terserang antraks.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto, mengatakan munculnya kasus antraks bermula dari tiga sapi yang mati secara mendadak pada akhir April lalu. Setelah itu dilakukan uji laboratorium sampel tanah di lokasi penyembelihan dan hasilnya positif antraks.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : solopos.com
Huawei Mate XT2 resmi meluncur dengan chip Kirin 9050 Pro dan harga hingga Rp65,7 juta. Penjualan dimulai 12 September 2026.
Tren baju sekali pakai untuk liburan di China viral. Murah dan praktis, tetapi memicu kekhawatiran soal sampah tekstil.
IBI DIY memiliki 4.258 anggota. Pada HUT ke-75, bidan menegaskan komitmen memperkuat kesehatan ibu, bayi, dan generasi emas 2045.
Mobil terkena abu vulkanik Anak Krakatau? Simak cara membersihkan bodi, kaca, filter udara, rem, dan mesin agar tidak cepat rusak.
DPRD Gunungkidul mendorong RTRW baru untuk memangkas ketimpangan pembangunan antarkapanewon, termasuk akses jalan, air bersih, listrik, dan investasi.