Trump & Kim Jong Un Akan Bertemu untuk Selesaikan Problem Nuklir

Bendera AS dan Korut - Istimewa
15 Januari 2019 12:45 WIB Aprianto Cahyo Nugroho News Share :

Harianjogja.com, JOGJA – Amerika Serikat dan Korea Utara berencana mengadakan pembicaraan tingkat tinggi di Washington pekan ini untuk menyelesaikan kebuntuan pembicaraan nuklir.

Dilansir dari Reuters, media korea Chosun Ilbo mengabarkan pertemuan yang dipimpin oleh Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dan pejabat senior Korea Utara Kim Yong Chol tersebut akan diadakan pada Kamis atau Jumat, mengutip sumber diplomatik yang tidak disebutkan namanya.

Kedua pihak diperkirakan akan memutuskan tanggal dan lokasi KTT antara Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un. Utusan dari Korea Utara kemungkinan juga akan bertemu dengan Trump.

Kantor berita Korea Selatan Yonhap sebelumnya mengutip sumber diplomatik yang tidak disebutkan namanya, yang mengatakan Pompeo dan Kim Yong Chol dapat bertemu pekan ini.

Menjelang rencana pertemuan tersebut, Trump mengirimkan surat kepada Kim Jong-un yang diterbangkan ke Pyongyang dan diserahkan pada akhir pekan.

Kedutaan AS di Seoul tidak segera mengomentari laporan tersebut. Sementara Gedung Putih tidak memberikan komentar pada laporan surat kabar Korea Selatan sebelumnya, seorang pejabat Departemen Luar Negeri menjawab bahwa tidak ada rencana pertemuan yang akan diumumkan.

Jika dikonfirmasi, pertemuan pekan ini bisa berarti kedua pihak mendekati kesepakatan setelah kebuntuan selama berbulan-bulan mengenai perkembangan untuk mengakhiri program nuklir dan rudal Korut.

Pompeo, yang melakukan sejumlah perjalanan ke Pyongyang tahun lalu, berusaha untuk bertemu dengan Menlu Korut November lalu, tetapi pembicaraan dibatalkan pada menit terakhir.

Namun, pembicaraan dilanjutkan setelah pidato Tahun Baru Kim yang mengatakan dia mengatakan dia bersedia untuk bertemu Trump "kapan saja."

Kebijakan Interim

Seorang pejabat Korsel mengatakan Washington dan Seoul telah membahas langkah-langkah potensial AS untuk timbal balik kemungkinan langkah Korea Utara menuju denuklirisasi, seperti pembongkaran kompleks nuklir utama Yongbyon atau rudal balistik antarbenua (ICBM) yang ditujukan ke AS.

Saat ini, AS sedang mempertimbangkan pelonggaran sebagian sanksi dengan imbalan bahwa Korut akan melucuti ICBM-nya, selain pembekuan program nuklirnya, ungkap Chosun Ilbo.

Potensi tindakan oleh AS juga termasuk pembebasan sanksi untuk bisnis antar-Korea dan usaha wisata serta pembukaan membuka kantor penghubung sebagai pembuka untuk peluncuran resmi hubungan diplomatik.

"Gagasan itu sedang dibahas sebagai langkah sementara, bukan sebagai tujuan akhir, untuk mempercepat proses denuklirisasi karena Korut tidak akan menanggapi permintaan untuk deklarasi fasilitas dan senjata," ungkap pejabat senior Korea Selatan, seperti dikutip Reuters.

"Tujuan akhirnya tetap tidak berubah, apakah itudenuklirisasi yang lengkap, dapat diverifikasi, dan tidak dapat diubah, atau denuklirisasi yang final dan sepenuhnya dapat diverifikasi."

Pejabat tersebut mengatakan KTT kedua antara Trump dan Kim mungkin terjadi pada akhir Februari atau awal Maret, meskipun tidak ada yang tahu apa yang dipikirkan Trump.

Sebelumnya, Kim menegaskan kembali tekadnya untuk bertemu Trump lagi selama pertemuan pekan lalu dengan Presiden Cina Xi Jinping.

Trump juga mengatakan bulan ini dia telah menerima surat berisi pujian dari Kim dan mungkin akan bertemu lagi dalam waktu dekat.

"Pada KTT kedua, mereka mungkin akan lebih fokus untuk kemungkinan pencapaian kesepakatan sementara, bukan pada peta jalan denuklirisasi yang komprehensif," kata Cheong Seong-chang, senior partner di Sejong Institute Korea Selatan.

"Apakah Pyongyang bersedia menghapus ICBM, selain menonaktifkan kompleks Yongbyon, akan menjadi tujuan kunci. dan jika bersedia, Korut kemungkinan akan meminta pelonggaran sanksi sebagai balasannya," lanjutnya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia