Wisata Klaten Tumbuh, Kunjungan 2025 Tembus 7,5 Juta
Kunjungan wisata ke Klaten selama 2025 mencapai 7,5 juta orang, naik 10 persen. Pemkab siapkan road map dan calendar of event pariwisata.
Warga memasak di dapur bersebelahan dengan kandang sapi di Dukuh Banjarjo, Desa Dompyongan, Jogonalan, Rabu (3/10/2018). (Solopos-Cahyadi Kurniawan)
Harianjogja.com, KLATEN--Menyusul temuan kasus antraks di Kabupaten Gunungkidul, DIY, Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Klaten memperketat pengawasan ternak karena letak dua daerah tersebut berdekatan.
Kepala DPKPP Klaten, Widiyanti, mengatakan belum ada laporan terkait penyebaran antraks di Klaten setelah temuan kasus sapi terjangkit antraks di Gunungkidul. Ia menjelaskan selama ini antisipasi sudah dilakukan dengan pemeriksaan hewan ternak seperti sapi dan kambing secara periodik serta pengecekan kesehatan hewan di pasar hewan.
“Setiap kali ada ternak keluar dan masuk wilayah Klaten tentu kan ada izinnya yang menyatakan sapi itu sehat,” kata Widiyanti saat dihubungi Solopos.com, Minggu (26/5/2019).
Terkait temuan kasus antraks di Gunungkidul yang berbatasan dengan Klaten, Widiyanti menuturkan segera merapatkan barisan dari unsur DPKPP untuk membahas upaya antisipasi lebih lanjut untuk memastikan tak ada kasus antraks di Klaten.
“Kami rapatkan barisan untuk membahas kasus di Gunungkidul. Tentunya kami waspadai masuknya ternak dari Gunungkidul,” katanya.
Kabid Peternakan DPKPP Klaten, Sri Muryani Dwiatmini, mengatakan upaya pencegahan munculnya kasus antraks sudah dilakukan salah satunya dengan vaksinasi ternak setiap tahun. Vaksinasi itu terutama ternak di wilayah perbatasan degan kabupaten endemis antraks seperti Boyolali dan DIY termasuk Gunungkidul.
Selain vaksinasi ternak, pencegahan penyebaran antraks dilakukan dengan memperketat lalu lintas ternak terutama di pasar hewan. Setiap hewan ternak hasil transaksi di pasar wajib mengantongi surat keterangan kesehatan hewan dari petugas DPKPP.
“Saat hari-hari pasaran di pasar hewan petugas kami sudah standby. Selain memantau transaksi, petugas kami mengecek dan mengeluarkan surat keterangan kesehatan hewan,” katanya.
Sri Muryani memastikan hingga kini tak ada temuan kasus ternak terjangkit antraks di Klaten. Ia menjelaskan di Klaten populasi sapi berkisar 100.000 sapi potong dan 6.000 sapi perah.
“Mudah-mudahan dengan langkah antisipasi yang sudah dilakukan tidak ada temuan antraks di Klaten,” ungkapnya.
Sebelumnya, seperti diberitakan Harian Jogja, lima ekor sapi di Dusun Grogol 4, Desa Bejiharjo, Karangmojo, Gunungkidul, DIY, terserang antraks.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto, mengatakan munculnya kasus antraks bermula dari tiga sapi yang mati secara mendadak pada akhir April lalu. Setelah itu dilakukan uji laboratorium sampel tanah di lokasi penyembelihan dan hasilnya positif antraks.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : solopos.com
Kunjungan wisata ke Klaten selama 2025 mencapai 7,5 juta orang, naik 10 persen. Pemkab siapkan road map dan calendar of event pariwisata.
Prediksi Bournemouth vs Man City Liga Inggris 2026, laga penentu gelar. The Citizens wajib menang demi menjaga peluang juara.
SPMB Jateng 2026 resmi diluncurkan. Daya tampung SMA/SMK negeri hanya 40 persen, gubernur tegaskan tak ada titip-menitip.
UGM dan KAGAMA berupaya manfaatkan rumah Prof Sardjito untuk kegiatan akademik di tengah isu penjualan aset bersejarah.
Kasus penembakan pemuda di Candisari Semarang terungkap. Polisi beberkan kronologi, motif pelaku, hingga peluang restorative justice.
Polda Jabar bongkar penipuan titik dapur MBG, 13 korban rugi Rp1,9 miliar. Pelaku jual akses palsu program pemerintah.