Rizieq Shihab Ternyata Pernah Minta Gerakan People Power, Tapi Ditolak Prabowo

Imam besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab. - Nurul Hidayat/Bisnis Indonesia
22 April 2019 14:27 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA- Kisah Prabowo Subianto menolak menggerakkan rakyat untuk menolak hasil pemilu diceritakan Rizieq Shihab.

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab cerita saat Pemilu 2014 dipertemukan dengan Prabowo oleh salah satu pengusaha di Jakarta. Prabowo menceritakan kepadanya kalau saat itu ia sudah mendapatkan kabar kalau Presiden Joko Widodo atau Jokowi yang akan memenangkan Pilpres 2014.

Rizieq Shihab cerita dalam tayangan video yang diunggah Front TV melalui Youtube, Senin (22/4/2019). Dalam video itu Rizieq Shihab menyebut saat itu Prabowo mendapatkan banyak tekanan dan sempat memintai pendapat kepada dirinya.

Kala itu Rizieq Shihab menyatakan untuk menggerakan people power apabila memang ada bukti kecurangan tersebut.

Namun Prabowo tidak langsung menyetujuinya lantaran lebih memilih menggugat kecurangan itu ke jalur hukum melalui Mahkamah Konstitusi (MK). Sesuai dengan perkiraan Rizieq, langkah itu tidak serta merta memenangan Prabowo.

"Saya beri dukungan upaya hukum namun saya sampaikan saya pesimis dan akhirnya terjadi adalah seusai dengan apa yang kita perkirakan," ujar Rizieq.

Rizieq sempat kecewa saat melihat Prabowo tidak mendengarkan pendapatnya untuk melakukan people power saat Pemilu 2014. Namun dirinya ternyata salah menduga, apa yang dilakukan Prabowo ternyata tidaklah salah.

Pemikiran Rizieq itu berdasarkan dengan apa yang terjadi saat Pemilu 2019 ini. Menurutnya, Prabowo akan sulit melakukan people power saat itu karena dukungannya terhadapnya yang tidak semasif sekarang ini.

"Tingkat antusias kepada Prabowo berbeda jauh dengan 2019 karena belum ada aksi 411, 212, Ijtima ulama sehingga tingkat antusias sambutan pak Prabowo luar biasa dashyatnya," tuturnya.

Meskipun begitu, Rizieq tetap melihat sisi lain dari Prabowo yang memiliki kebesaran hati dalam menghadapi kecurangan Pemilu 2014. Ketika kalah di MK, Prabowo menerimanya demi persatuan dan kesatuan NKRI. Selain itu, Prabowo pun tetap dalam posisi sebagai oposan atau di luar pemerintahan.

"Walaupun beliau kekalahan dan menerima beliau tidak menjilat. Beliau tetap di luar pemerintah akan tetapi beliau tetap menjadi oposisi saat itu bersama PKS," pungkasnya.

Rizieq Shihab membandingkan sikap Prabowo Subianto saat menghadapi kecurangan antara Pemilu 2014 dengan 2019. Rizieq Shihab menyebut Prabowo kurang kekuatan dalan mengerahkan people power saat 2014 ketimbang 2019.

Rizieq Shihab mengungkapkan bahwa Pemilu 2019 terlihat dipenuhi dengan aneka ragam kecurangan yang dibuat secara struktural dan sistematis. Akan keanekaragaman kecurangan itu juga terjadi saat Pemilu 2014.

"Saya merasakan bahwa sebetulnya kecurangan seperti ini sudah terjadi pada 2014 hanya saja ketika itu kita belum masuk ke euphoria media sosial," kata Rizieq Shihab.

Sumber : Suara.com