SABDA RAJA SULTAN : Prabukusumo Memohonkan Maaf Atas Sikap Sultan

GBPH Yudhaningrat bersalaman dengan GKR Pembanyun saat bersama-sama berkunjung di Makam Ki Ageng Giring, di Dusun Giring, Desa Sodo, Kecamatan Paliyan. Senin (4/5/2015). (David Kurniawan/JIBI - Harian Jogja)
04 Mei 2015 21:20 WIB David Kurniawan News Share :

Sabda Raja Sultan membuat sejumlah oran dari keluarga keraton Jogja berziarah untuk memohonkan maaf atas tindakan Sultan tersebut

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL– Sejumlah Keluarga Besar Sultan HB IX berkumpul di makam Ki Ageng Giring di Dusun Giring, Sodo, Paliyan, Senin (4/5/2015). Entah itu terjadi secara kebetulan atau tidak, para kerabat itu melakukan ritual ziarah di makam tersebut.

Beberapa kerabat keraton yang hadir di antaranya, GKR Pembayun dan GKR Bendhoro, GBPH Prabukusumo, GBPH Yudhaningrat, GPBH Candradiningrat didampingi KRT Poerbokusuma atau dikenal RM Acun Hadiwijoyo, Raden Riyo Jaganegara.

Sayangnya, saat coba dikonfirmasi GKR Penmbayun enggan memberikan komentar, dan langsung meninggalkan lokasi makam dengan kendaraan pribadinya.

Sementara itu, GBPH Prabukusumo saat diwawancarai mengatakan, ziarah ini sebagai tindak lanjut atas Sabda Raja yang diungkapkan Sultan beberapa waktu lalu.

“Di sini saya ingin menghadap leluhur dan meminta maaf kepada Allah SWT atas apa yang terjadi akhir-akhir ini. Sebab, apa yang diutarakan Sultan keliru karena tidak sesuai dengan paugeran yang berlangsung selama ratusan tahun,” kata Prabukusumo, Senin (4/5/2015).

Dia menegaskan, apa yang dilakukan oleh beberapa kerabat keraton tidak ada maksud yang buruk, dan dengan tujuan yang baik. Prabukusumo berpendapat, keputusan mengeluarkan Sabda Raja dianggap keliru, serta menyinggung ketentraman para leluhur.

Oleh karenanya, beberapa kerabat melakukan ziarah ke makam Ki Ageng Pemanahan di Kota Gede, kemudian dilanjutkan ke makam Ki Ageng Giring.

“Perubahan Buwono menjadi Bawono, penghapusan sebutan khalifatullah, mengubah perjanjian tentang pendirian Mataram antara Ki Ageng Pemanahan dan Ki Ageng Giring itu tidak tepat. Kalau memang ingin menerapkan hal tersebut, seharusnya mendirikan kerajaan baru,” kata Ketua KONI DIY.

Menurut dia, meski Sultan telah mengucapkan Sabda Raja, perubahan itu tidak bisa serta merta menerapkan hal tersebut, karena proses perubahan membutuhkan waktu yang lama.

Rencananya, beberapa kerabat juga akan berkonsultasi dengan budayawan dan sejarahwan DIY untuk membahas permasalahan ini.

“Ya kami tetap berharap agar Sultan mau merubah keputusannya yang telah dibuat,” serunya.