Advertisement
Keinginan Jokowi Pindahkan Ibu Kota RI Disebut sebagai Upaya Pemerataan Pembangunan
Warga berolah raga dengan latar belakang Tugu Monas di Jakarta, Jumat (4/8). Monas disorot lampu warna ASEAN hingga 8 Agustus 2017 untuk memperingati 50 tahun dibentuknya lembaga kerjasama negara-negara kawasan Asia Tenggara. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A - ama
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA--Kehadiran Ibu Kota RI yang baru harus dipandang sebagai hasil dari satu kesatuan utuh oleh pemerintah dan masyarakat Indonesia, bahwa telah tercipta sebuah peradaban kota.
Hal tersebut disampaikan oleh Executive Director of Partnership for Governance Reform in Indonesia (Kemitraan) Monica Tanuhandaru menanggapi keinginan pemindahan Ibu Kota RI ke luar Jakarta yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo atau Jokowi.
Advertisement
"Saya kira pemindahan ini bukan wacana baru, Presiden telah membaca opsi-opsi ingin memindahkan Ibu Kota itu. Menurut saya, sebuah kota itu adalah suatu peradaban, maka harus disusun dengan perencanaan matang, ada road map jangka pendek, menengah dan panjang," kata Monica kepada Bisnis, Senin (29/4/2019).
Dia mengatakan, road map itu berangkat dari hasil sejumlah pertimbangan seperti, dinamika sosial, ekonomi, budaya, politik, dan keamanan Indonesia pada saat ini dan mendatang.
BACA JUGA
Isi road map lain adalah, geopolitik, geografis terutama daerah tersebut jauh dari lokasi patahan gempa, kesiapan Aparatur Sipil Negara (ASN), infrastruktur fisik seperti jalan, pelabuhan, air dan listrik. Sehingga, lanjutnya, tidak cukup perencanaan memindahkan Ibu Kota RI dibikin dalam waktu singkat hanya 1 periode, atau 5 hingga 10 tahun saja.
"Coba kita lihat Myanmar ketika memindahkan Ibu Kota ke Naypyidam, itu kan kasihan sekali ASN, mereka harus terpisah dari keluarga. Bangunan pemerintahan dan infrastruktur siap, tetapi saat weekend sepi di sana. Kendaraan ke perkantoran juga sulit, 4 jam perjalanan," ujar Monica.
Namun demikian, papar Monica, bukan tanpa alasan Presiden Jokowi ingin memindahkan ibu kota ke luar Jakarta. Dia membaca keinginan Presiden tersebut, bahwa Presiden setelah mempercepat pembangunan infrastruktur fisik berarti ingin adanya kemajuan terhadap negara ini.
"Dia sudah membangun infrastruktur, lalu Presiden memandang harus ada kemajuan untuk dipacu, ini karena uang sudah dikeluarkan untuk infrastruktur. Memang harus bersabar, dampaknya bukan sekarang tetapi 2-3 tahun ke depan. Jadi, Presiden mau melihat adanya pemerataan pembangunan, dan Indonesia lebih inklusif," ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Operasi SAR Yunanta di Sungai Opak Resmi Ditutup Setelah 7 Hari
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Lapak Asik BPJS Ketenagakerjaan Kini Dilengkapi Antrean Digital
- Sindikat Oplos LPG Subsidi Terbongkar, Keuntungan Rp1,3 Miliar Perhari
- Duel Antar Geng Berujung Pembacokan di Pakualaman Jogja
- Pendatang ke Jakarta Didominasi Usia Produktif Minim Keterampilan
- Harga Pangan Global Naik Lagi, FAO Soroti Dampak Konflik Timur Tengah
- UNIFIL Gelar Upacara Penghormatan bagi 3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon
- Kebiasaan Ini Diam-Diam Mengikis Lapisan Gigi
Advertisement
Advertisement








