Kisah Supardi Jadikan Desa Transmigran Produktif, Mampu Menjamin Kesehatan Warga Melalui Iuran per KK

Ilustrasi seorang Penari berdiri di tengah arena melakukan ritual untuk membuka pentas seni jatilan di Dusun Seneng, Desa Siraman, Kecamatan Wonosari, Selasa (12/3/2019). - Harian Jogja/David Kurniawan
22 Maret 2019 22:17 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, KOTABARU--Bumi Asih, satu dari sembilan desa di wilayah Kecamatan Kelumpang Selatan, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan kondisinya kini jauh berbeda dibanding beberapa tahun silam.

Hampir di setiap lini kehidupan masyarakat yang berpenghuni sekitar 600 kepala keluarga itu terjadi perubahan signifikan (untuk ukuran perdesaan).

Hasil pembangunan dirasakan manfaatnya bagi masyarakat, berupa infrastruktur seperti jalan, gedung desa, pasar, fasilitas publik lainya seperti embung, penerangan jalan, revitalisasi pertaninan dan perkebunan, perekonomian kerakyatan yang berbasis pemberdayaan.

Adalah Supardi, 39, sang kepala desa kreatif yang sejak dilantik memimpin masyarakat Desa Bumi Asih tiga tahun silam itu langsung tancap gas bersama perangkat desa lainnya membuat terobosan dalam membangun desa mereka.

"Sebagai putra daerah, saya merasa terpanggil untuk memajukan Bumi Asih yang merupakan unit permukiman transmigrasi SP 5 yang dibangun sekitar 1985 itu menjadi desa yang makmur bagi warganya baik pembangunan, ekonomi, sosial budaya, SDM dan nilai keagamaan," ucap suami Riani Sri Hendaryanti ini memulai perbincangan.

Diakuinya, menjadikan Bumi Asih yang merupakan eks daerah Transmigrasi tahun 80an ini bisa sejajar dengan desa-desa definitif lain yang usianya lebih tua memang bukan pekerjaan mudah. Tetapi dengan niat yang ikhlas dan semangat yang kuat merupakan modal awal yang bernilai tinggi sebagai sempurnanya ikhtiar.

Ayah dari Razka Pardhian dan Rizka Hayuningtiyas ini menurutkan, bersama aparatur desa lainnya, ia menetapkan sejumlah program kerja yang terbagi dalam skala prioritas dan non prioritas yang kesemuanya itu dalam rangka pemaksimalan anggaran pemerintah yang dialokasikan bagi setiap desa.

Namun dari sekian banyak program yang kami lakukan, Kades lulusan Madrasah Aliyah Negeri Kotabaru ini mengaku tidak hanya bersumber dari dana desa. Tetapi juga melibatkan pihak lain (stakeholder) melalui program corporate sosial responsibility (CSR) yang wilayah usahanya di sekitar Desa Bumi Asih.

"Sedikitya 10 program kerja yang telah kami lakukan, diawali dari revitalisasi perkantoran dan gedung pelayanan bagi masyarakat yakni mengaktifkan kantor desa dan peran aktif aparatur desa," katanya.

Melalui program pertama ini, dimaksudkan adanya keterbukaan dalam informasi publik baik informasi APBDes ataupun informasi penting lainya. Dengan program ini pemerintahan Desa Bumi Asih sering melakukan musyawarah desa baik mengenai pembangunan fisik, pemberdayaan masyarakat ataupun laporan pertanggungjawaban kepada masyarakat. Hal ini disambut antusias warga terlihat dari tingginya animo yang berpartisipasi setiap rapat desa digelar.

Program kedua, pemberian bantuan kesehatan kepada warga desa dengan pola gotong royong yang masih dijunjung tinggi oleh warga eks transmigran itu. Teknisnya dengan memanfaatkan iuran swadaya masyarakat Rp10 ribu per KK, maka bantuan bisa diberikan dengan tiga golongan, I rawat inap sampai dua hari mendapatkan bantuan Rp1 juta, golongan II rawat inap dua hingga empat hari mendapatkan Rp 2,5 juta dan golongan III rawat inap lima hari lebih mendapat bantuan Rp5 juta.

"Hal ini dilakukan agar dapat membantu warga yang terkena musibah, setidaknya bermanfaat meringankan biaya transportasi menuju dan dari rumah sakit juga bisa untuk beli obat-obatan," jelasnya seraya mengatakan hingga Maret 2019 desa telah menyalurkan bantuan kesehatan Rp27 juta.

Program ketiga yakni, pengajuan terbitnya sertifikat baik tanah pekarangan atau ladang milik warga yang sudah hampir 32 tahun belum keluar. Selain itu pembukaan lahan baru bagi warga pecahan KK (anak atau famili yang berubah status menikah).

Dalam hal ini Supardi mengaku mengajukan permohonan kepada Dinas Transmigrasi untuk digunakan sebagai pemukiman pecahan KK warga Desa Bumi Asih yang berjumlah 45 kavling. Program ini sinergi dengan program Presiden yakni penerbitan sertifikat tanah. "Alhamdulillah, sebanyak 400 buah sertifikat milik warga telah diterbitkan dan telah diserahkan kepada pemiliknya masing-masing," katanya.

Program keempat, pendirian Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Mekar Jaya dengan melibatkan para pemuda desa yang tergabung dalam komunitas atau kelompok Mulia Bhakti. Alhasil, sejak didirikan pada 2017, dibawah kepemimpinan Tujirin, Bumdes Mekar Jaya milik Bumi Asih kini memiliki unit usaha trading yakni membeli buah sawit milik warga dengan harga pantas dan menjualnya ke pabrik crude palm oil (CPO).

Selain itu Bumdes bekerjasama dengan Bank BNI melalui pengoperasian Agen BNI 46 yang bisa melayani segala transaksi keuangan bagi masyarakat, baik menyimpan, menarik tunai hingga transfer serta pembayaran-pembayaran lainya seperti BPJS dan rekening listrik.

"Modal awal Rp50 juta dari dana desa yang dijalankan, tahun 2018 hasil usaha berupa aset sebesar Rp 125 juta," ungkapnya.

Sumber : Antara