Eks Kasatreskrim Wonogiri Diterbangkan ke Singapura, Air Mata Sang Kakak Berderai

Pemindahan mantan Kasatreskrim Polres Wonogiri AKP Aditia Mulya Ramdhani ke Singapore General Hospital (SGH) dijaga ketat aparat kepolisian, Kamis (16/5/2019). (Solopos - Indah Septiyaning W.)
17 Mei 2019 14:47 WIB Indah Septiyaning Wardhani News Share :

Harianjogja.com, SUKOHARJO --Sejak menjadi korban pengeroyokan massa perguruan silat, Rabu (8/5/2019) malam lalu, mantan Kasatreskrim Polres Wonogiri AKP Aditia Mulya Ramdhani dirawat di ruang ICU RS dr. Oen Solo Baru Sukoharjo. Namun pada Kamis (16/5/2019), ia harus diterbangkan ke Singapura untuk menjalani perawatan yang lebih intensif.

Saat pemindahan itu, para tenaga medis mulai sibuk. Mereka berjalan membawa tas jinjing berisi peralatan medis keluar dari ruang ICU menuju mobil ambulans. Mobil ambulans ini terparkir tepat di belakang ruang ICU.

Sementara puluhan anggota Polres Wonogiri seolah membuat pagar betis di sekitar pintu berwarna hijau. Pintu ini terletak di bagian belakang ruang ICU yang menjadi akses keluar masuk pasien dari dan akan dipindahkan ke mobil ambulans.

Tepat pukul 15.45 WIB, AKP Aditia terlihat dibawa menggunakan tempat tidur pasien keluar dari pintu belakang itu. Mantan Kapolsek Pasar Kliwon Polresta Solo ini lantas dinaikkan ke dalam ambulans milik RS dr. Oen berpelat nomor AD 1982 AH.

Menyertai dalam rombongan mobil mendampingi pasien adalah dr. Yohanes dari perwakilan Singapore General Hospital (SGH). Begitu pula keluarga Aditia yang juga menyertai menggunakan mobil berbeda.

Kakak pertama Aditia, Yudha Mulya Angga Sasmita, tampak merekam proses pemindahan sang adik dengan menggunakan kamera ponselnya. Matanya terlihat berkaca-kaca.

Yudha bahkan tak kuasa menahan air mata dan mengusapnya menggunakan sorban saat mobil ambulans pergi meninggalkan rumah sakit. Mobil ambulans meninggalkan rumah sakit pukul 15.50 WIB dengan pengawalan ketat mobil Patwal Satlantas Polres Sukoharjo dan Polresta Solo.

Aditia dibawa ke Singapura melalui Bandara Adi Sumarmo Boyolali dan langsung diterbangkan ke Singapura menggunakan pesawat khusus. Sejumlah rekan kerja Aditia juga tampak ikut mengantar sampai ke bandara.

Selama proses pemindahan dikawal ketat delapan anggota Propam Polres Wonogiri. Bahkan awak media yang mencoba mengambil gambar dilarang petugas. Pemindahan Aditia ke Singapura merupakan keputusan keluarga yang sebelumya sempat dibatalkan.

Meski kondisi Aditia masih kritis dan belum sadarkan diri, keluarga tetap memindahkan Aditia ke RS di Singapura. "Pemindahan ke RS di Singapura merupakan permintaan keluarga. Kondisi pasien hasil pengecekan terbaru masih berstatus Glasgow Coma Scale [GCS] 4," kata Kepala Bidang (Kabid) Dokkes Polda Jawa Tengah dr. Tri Yuwono Putra.

Polri mendukung permintaan keluarga Aditia. Proses pemindahan pasien dilakukan secara hati-hati. Aditia Mulya Ramdhani menjadi korban pengeroyokan saat menghalau kelompok massa perguruan pencak silat di Sidoharjo, Wonogiri, pada Rabu (8/5/2019) malam.

Hingga hari kedelapan dirawat di ICU RS dr. Oen Solo Baru, Aditia masih kritis. Dokter ICU RS dr Oen Solo Baru, dr Debora Marga Pangestika, mengatakan Aditia sudah tidak lagi menjadi pasien RS dr. Oen Solo Baru setelah keluarga memindahkan ke RS di Singapura.

Aditia kini sudah tidak didampingi dokter dari RS dr. Oen. Perawatan selama perjalanan ditangani dr. Yohanes yang merupakan perwakilan SGH di Indonesia.

"Kami sudah serahkan semua rekam medis milik pasien ke perwakilan ke RS Singapura Royal Hospital. Kami juga membawa satu perawat di dalam mobil untuk membantu pasien," kata dia.

Sumber : Solopos.com