ROYAL WEDDING NGAYOGYAKARTA : Sultan Pilih Kereta Kyai Wimono Putro

02 September 2013 11:26 WIB News Share :

[caption id="attachment_443357" align="alignleft" width="450"]http://www.harianjogja.com/baca/2013/09/02/royal-wedding-ngayogyakarta-sultan-pilih-kereta-kyai-wimono-putro-443354/kereta-kuda-keraton-desi-suryanto-2" rel="attachment wp-att-443357">http://images.harianjogja.com/2013/09/kereta-kuda-keraton-desi-suryanto.jpg" alt="" width="450" height="265" /> Ilustrasi kereta kuda keraton Ngayogyakarta[/caption]

Raja Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan Hamengku Buwono X akhirnya memilih kereta Kyai Wimono Putra untuk acara Pawiwahan Ageng 22 Oktober mendatang. Bagaimana persiapannya? Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Andreas Tri Pamungkas.

Widodo, 53, abdi dalem Kudo Kraton atau yang mengurusi kuda dan kereta resmi ditunjuk sebagai kusir Sultan dalam
acara pernikahan Gusti Kanjeng Ratu Hayu dengan Kanjeng Pangeran Haryo Notonegoro.

Bagi Widodo menjadi kusir kerajaan dalam acara besar bukan kali ini saja. Saat pernikahan GKR Bendara dan KPH Yudhonegoro dua tahun lalu, Widodo ditunjuk sebagai kusirnya.

Kecintaan Widodo pada kuda dan kereta menurun dari ayahnya almarhum Kanjeng Raden Tumenggung Kudo Wijoyo sebagai abdi dalem Kudo. Sekarang ini, mandat kerap diterimanya dari Gusti Bendara Pangeran Haryo Yudhaningrat, adik Sultan lain ibu untuk menyiapkan kebutuhan kereta.

Maka tak jarang, Widodo pun kerap tidur malam untuk menggelar rapat-rapat kecil. Ataupun mempersiapkan segala kebutuhan itu mulai dari inventarisasi pakaian kuda dan merenovasi kereta yang akan digunakan. “Sekitar jam satu dini hari sekarang baru tidur,” katanya saat ditemui Harian Jogja.

Minggu (1/9/2013), Widodo tengah berada di dalam museum menunggu temannya yang biasa memperbaiki jok kereta Kraton ketika Harian Jogja menyambanginya.

Salah satu dari sekian kereta di museum itu perlu mendapatkan perlakuan khusus untuk Pawiwahan Ageng nanti, yakni, Kereta Kyai Wimono Putro. Wimono berarti titihan/tumpakan dan putro dimaknai Putra Mahkota.

Kereta itu adalah titihan untuk Putra Mahkota. Sri Sultan memilih kereta itu untuk acara Pawiwahan Ageng nanti.
Menurut Widodo, Sultan memilih sendiri kereta itu pekan lalu dengan datang langsung ke museum bersama permaisurinya GKR Hemas.

Sebelumnya, terdapat tiga kereta untuk Sultan yang diuji kelayakan, yakni Kyai Wimono Putro, Harsunobo, dan Jatayu.

Widodo tak mengerti pasti pertimbangan Sultan memilih Kyai Wimono Putro. Sebab jika dilihat dari kondisinya, semua kereta layak digunakan meskipun semuanya sudah lama tak digunakan semenjak HB IX.

Kyai Wimono Putro, kereta dengan ukurang sekitar empat kali dua meter, menurut Widodo, adalah kereta yang didesain sederhana namun terlihat anggun.

Di tiap sudutnya terdapat asesoris lampu berbentuk kotak kaca yang sumber penerangannya berasal dari lilin khusus untuk kereta. Begitu pintu itu dibuka, terdapat lipatan anak tangga dari besi yang dapat difungsikan untuk naik turun Raja dan Permaisuri ke dari kereta.

Selayaknya pada anak tangga pada jenis pesawat tertentu, yang melekat di daun pintunya. Pada lipatan anak tangga itu terdapat tulisan : Ritjuig fabriek G. Barense, Semarang. “Itu perusahaan assembling Belanda di Semarang kala itu,” katanya.

Adapun, pada bagian pintu itu kacanya dapat dibuka tutup namun dengan cara manual. Ada sehelai kain yang menonjol di sudut jendela yang fungsinya untuk menarik kaca jendela. Sehingga jangan dibayangkan seperti teknologi pada mobil saat ini yang tinggal dipencet, kaca mobil dengan mudahnya terbuka dan tertutup.

Kereta itu perlu mendapatkan perlakuan khusus karena jok kursi rusak. Kainnya yang membungkusnya terlihat banyak yang sobek. Selain itu, menurut Widodo, perbaikan akan dilakukan pada bagian tempat duduk kusir yang kainnya juga sudah mulai rusak. Asesoris-asesoris lainnya yang warna emasnya mulai pudar bakal dipoles supaya lebih mengkilap.

Kereta lain yang tengah diperbaiki adalah kereta manten Kyai Jongwiyat. Perbaikan dilakukan dengan pengecetan. Menurut Widodo, jumlah kereta nanti bisa mencapai 12 kereta. Berbeda dengan pernikahan GKR Bendara pada 2011 hanya terdapat paket lima kereta yang membawa pasangan manten, besan, penari, dan utusan dalem pengawal manten.

Sementara pada perhelatan pernikahan kali ini, masih ditambah dengan kereta Raja yang menjadi satu paket dengan dua sampai tiga kereta yang mengangkut adik- adiknya. Belum lagi rombongan kereta KGPA Adipati Paku Alam IX.

“Kanjeng Gusti pakai Kereta Kraton. Ngarso Dalem menunjuk untuk Kanjeng Gusti [Paku Alam] menggunakan kereta Kyai Mondro Juwolo,” ungkapnya.

Adalah kereta Sultan yang terpanjang karena ditarik oleh delapan kuda. Adapun yang lain hanya empat sampai enam kereta. Widodo yang didaulut menjadi kusir kereta Sultan mengaku itu adalah baru untuk pertama kalinya. Kesempatan terakhir menjadi kusir kehormatan adalah ketika menjadi kusir kereta manten GKR Bendara dan KPH Yudhonegoro.

Mendapatkan kesempatan untuk menjadi kusir Sultan, menurutnya, adalah suatu kesenangan tersendiri. Bergulat dengan kuda dan kereta merupakan keinginannya yang muncul dengan sendirinya. Karenanya, sebelum ayahnya meninggal pada 2003, ia sudah memutuskan untuk menjadi kusir di Kraton. “Intinya senang dulu biar bisa menjadi sehati dengan kuda,” katanya.

Menjadi kusir Kraton itu, tambahnya, juga sekaligus untuk melestarikan kebudayaan. “Sekarang ini jumlah kusir Kraton tinggalah sedikit. Genap lima orang saja tidak ada,” katanya.

Menuru Widodo, ada ritual-ritual yang dijalankan terlebih dahulu sebelum menjalankan kereta Kraton. Puasa makan, minum yang dapat semakin menambah perubahan tubuhnya. Tapi hal itu baginya sudah terjalani sekaligus dengan banyaknya kegiatan untuk mempersiapkan kebutuhan kereta.

"Yang terpenting itu amarah dan nafsu. Karena kalau bawaannya marah, bisa jadi malah merusak persiapan karena harus bertemu dengan banyak orang," tuturnya.