46 Persen Perpustakaan Kalurahan Bantul Mati Suri, Ini Arahan Bupati
Sebanyak 46 persen perpustakaan kalurahan di Bantul dinyatakan tidak aktif. Bupati Halim instruksikan lima langkah strategis penguatan literasi desa.
Sabda Raja Sultan dikeluarkan secara tiba-tiba, Kamis (30/4/2015)
Harianjogja.com, JOGJA-Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang juga menjabat Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengeluarkan sabda raja, Kamis (30/4/2015) di Sitihinggil, Komplek Kraton.
Namun, kerabat Kraton menilai isi dari sabda raja tersebut, Sultan telah keluar dari adat dan paugeran Kraton.
Menurut informasi, ada lima poin yang diucapkan Sultan dalam sabda raja tersebut, yakni perubahan gelar Buwana menjadi Bawana. Kemudian dalam gelar Kasultanan tidak lagi menggunakan Khalifatullah.
Penyebutan Kaping Sedasa diubah menjadi Kaping Sepuluh. Selanjutnya, Sultan akan mengubah perjanjian antara pendiri Mataram Ki Ageng Pemanahan dengan Ki Ageng Giring. Terakhir, Sultan akan menyempurnakan keris Kanjeng Kyai Ageng Kopek dengan Kanjeng Kyai Ageng Joko Piturun.
Prosesi adat sabda raja ini dihadiri sejumlah krabat Kraton, sentono dalem, dan abdi dalem. Di antaranya Gusti Kanjeng Ratu Hemas, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Hadiwinoto. Sementara Gusti Bendoro Pangeran Haryo (GBPH) Prabukusumo dan GBPH Yudhaningrat tidak hadir.
Namun, GBPH Yudhaningrat membenarkan lima poin sabda raja yang diungkapkan Sultan. Pria yang akrab disapa Gusti Yudho ini mengatakan perubahan gelar sultan bisa merubah semuanya, bahkan lebih jauh bisa merubah perjanjian Kraton dengan NKRI.
Menurut dia, gelar Sultan sudah menyatu dan gelar itu juga sudah diatur dalam Undang-Undang Keistimewaan DIY Nomor 13/2014. Kalau tidak menggunakan Kalifatullah bagaimana? "Gelar dan jeneng menyatu enggak bisa pisah-pisah," kata Gusti Yudho saat dihubungi Jumat (1/5/2015) siang.
Gelar Sultan adalah "Ngarsa Dalem Sameyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Ngalaga Ngabdurrakhman Sayyidin Panatagama Kalifatullah Ingkang Jumeneng Kaping Sedasa Ing Ngayogyakarta Hadiningrat".
Demikian perubahan perjanjian pendiri Mataram Ki Ageng Pamanahan dan Ki Ageng Giring diakui Gusti Yudho merupakan simbol kerajaan Islam yang sudah menyatu. "[Kalau berubah] berarti ada Kraton baru yang dipimpin raja baru." ucap dia.
Klausul sedasa pun, sambung Gusti Yudho, merupakan penghormatan untuk Raja Kraton yang mulia, karena sedasa adalah bahasa jawa inggil. Orang Jogja tidak sampai hati menyebut Sultan Hamengku Buwono dengan yang ke sepuluh karena klausul sepuluh dinilai kasar (ngoko).
Gusti Yudho menegaskan tidak ada maksud untuk menentang raja, namun hanya menyapaikan informasi bahwa perubahan yang akan dilakukan Sultan penuh resiko karena sudah menabrak tatanan adat. "Yang ditabrak adat pokok," tandasnya.
Sementara GBPH Prabukusumo menyatakan sengaja tidak hadir dalam acara adat sabda raja dengan alasan acaranya tidak jelas. Ia menolak mengomentari isi sabda raja, namun membiarkan masyarakat menanggapinya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 46 persen perpustakaan kalurahan di Bantul dinyatakan tidak aktif. Bupati Halim instruksikan lima langkah strategis penguatan literasi desa.
Ledakan gudang bahan peledak di Shan, Myanmar, menewaskan 55 orang dan melukai lebih dari 70 warga. Lebih dari 100 rumah rusak.
Marco Bezzecchi menjuarai MotoGP Italia 2026 di Mugello dan mengaku menghadapi tekanan besar dari publik tuan rumah.
Dukcapil Bantul menggandeng gereja untuk mempercepat penerbitan akta perkawinan, KK, dan KTP baru bagi pengantin non-muslim pada hari pernikahan.
Studi ASCO 2026 menemukan hubungan antara insomnia dan peningkatan risiko kanker usia muda. Kasus kanker onset dini global naik hampir 80% dalam 30 tahun.
Apple dikabarkan mulai mengembangkan iOS 28 untuk 2027. Sistem operasi ini disebut menjadi fondasi iPhone edisi spesial 20 tahun dengan fitur AI lebih canggih.