PDIP dan PSI Kisruh Soal Pidato Kebangsaan Grace Natalie

Rian Ernest, Juru Bicara PSI bersama anggota Federasi Indonesia Bersatu (Fiber) memberikan penjelasan mengenai langkah PSI yang mendorong Bawaslu membuka kembali kasus mahar cawapres Rp1 triliun dari Sandiaga Uno kepada PAN dan PKS - Bisnis/Aziz R
12 Maret 2019 19:27 WIB Aziz Rahardyan News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--PDI Perjuangan (PDIP) menyoroti pidato politik Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie di Medan International Convention Center, Senin (11/3/2019). Penyebabnya, Grace menyindir partai nasionalis lain yang tidak bersuara pada beberapa kasus.

Di antaranya kasus korban persekusi Meliana yang dibakar rumahnya, pemerintah kota Jambi yang menyegel tiga gereja, persekusi atas jemaat GBI Philadelpia di Labuhan Medan, serta kasus nisan salib digergaji yang sempat viral di media sosial.


"PSI pandai berkata-kata dengan diksi dan narasi yang menarik. Sementara kami lebih sibuk menerjemahkan ideologi ke dalam krida dan kerja politik kongkret, melalui siklus internalisasi, sosialisasi, eksternalisasi, dan kombinasi dari berbagai metode pembumian gagasan," tutur Ketua DPP PDIP Hendrawan Supratikno pada wartawan, Selasa (12/3/2019).

Menanggapi hal tersebut, Juru Bicara PSI Rian Ernest menjelaskan pada Bisnis bahwa ungkapan "pembumian gagasan PDIP" dari Hendra, justru dinilainya telah membuat publik bosan.

Sebab, Rian menilai PDIP sebagai salah satu partai nasionalis di Indonesia, tidak menyatakan sikap politik secara jelas dalam berbagai isu-isu nasional yang PSI suarakan.

"Justru kami tanya balik, apa konkretnya untuk berbagai tindakan persekusi? Apa konkretnya untuk melawan korupsi, kalau masih ada caleg eks koruptor diajukan lagi di April nanti?" ujar Rian, Selasa (12/3/2019).

"Lalu bagaimana dengan fakta bahwa PDIP terlibat aktif mengesahkan Perda Syariah? Bentuk nyata peraturan mayoritas di atas minoritas. Publik yang rindu partai nasionalis sejati sudah tidak akan puas diberikan jawaban ngawang seperti pembumian gagasan!" tambahnya.

Rian pun membela PSI dengan mengungkapkan fakta bahwa menurut survei, elektabilitas calon legislatif (caleg) dari partainya mulai meningkat, membuktikan bahwa caleg PSI tidak minim implementasi sikap politik.

"Sekarang kalau minim implementasi, bagaimana menjelaskan fakta bahwa di banyak dapil, caleg-caleg DPR PSI sudah mengekor incumbent [petahana] PDIP," tambahnya.

Di sisi lain, Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto menyatakan bahwa dirinya belum mendengar pidato politik Grace yang dinilai menyindir partainya. Tetapi, Hasto menyatakan akan tetap mendengar pidato politik tersebut setelah urusan kampanye Jokowi-Ma'ruf selesai.

"Aduh saya nggak dengar. Saya tadi malam rapat sama presiden. Kami lebih banyak mempersiapkan tim kampanye," ujar Hasto selepas menghadiri kediaman Ma'ruf Amin, Selasa (12/3/2019).

"Pidato-pidato politik yang banyak kami dengar ya dari Pak Presiden. Persiapan pak Presiden, persiapan pak Prabowo kita lihat. Kalau setiap pidato politik kami dengar, semuanya. [Tetapi] Kami fokus kan tadi malam ada rapat dengan pak Jokowi dan seluruh Ketum [Parpol KIK]," tambahnya.

Sumber : bisnis.com