Advertisement
Jerman Prediksi AS Tak Lanjutkan Invasi Darat ke Iran, Ini Alasannya
Pasukan Houthi berbaris sambil memegang senjata api. (ANTARA - Anadolu)
Advertisement
Harianjogja.com, MOSKOW — Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul menilai Amerika Serikat kemungkinan tidak akan melanjutkan operasi militer darat skala besar terhadap Iran dan berpotensi mengakhiri aksinya dalam waktu dekat.
Dalam wawancara dengan grup media Funke, Wadephul menyebut pihaknya tidak melihat indikasi kuat bahwa Presiden AS Donald Trump serius mempertimbangkan invasi darat jangka panjang.
Advertisement
“Kami tidak melihat Presiden Trump benar-benar mempertimbangkan operasi darat skala besar dan jangka panjang,” ujar Wadephul, Jumat (3/4/2026).
Ia memperkirakan Washington akan menghentikan operasi militer setelah target utama tercapai.
BACA JUGA
Namun demikian, pernyataan tersebut muncul di tengah sinyal berbeda dari Trump yang sebelumnya menyebut AS tengah mempersiapkan serangan besar dalam dua hingga tiga pekan ke depan. Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan semua opsi masih terbuka, termasuk kemungkinan operasi darat.
Jerman Tunggu Penjelasan AS
Wadephul juga menanggapi kritik dari Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier terkait serangan AS dan Israel ke Iran yang dinilai melanggar hukum internasional. Ia memilih tidak berkomentar lebih jauh dan menegaskan pemerintah Jerman masih menunggu penjelasan resmi dari Washington.
“Kami menunggu klarifikasi dari pemerintah AS setelah Paskah,” ujarnya.
Selain itu, ia mengungkapkan kekhawatiran atas pernyataan Trump yang membuka kemungkinan keluarnya AS dari NATO.
Iran Ancam Balasan Keras
Dari pihak Iran, Panglima Angkatan Darat Amir Hatami memperingatkan konsekuensi serius jika AS melancarkan invasi darat ke Teheran.
“Jika musuh mencoba operasi darat, tidak seorang pun boleh selamat,” tegas Hatami dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah IRIB.
Ia menyebut militer Iran telah diperintahkan untuk terus memantau pergerakan pasukan AS dan merespons secara cepat terhadap setiap potensi ancaman.
Pentagon Siapkan Opsi Militer
Laporan The Washington Post sebelumnya mengungkapkan bahwa Pentagon tengah mempersiapkan kemungkinan operasi darat di Iran, seiring pengerahan ribuan pasukan AS ke kawasan Timur Tengah.
Rencana tersebut disebut mencakup target strategis seperti Pulau Kharg—pusat ekspor minyak utama Iran—serta wilayah pesisir di sekitar Selat Hormuz guna mengamankan jalur pelayaran internasional.
Para pejabat AS memperingatkan bahwa jika operasi darat dilakukan, konflik bisa memasuki fase baru yang lebih berbahaya dibanding tahap awal pertempuran.
Eskalasi Konflik Terus Berlanjut
Ketegangan kawasan meningkat sejak serangan militer yang dilancarkan Israel dan AS terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 1.300 orang.
Iran kemudian membalas melalui serangan drone dan rudal yang menyasar sejumlah negara, termasuk Israel, Yordania, Irak, serta kawasan Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS.
Rentetan serangan balasan ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, tetapi juga berdampak pada stabilitas pasar global dan sektor penerbangan internasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Tabrakan Maut di Sedayu Bantul, 3 Remaja Tewas
- Lapak Asik BPJS Ketenagakerjaan Kini Dilengkapi Antrean Digital
- Hari Ini, Sal Priadi CS Manggung di Lapangan Pancasila UGM
- Perbedaan Jumat Agung dan Paskah, Jangan Sampai Keliru
- Duel Antar Geng Berujung Pembacokan di Pakualaman Jogja
- Pendatang ke Jakarta Didominasi Usia Produktif Minim Keterampilan
- WFH Jumat untuk ASN Sleman Mulai Digodok, Layanan Publik Tetap Jalan
Advertisement
Advertisement





