Dandim 0734/Kota Jogja: Banyak Bertugas di Garis Depan

Dandim 0734/Kota Jogja Letkol Inf Wiyata Sempana Aji - Ist
20 Maret 2019 10:17 WIB Sunartono News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Letkol Inf. Wiyata Sempana Aji resmi menjabat sebagai Komandan Kodim (Dandim) 0734/Kota Jogja. Lulusan temuda kedua Akmil angkatan 2001 ini memiliki pengalaman di garis depan pertempuran di ujung Barat dan Timur Nusantara. Bagaimana karier kemiliteran Wiyata? Berikut laporan yang dihimpun wartawan Harian Jogja, Sunartono.

Tiga tahun sejak lulus dari Akmil, tepatnya pada 2004 silam, Wiyata yang saat itu masih berpangkat Letda, ditugaskan ke Aceh dalam operasi militer memburu kelompok Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Ini menjadi awal karier kemiliterannya di korps baret merah. Saat itu, Wiyata tergabung di Grup 1 Kopassus Taktakan Serang, Banten, dan baru bertugas sekitar setahun.

Penugasan ke Aceh, juga bertepatan setahun sebelum perjanjian Helsinki antara RI dan GAM disepakati.

Di Aceh, bukan di barak ia bertugas, melainkan di hutan belantara Aceh pada garis depan pertempuran.

Selama di Bumi Serambi Mekah itu, Wiyata harus melakoni banyak peran yang berlainan satu sama lain.

Pertama terjun di Aceh, ia berhubungan dengan penugasan tempur. Dalam penugasan tersebut, ia harus mengurusi pergerakan pasukan, bergerak di daerah hutan di garis terdepan yang berhadapan langsung dengan musuh.

Peran kedua, menjadi intelijen. Tugas ini ia lakoni saat ia bertugas di Badan Intelijen Strategis (Bais), ketika konflik bersenjata sudah sirna di Aceh menyusul Perjanjian Helsinki.

“Penugasan intelijen, cara kerjanya beda dengan tempur, itu di 2008 memang konflik sudah tidak ada. Kami hanya monitoring situasi di wilayah Aceh saat itu,” kata Wiyata saat berbincang di Kantor Harian Jogja belum lama ini.

Bagi Wiyata, bertugas di Aceh punya kesan mendalam. Enam bulan di hutan, tentu tak sama dengan yang dijalani dengan setengah tahun di perkotaan.

“Menegangkan juga di Aceh, karena kami langsung di garis depan [pertempuran] meski hanya enam bulan. Saat itu memang pertempurannya sudah agak reda. Jumlah TNI banyak, mereka [GAM] saat itu sudah mulai berkurang,” kata lulusan termuda kedua Akmil angkatan 2001 tersebut.

Pria kelahiran Bandung ini terbilang lengkap pengalaman operasinya. Selain medan tempur dan di bidang intelijen, penanganan teroris juga pernah dilakoni saat menjadi bagian dari Satgas Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Saat mengemban tugas di Satgas Pencegahan BNPT, ia merasa harus beradaptasi dengan kehidupan yang humanis, sebuah kehidupan yang berbanding terbalik dengan apa yang dilakoni sebelumnya di medan tempur. Mulai dari menjalin komunikasi dengan berbagai institusi lain di luar TNI hingga kontak lebih dekat dengan napi dan keluarga napi teroris.

Walau acap pindah tugas, Wiyata masih menyempatkan diri menempuh pendidikan nonmiliter. Ia tercatat sebagai Sarjana Ekonomi di Universitas Krisnadwipayan, Jakarta dan sempat menuntaskan gelar Master of Defense Studies (MDS) di Royal Military College of Canada (2016).

Sejumlah tugas di luar negeri juga dituntaskannya, seperti Lomba Tembak AARM 2007 (Manajer Tim Pistol); mengikuti pendidikan di India (2010) dan Inggris (2015) sebelum mengantongi gelar master di Kanada dan mengikuti latihan Gerakhas Malaysia (2017).

“Setiap operasi memiliki keunikan berbeda-beda. Dan saya selalu menikmati dan menjalankan sepenuhnya setiap tugas yang diberikan. Bagi saya ini akan memberikan pengalaman berharga,” ujar suami dari Nindya Pratita, dokter spesialis THT.

Pada medio 2018 lalu misalnya. Alumnus SMA 68 Salemba ini ditugaskan ke Papua bersama Polri dalam Satgakkum. Saat itu Wiyata bertindak sebagai staf pengendali pasukan di lapangan. Fungsi pengendali adalah memantau pergerakan pasukan di lapangan dan memastikan kondisinya dalam keadaan baik. Ia juga diharuskan memutuskan dengan cepat apa yang mesti dilakukan prajurit ketika terjadi kendala seperti serangan musuh secara mendadak.

Ayah dari Amanda Kirana Widyaputri ini merasakan betapa stresnya menjadi staf pengendali lapangan.

Bukan hanya jauh dari keluarga, tetapi karena kondisi alam di Papua yang berkarakteristik khusus. Suasana tegang seringkali menyelimuti. Musuh setiap saat bisa saja mengintai.

Jangankan komunikasi dengan keluarga, komunikasi antarpasukan pun terkadang sulit bukan main. Padahal, pasukan telah dibekali beragam alat komunikasi mulai handie talky (HT), ponsel satelit, ponsel regular, hingga ponsel ground to air untuk berkomunikasi dengan pasukan yang ada di helikopter.

Kecanggihan alat tak sepenuhnya dapat menaklukkan alam Papua. “Handphone satelit dipikir di mana saja bisa nyambung, ternyata susah juga [di Papua],” ujarnya.

Stres dan rasa deg-degan itu bukan tanpa alasan. Sebagai perwira, Wiyata bertanggung jawab terhadap keselamatan anak buahnya. Dia tetap berusaha tenang. “Saat susah mengendalikan prajurit di lapangan itu yang membuat stres, pastinya gelisah. Semua harus terus monitor, ketika terjadi apa-apa, bisa-bisa kita terlambat memberikan bantuan,” kata mantan Kasi Pers Grup 3 Kopassus ini.

Komunikasi antarpersonel atau sesama rekan di satuan operasi harus terjalin baik dalam jarak berapa pun. Tujuannya hanya satu, mereka bisa sama-sama mengetahui kondisi satu sama lain setiap saat. Untung saja, medan yang sulit di Papua bisa dilalui dengan baik.

Penugasan operasi di Papua itu dilakukan sebelum akhirnya ia diangkat oleh Mabes TNI menjadi Dandim di Kota Jogja.

Kini ia bertugas di satuan territorial, sehingga harus lebih dekat dengan masyarakat dan mengetahui kondisi sosial tempat ia bertugas.

Dia mengaku akan lebih terbuka dengan masyarakat dari berbagai golongan. “Kalau pesan dari para tokoh itu, kalau [bertugas di] Jogja harus nguwongke orang, karena mereka pasti akan balik memperlakukan kita dengan baik,” ucap pria yang gemar jogging dan bulu tangkis itu.

Dia bertekad akan menjalankan amanah sebagai Dandim Kota Jogja sebaik-baiknya. Selain itu, dia mengaku sudah memiliki agenda selama di Jogja. “Selain menjalankan tugas utama, kami juga akan terlibat dalam pelestarian lingkungan seperti bersih-bersih sungai, penghijauan dan lainnya,” ujar Wiyata menutup pembicaraan.