Bawal Putih di Pesisir Kulonprogo Mulai Sulit Dicari

Ilustrasi ikan. Harian Jogja/Uli Febriarni
28 Januari 2019 07:57 WIB Jalu Rahman Dewantara News Share :

Harianjogja.com, WATES--Sejumlah nelayan bawal putih di pesisir Kulonprogo khawatir tidak bisa menjual hasil tangkapan ikannya dalam waktu dekat karena masih meliburkan diri akibat gelombang tinggi. Padahal menjelang Tahun Baru Imlek, kebutuhan masyarakat akan bawal putih tengah meningkat. 

Sebagaimana diketahui, bawal putih merupakan komoditas yang dicari, khususnya oleh masyarakat yang merayakan Imlek. Mendekati Imlek yang jatuh pada 5 Februari mendatang harga ikan tersebut melonjak. Ikan berkualitas baik bisa mencapai Rp400.000 per kilogram.

Namun demikian, bagi para nelayan khususnya di pesisir selatan Kulonprogo, peluang mendapatkan keuntungan tersebut  sukar diperoleh. Pasalnya kondisi cuaca yang tidak menentu mengakibatkan kenaikan gelombang laut, sehingga membuat mereka tak berani menangkap ikan. 

Seorang nelayan di Pantai Congot, Desa Jangkaran, Kecamatan Temon, Suroto, mengaku khawatir, jika kondisi ini terus berlanjut, dia beserta rekan-rekannya akan lebih lama menganggur. Dampaknya menjadi kesulitan untuk menafkahi keluarga. Sementara saat ini bawal putih sedang bagus-bagusnya, selain karena harga tengah naik, juga memang telah memasuki musim ikan tersebut.  

Suroto mengungkapkan menjelang perayaan Imlek harga jual ikan Bawal Putih sangat menjanjikan. Namun begitu karena sedang libur melaut, Suroto tidak bisa segera menikmati keuntungan dari ikan tersebut. "Saat ini harga sedang bagus tapi kami tidak bisa melaut, ya jadi kegelisahan tersendiri buat kami," ucap Suroto, Minggu (27/1/2019). 

Hal senada diungkapkan nelayan lain, Sukaca. Bahkan dia mengaku  sudah 10 hari tidak melaut. Selain karena gelombang tinggi, beberapa hari terakhir hembusan angin juga sedang kencang. 

Sukaca menjelaskan gelombang tinggi ini membuat perahu nelayan tidak mampu menembus pucuk gelombang. Cara- satu-satunya yakni menunggu cuaca bersahabat. Jika memaksan diri, lanjutnya risiko laka laut bakal berpotensi lebih besar. 

"Masih nunggu, mungkin minggu depan aja kalau cuaca udah membaik," kata Sukaca. 

Sukaca mengaku dia beserta rekan sesama nelayan saat ini lebih memilih untuk menjala ikan di sungai. Selain itu dirinya juga  mengumpulkan sampah plastik dari laut untuk kemudian dijual. "Kadang ada pengepul atau tukang rongsok yang datang kesini, ya lumayan lah, yang penting halal," ungkapnya.