Jokowi, Pedagang Kerak Telur dan PRJ Tandingan di Monas

15 Juni 2013 10:01 WIB News Share :

[caption id="attachment_416082" align="alignleft" width="150"]http://www.harianjogja.com/baca/2013/06/15/jokowi-pedagang-kerak-telur-dan-prj-tandingan-di-monas-416081/prj-tandingan-di-monas-antara" rel="attachment wp-att-416082">http://images.harianjogja.com/2013/06/prj-tandingan-di-monas-ANTARA-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /> Foto Wagub DKI, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok Membuka Pekan Produk Kreatif di Kawasan Monas, Jakarta kemarin.
JIBI/Harian Jogja/Antara[/caption]

Berwajah kusut dan tegang. Gubernur DKI Joko Widodo marah ketika mendengar laporan dari tukang kerak telor bahwa mereka harus membayar ratusan ribu rupiah untuk bisa berdagang di seputar kawasan Pekan Raya Jakarta, Kemayoran.

Jokowi, panggilan akrabnya, bukanlah pemimpin yang pandai menyembunyikan perasaan atau berpura-pura. Kemarahannya ketika mendengar nasib tukang kerak telor itu—yang dibantah oleh pengelola PRJ Kemayoran sebagai tidak benar—melambangkan hatinya yang terluka melihat orang kecil mendapat perlakuan tak adil.

Pernyataan keras Jokowi maupun wakilnya, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, mengenai pelaksanaan PRJ Kemayoran, yang mereka nilai semakin jauh dari pesta rakyat dan terlalu komersial itu, memperoleh liputan luas. Pastilah hati pengelolanya, pengusaha Murdaya Poo, jadi tak enak. Masalahnya, investasi untuk menyulap kawasan seluas 44 hektare menjadi arena pameran berkelas tentu tidak kecil. Apalagi, dari tahun ke tahun acara tersebut mendatangkan pemasukan sangat besar.

Keinginan Jokowi-Ahok untuk menghidupkan kembali suasana pesta rakyat dengan membuat semacam PRJ tandingan di Monas, membawa kita kembali ke masa sekitar 40 tahun lalu.

Mereka yang sempat menikmati Djakarta Fair (cikal bakal Pekan Raya Jakarta) pasti memiliki kenangan manis. Jika PRJ Kemayoran berskala besar dan megah, suasana Djakarta Fair Monas di area 7 hektare itu lebih berbentuk pasar malam dan terasa merakyat.

Pada PRJ periode 1970-an itulah warga Jakarta mengenal yang namanya susu kental manis buatan Australia dan Belanda, biskuit Khong Guan, biskuit Roma, ayam panggang (zaman itu daging ayam termasuk sajian mewah), juga American donut. Tak ketinggalan kerak telor yang wajib dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Mudah bagi warga Jakarta untuk sampai ke lokasi karena stasiun besar bus kota ada di Lapangan Banteng. Turun dari bus, tinggal jalan kaki saja ke Monas.

Setelah pindah ke Kemayoran pada 1992, skala pameran pun menjadi lebih besar dan megah. Zaman memang berubah. Jakarta tumbuh pesat menjadi kota megapolitan yang hiruk pikuk, dengan kemunculan pusat-pusat perbelanjaan biasa sampai mewah di mana-mana.

Barang-barang kebutuhan sehari-hari buatan dalam dan luar negeri membanjiri pasar. Anda bisa temukan apa saja di Ibu Kota, asal punya duit!

Angka-angka yang muncul terkait dengan PRJ Kemayoran cukup menggambarkan skalanya. Untuk 2013, peserta pameran ditargetkan 2.650 orang/lembaga, dan 1.280 gerai, dengan jumlah pengunjung 4,8 juta orang. Nilai transaksi diharapkan mencapai Rp4,5 triliun atau setengah triliun lebih tinggi dibandingkan dengan tahun lalu.

Lewat ajang tersebut, semua jenis usaha besar, kecil, menengah hingga mikro bertemu dan menjalin bisnis. Penyelenggara menjamin masyarakat akan puas menyaksikan berbagai produk, pertunjukan music dengan ratusan artis, dan menikmati barang-barang diskon.

Namun untuk menikmati semua itu, warga harus membayar cukup mahal. Tiket masuk pada akhir pekan Rp30.000 per orang—tentu ini memberatkan bagi misalnya seorang buruh bangunan dengan satu istri dan tiga anak. Belum lagi biaya untuk transportasi, makan, minum, serta belanja.

Mereka yang memiliki kendaraan sering kali mengeluh karena susah mendapatkan parkir, letaknya terlalu jauh dari lokasi, atau sejumlah preman memeras pemilik mobil dan motor. Untuk mengatasinya, pengelola PRJ sendiri telah melakukan banyak perbaikan.

Jokowi-Ahok bertindak bijaksana dengan tidak mengutak-atik pelaksanaan PRJ Kemayoran, tetapi membuat sebuah acara serupa dalam skala lebih kecil untuk rakyat sederhana (tiket masuk dijamin tak akan lebih dari Rp2.000), dengan tema besar memberdayakan pengusaha kecil dan mengangkat tema-tema budaya yang selama ini tenggelam dalam kemegahan PRJ Kemayoran.

Pekan Produk Kreatif Daerah 2013, namanya, dan dibuka pada Jumat (14/6/2013) di Monas—dengan persiapan seadanya tentu saja, mengingat waktu yang pendek. PPKD 2013 dan juga PRJ Kemayoran berhak untuk sukses karena keduanya dibuat untuk masyarakat, walaupun tingkatnya berbeda. Jadi, tak perlu dipertentang kan.

Dengan kehadiran PPKD itu warga Jakarta punya pilihan baru dalam mengisi liburan sekolah anak-anak dan memperingati ulang tahun kota tercinta mereka.